KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

Selendang Emas, di Puncak Dempo

SELENDANG EMAS DI PUNCAK DEMPO

Kisah Penuntasan Amanah Ghazi, Ketiga Belas Sahabat, dan Ikrar Abadi Bersama Putri Kemuning

─── ❖ πŸ•Œ ❖ ───


=== Pembukaan: Di Bawah Naungan Sang Ratu Kahyangan ===

Aroma tanah basah, bayang purba Dempo, dan hening wisma kayu di ujung ladang teh

━━━━ πŸ‘£ ━━━━

"Ada malam-malam di mana langit dan bumi tidak lagi berjarak, disatukan oleh sehelai benang cahaya yang dirajut doa orang-orang setia."

Dingin Pagaralam selalu memiliki cara tersendiri untuk merasuk ke dalam tulang sumsum. Bukan dingin yang membekukan darah hingga mati rasa, melainkan dingin yang membawa serta aroma getah teh muda, lumut basah dari hutan primer lereng Dempo, dan desau angin purba yang telah melintasi lembah Besemah selama berabad-abad.

Malam itu, dingin tersebut diselimuti sesuatu yang jauh lebih luhur. Purnama raya menggantung bundar sempurna tanpa segores pun awan kelabu yang berani melintas di hadapannya. Langit berwarna nila pekat seolah terbasuh oleh lelehan cairan perak yang memancar dari piringan rembulan, menjatuhkan cahaya magis ke atas hamparan kebun teh yang bergelombang bagai samudra hijau zamrud yang tertidur lelap.

Di tepi kebun teh yang paling dekat dengan jalur pendakian rimba, sebuah wisma tua berdinding papan kayu unglen berdiri kokoh. Di pelataran depannya, aroma seduhan teh hitam panas mengepul perlahan dari cangkir-cangkir tembikar, menyatu dengan helaan napas empat belas pemuda yang duduk berdampingan tanpa banyak bicara.

Selama berjam-jam, mereka hanya memandangi puncak Gunung Dempo yang menjulang setinggi 3.159 meter di atas permukaan laut. Siluet kerucut raksasa itu tampak begitu dekat di bawah siraman bulan perak, seolah-olah siapa pun yang merentangkan tangan ke angkasa dapat menyentuh kawah puncaknya yang menyimpan seribu rahasia keramat.

Di tengah-tengah keheningan yang sarat makna itu, seorang pemuda duduk dengan tatapan lurus ke arah punggungan gunung. Namanya Ghazi. Wajahnya teduh, diterpa kilau keperakan bulan yang membuat garis rahangnya tampak kokoh namun damai. Di jari manis tangan kanannya, melingkar sebuah cincin perak berpahat halus, bertatahkan sulaman serat berwarna keemasan yang mulai bergetar pelan seiring malam yang kian larut.

Semua orang di teras wisma itu tahu bahwa malam ini bukanlah malam perkemahan biasa. Ini adalah malam penuntasan takdir yang telah ditangguhkan selama tiga ratus enam puluh lima hari.

─── 🧭 πŸ•Œ 🧭 ───


=== Bagian 01: Ikrar di Jurang Badai Belerang ===

Mengenang hari ketika empat belas pengelana terjebak di batas maut dan sebuah sumpah dilafalkan

━━━━ πŸ‘£ ━━━━

"Seorang pemimpin sejati tidak mengukur kejayaannya dari puncak yang ia taklukkan, melainkan dari berapa banyak nyawa yang berhasil ia bawa pulang ke pelukan ibu mereka."

Kenangan tentang hari itu kembali berputar di benak Ghazi dengan ketajaman yang tak pernah memudar. Tepat satu tahun yang lalu, di musim penghujan yang ganas, empat belas pemuda yang menyebut diri mereka saudara pengelana mendaki lereng barat Gunung Dempo. Mereka adalah pemuda-pemuda yang haus akan keindahan alam dan misteri leluhur, tak menyadari bahwa gunung purba itu sedang menguji ketulusan hati mereka.

Di ketinggian dua ribu delapan ratus meter, tepat ketika mereka melintasi igir cadas sempit yang membatasi hutan lumut dengan kawah aktif, badai siklon mendadak menerjang tanpa aba-aba. Langit siang seketika runtuh menjadi gelap gulita. Hujan es bercampur uap belerang pekat menyergap dari bibir kawah, melumpuhkan kompas, memutus jarak pandang hingga kurang dari setengah rentangan tangan, dan mengubah jalur tanah berbatu menjadi luncuran lumpur mematikan.

Fadhilul, yang saat itu berjalan di barisan paling depan, tergelincir di tubir jurang dan hampir terlempar ke celah batu beracun jika Ghazi tidak menyambar pergelangan tangannya. Tiga sahabat lainnyaβ€”Farhan, Aryan, dan Bachtiarβ€”mulai kehilangan kesadaran akibat menghirup gas sulfat yang terperangkap dalam pusaran angin dingin. Suhu tubuh mereka anjlok ke batas hipotermia akut.

Kala maut hanya berjarak beberapa embusan napas, kabut di sekeliling mereka mendadak membeku. Di tengah kepulan asap belerang yang memedihkan mata, muncullah sesosok wanita bertubuh anggun semampai, mengenakan kemben selendang kuning keemasan berhiaskan kuntum-kuntum melati hutan yang mekar abadi. Kulitnya bersinar laksana rembulan yang dibungkus kabut sutra, dan tatapan matanya sedalam telaga kawah di kala fajar.

Dialah sang penguasa sukma kawah Dempo, sosok yang dalam kidung-kidung tua Besemah dipuja sebagai Putri Kemuning.

"Tempat ini bukanlah pekarangan manusia fana, Anak Adam," suara sang putri terdengar laksana gita genta perak yang ditiup angin lembah. "Hutan ini menuntut tebusan atas kelancangan langkah-langkah kalian. Salah satu dari kalian harus tinggal di alam keabadian ini, menemani kesendirian sang puncak selamanya, atau badai ini akan menelan kalian semua hingga tak bersisa tulang belulang."


Tanpa ragu sedetik pun, Ghazi melangkah maju ke depan ketiga belas sahabatnya yang terkapar tak berdaya. Ia menundukkan kepala dengan takzim, meletakkan tangan kanannya di dada.

"Aku yang memimpin mereka ke puncak ini, wahai Ratu Kahyangan," ucap Ghazi lantang, mengalahkan deru badai belerang. "Maka akulah yang pantas tinggal bersamamu. Namun izinkan aku meminta satu kemurahan: jangan ambil jiwaku sekarang. Sahabat-sahabatku memiliki ibu yang menunggu di serambi, anak-anak yang belum mengenal wajah ayahnya, dan janji-janji yang belum tertunaikan. Beri aku waktu satu tahun penuh untuk menuntun mereka turun dengan selamat, menyelesaikan semua tanggungan duniaku, dan menyerahkan mereka kembali ke pangkuan keluarganya. Tepat pada malam purnama raya setahun dari sekarang, aku bersumpah demi langit dan bumi akan kembali seorang diri untuk menjadi milikmu selamanya."

Putri Kemuning menatap lekat ke dalam bola mata pemuda itu, mencari setitik kepalsuan atau ketakutan. Namun yang ia dapati hanyalah ketulusan yang murni tanpa pamrih. Sang putri tersenyum teduh. Dari jemarinya yang lentik, terlepas seutas benang emas yang kemudian melilit jari manis Ghazi, memadat menjadi cincin sulaman bertatahkan perak purba.

"Pegang ikrarmu, Ksatria," bisik sang putri sebelum sosoknya memudar bersama reda berhentinya badai secara ajaib. "Jika kau berkhianat, gunung ini akan menuntutnya dengan murka. Namun jika kau menepatinya, puncak ini akan menyambutmu bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai belahan jiwaku."

─── 🧭 πŸ•Œ 🧭 ───


=== Bagian 02: Empat Musim Menuntaskan Amanah ===

Perjalanan melintasi tanah seberang, menyambung tali persaudaraan, dan melepaskan ikatan duniawi

━━━━ πŸ‘£ ━━━━

"Kematangan jiwa seseorang tampak bukan dari keberaniannya menyongsong bahaya, melainkan dari kesetiaannya melunasi janji sekecil zarah sebelum ia pergi."


Lihat selengkapnya