KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #31

Kerinduan yang Menyiksa

Kerinduan yang Menyiksa & Misteri Cincin Sulaman Emas

"Satu tahun telah berlalu sejak peristiwa ganjil di Gunung Dempo. Kehidupan berjalan normal di permukaan: Fadhilul dan Fariha telah menikah dan Qoifun tersenyum lebar menatap sahabatnyaGhazi Al-Qhutuz. "Sudah cukup setahun kau melamun menatap gunung itu, kawan. Kemasi jaket oranyemu. Kami akan mengantarmu menemui cintamu lagi!"

─── ❖ πŸ•Œ ❖ ───


BAGIAN 01: DENYUT CEMPAKA DI TEPIAN MUSI

Ratusan Kilometer Kerinduan dan Benang Emas yang Tak Pernah Kusam. Lokasi: Kecamatan Ilir Barat, Kota Palembang (12 mdpl)

━━━━ πŸ‘£ ━━━━

Satu tahun telah berganti di kota Palembang. Deru kendaraan di sepanjang jalan protokol dan gemerlap lampu kota yang memantul di permukaan Sungai Musi tak pernah mampu mengisi ruang sunyi yang menganga di dada Ghazi Al-Qhutuz. Bagi kebanyakan orang di kota pempek ini, waktu mengalir deras seirama dengan hilir-mudik tongkang batu bara dan ketukan tiang pancang pembangunan jembatan penyeberangan. Namun bagi Ghazi, jam dinding di kamarnya seolah berhenti berdetak tepat tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu, pada sebuah senja berkabut di mana hembusan angin belerang memisahkan dua napas yang belum usai berikrar.

Di balkon lantai dua kamarnya yang menghadap lurus ke arah barat dayaβ€”menembus tirai jelaga kota menuju siluet samar Gunung Dempo yang membentang ratusan kilometer di kaki langit Pagaralamβ€”Ghazi menatap cincin sulaman emas di jari manis kirinya. Benda itu bukan perhiasan lumrah yang ditempa pandai besi di Pasar 16 Ilir. Cincin tersebut dirajut dari benang keemasan sehalus serat sutra laba-laba purba, memeluk sebuah batu kristal cempaka jingga kemerahan sebesar biji saga.

Anehnya, meski telah setahun terpapar udara lembap tepian sungai, keringat dingin, dan debu khatulistiwa, benang emas itu sama sekali tidak pernah kusam atau memudar. Justru sebaliknya, setiap kali malam merambat menuju titik sepertiga akhir, kristal cempaka di puncaknya berdenyut pelan. Denyutan itu mengeluarkan hawa hangat yang merambat menelusuri urat nadi pergelangan tangannya, berirama teratur menyerupai detak jantung seorang manusia yang sedang tertidur lelap dalam dekapan rindu.

Setiap kali Ghazi memejamkan kelopak matanya barang sejenak, deru klakson di jembatan layang lenyap seketika, digantikan oleh suara alunan kidung telaga yang kembali terngiang di telinganya. Alunan vokal lirih tanpa lirik aksara moderen, berirama pelog purba Besemah yang seakan ditiupkan dari seruling bambu perak di atas air kawah berwarna toska. Kidung itu memanggil namanya bukan dengan suara getaran pita suara, melainkan getaran batin yang membuat relung dadanya ngilu.

"Ghazi..." suara lembut ibunya dari balik pintu kayu memecah lamunan yang telah berlangsung berjam-jam itu. Gagang pintu berderit halus. "Fadhilul dan kawan-kawanmu datang berkunjung di ruang tamu. Mereka membawa barang banyak sekali, Nak."

Ghazi tersentak pelan. Ia menarik napas panjang, merapikan kaus katun hitamnya yang sedikit kusut, lalu menyembunyikan jemarinya sejenak ke dalam saku celana. Dengan langkah perlahan menuruni anak tangga kayu ulin rumah panggung keluarganya, aroma kopi robusta seduh pekat yang baru dihidangkan ibunya mulai menusuk hidung, berpadu dengan aroma minyak telon dan kain parasut antiair yang sangat ia kenal.

─── 🧭 πŸ•Œ 🧭 ───


BAGIAN 02: TIGA BELAS JANJI DI ATAS PETA KONTUR

Ketika Persahabatan Menolak Membiarkan Hati Membatu Sendirian. Lokasi: Ruang Tamu Keluarga Al-Qhutuz, Palembang (14 mdpl)

━━━━ πŸ‘£ ━━━━

Ketika Ghazi menginjakkan kakinya di ruang tamu berlantai terakota itu, pandangannya seketika terpaku. Ketiga belas sahabat karibnya sejak masa kuliah pecinta alam telah duduk melingkar di atas karpet permadani Palembang. Di tengah-tengah lingkaran mereka, di atas meja jati bundar yang biasanya hanya memuat toples kue kering, terbentang selembar peta topografi Gunung Dempo skala 1:25.000 keluaran Badan Informasi Geospasial terbaru. Garis-garis kontur ketinggian warna cokelat pekat tampak dipenuhi coretan pensil merah dan stiker penanda koordinat.

Di sudut-sudut ruangan, bersandar tiga belas ransel carrier berkapasitas enam puluh hingga delapan puluh liter. Matras gulung, pasak tenda dome aluminium, kompor lapangan butana, tabung gas mini, serta gulungan webbing dan tali kernmantle telah terikat rapi dalam simpul-simpul standar ekspedisi rimba gunung. Mereka tidak sedang merencanakan tamasya akhir pekan; ini adalah sebuah armada penjelajah yang dipersiapkan matang laksana hendak mengarungi palung terdalam samudra.

Fadhilul, pemuda berwajah tenang dengan kacamata berbingkai tipis yang selalu menjadi navigator dan pemegang kompas tim, mengangkat kepalanya dari lembar peta. Di sampingnya duduk Ilham yang sedang memeriksa daftar logistik makanan berkalori tinggi, Rian dan Farhan yang sibuk menguji headlamp LED, serta Bayu, Hendra, Arga, Dimas, Reza, Taufiq, Satria, dan Danu yang saling bertukar tali prusik.

Dan di sisi meja terdepan, Qoifunβ€”pemuda bertubuh kekar dengan senyum paling lebar dan tawa paling lantang di antara mereka semuaβ€”tersenyum lebar menatap sahabatnya yang masih terpaku di ambang pintu. Qoifun bangkit berdiri, meraih sehelai jaket windbreaker oranye terang yang tergantung di sandaran kursi kayu, lalu melemparkannya tepat ke dada Ghazi.

"Sudah cukup setahun kau melamun menatap gunung itu dari balik jendela, kawan!" seru Qoifun, suaranya menggelegar hangat memecah keheningan ruangan. "Kemasi jaket oranyemu. Kami tidak akan membiarkanmu menjadi manusia separuh bayangan di kota ini. Malam ini juga, kami akan mengantarmu menemui cintamu lagi!"

Ghazi menangkap jaket oranye itu dengan kedua tangannya yang sedikit bergetar. Kain jaket itu terasa dingin, namun jaket itulah yang dulu membungkus tubuhnya saat ia terkulai membeku di bibir kawah setahun silam sebelum sepasang tangan gaib berselendang hijau lumut menyelamatkan jiwanya dari jurang kematian.

"Kalian... tidak perlu melakukan ini untukku," bisik Ghazi, suaranya serak menahan desakan emosi yang membuncah di pangkal tenggorokan. "Gunung Dempo bukan bukit perkemahan biasa. Kalian tahu betul apa yang terjadi tahun lalu. Kabutnya bisa menelan kesadaran, dan batas antara yang bernyawa dan yang tak kasatmata di sana begitu tipis. Jika kalian ikut, kalian mempertaruhkan nyawa untuk ilusi yang bahkan tidak bisa kupastikan wujudnya."

Fadhilul meletakkan penggaris protraktornya di atas peta, lalu berdiri menghampiri Ghazi. Ia menepuk pundak sahabatnya itu dengan tatapan mata yang kokoh tanpa keraguan sedikit pun.

"Dengarkan aku, Ghazi," ucap Fadhilul dengan nada berwibawa yang selalu menenangkan seluruh anggota tim dalam situasi terburuk di belantara. "Sejak kita mengucapkan sumpah rimba di jeram Lematang lima tahun lalu, kita sudah berjanji: tidak ada satu pun dari kita yang tertinggal di belakang, baik saat didera badai es maupun saat didera badai kesunyian hati. Kami melihat cincin di jarimu. Kami mendengar caramu bernapas saat menyebut nama 'Mayang'. Jika telaga itu memanggilmu, maka telaga itu memanggil kita bertiga belas. Kami saudaramu, dan kami tidak akan membiarkanmu mendaki gerbang kabut itu seorang diri."

Ilham mengacungkan botol bahan bakar spiritus sambil tersenyum simpul. "Logistik ransum sudah kuhitung cukup untuk delapan hari penuh, Ghazi. Beras merah, kurma, cokelat hitam, daging dendeng buatan Mak-mu, hingga peralatan medis hipotermia lengkap. Dua mobil elf sewaan sudah menunggu di depan lorong gang. Jika kau butuh waktu packing tas pribadimu, kami beri waktu lima belas menit. Lebih dari itu, kami seret kau masuk mobil!"

Tawa serentak meledak di ruang tamu. Ketegangan yang mengendap selama dua belas bulan di benak Ghazi mendadak mencair. Di jari manisnya, kristal cempaka itu berdenyut tiga kali berturut-turut dengan irama lebih kencang, memancarkan gelombang hangat yang menjalar hingga ke ubun-ubunnya. Ghazi meremas jaket oranyenya, mengangguk mantap, dan tersenyum untuk pertama kalinya dalam setahun penuh. "Beri aku sepuluh menit. Kita berangkat ke Pagaralam!"

─── 🧭 πŸ•Œ 🧭 ───


BAGIAN 03: MENEMBUS SELIMUT KELAM LINTAS ENIM

Tujuh Jam Perjalanan Darat Menuju Kaki Sang Raksasa Besemah. Lokasi: Jalan Lintas Sumatera: Muara Enim – Lahat – Pagaralam (650 mdpl)

━━━━ πŸ‘£ ━━━━

Lihat selengkapnya