
Kawah Dempo Bermandikan Cahaya Purnama Keemasan
Kisah puncak cinta abadi Ghazi Al-Qhutuz dan Putri Kemuning Alamiyah dalam dekapan sang gunung purba.
─── ❖ 🕌 ❖ ───
### Bagian 01: Menembus Batas Belerang dan Gerbang Hening Purba
*Kawah Dempo bermandikan cahaya purnama keemasan. Danau toskanya tenang laksana kaca cermin surga, tak ada lagi gelegak belerang atau amukan kabut hitam.*
━━━━ 🕌 ━━━━
Malam itu, di ketinggian tiga ribu seratus lima puluh sembilan meter di atas permukaan laut, semesta seolah menahan napasnya dalam ketakjuban yang hening. Angin badai yang selama berbulan-bulan melolong buas menyapu tebing-tebing curam kaldera Gunung Dempo mendadak surut menjadi hembusan yang begitu santun dan sejuk, menyisakan keheningan agung yang merambati setiap celah batuan andesit purba. Tak ada lagi suara gemuruh berat dari perut bumi yang biasanya menggetarkan tulang-belulang para penjelajah rimba. Tak ada lagi letupan lumpur mendidih yang menyemburkan aroma belerang menyengat dan uap beracun ke udara dingin Pagaralam. Semuanya luruh, tunduk dalam kepasrahan malam yang teramat suci.
Kawah Dempo malam ini bermandikan cahaya purnama keemasan. Langit di atas Tanah Besemah begitu bersih tanpa sehelai pun awan kelabu yang berani melintas, memperlihatkan kubah cakrawala luas yang bertabur jutaan permata gemerlap tak bertepi. Tepat di pusat kaldera raksasa yang membisu, danau toskanya terbentang tenang laksana kaca cermin surga. Permukaannya yang semula sering bergolak dalam amukan kabut hitam pekat dan letupan gas solfatara mematikan, kini memantulkan bundaran rembulan purnama secara sempurna tanpa sedikit pun riak yang mengaburkannya. Air kawah itu tampak begitu bening sekaligus magis, memancarkan kedalaman yang tak terduga oleh akal budi manusia fana.
Bagi siapa pun yang pernah mendaki gunung berapi purba di perbatasan Sumatera Selatan dan Bengkulu ini, pemandangan malam itu adalah sebuah kemustahilan mistis yang melampaui segala hukum alam. Kawah Dempo yang masyhur dengan wataknya yang garang, angker, tak kenal kompromi, dan kerap menelan korban yang tersesat dalam kepekatan gas beracun, malam ini berubah wujud menjadi istana kedamaian yang tiada tara di kolong langit Nusantara. Cahaya kuning tembaga dari sang rembulan meresap perlahan ke dalam air danau yang berwarna hijau toska, melahirkan gradasi warna zamrud kemilau yang berdenyut lembut seirama dengan detak jantung sang bumi.
Di punggung tebing cadas yang membingkai bibir kawah sebelah barat, sepasang sepatu bot kulit yang telah koyak dan tertutup debu vulkanik menjejakkan langkahnya yang terakhir. Ghazi Al-Qhutuz berdiri tegak di tepi bibir jurang batu terjal. Jubah kanvas lusuhnya yang robek oleh cengkeraman duri-duri cantigi hutan lumut berkibar pelan ditiup semilir angin malam, menampakkan tubuh kokoh yang selama setahun penuh telah ditempa oleh kelelahan tanpa akhir, sayatan batu karang, dan kepedihan rindu yang nyaris merenggut kewarasannya.
Tiga ratus enam puluh lima hari bukanlah waktu yang singkat bagi seorang pemuda berdarah fana untuk berjalan di tapal batas antara dua alam. Setahun yang lalu, di tempat yang sama persis dengan pijakannya saat ini, ia terpaksa melepaskan genggaman tangan wanita yang paling ia muliakan demi menutup kembali retakan pintu gaib yang mengancam menumpahkan amukan magma ke tanah kelahirannya. Saat itu, kawah ini adalah neraka jahanam yang bergolak buas; kabut hitam pekat bergulung-gulung bagai siluman lapar, halilintar merah menyambar puncak Merapi Dempo bertubi-tubi, dan jeritan kepedihan tenggelam di balik raungan batuan cair yang mendidih.
Namun malam ini, seluruh amarah bumi telah reda. Kutukan berdarah yang mengikat kaldera purba ini telah sirna, digantikan oleh kesucian janji yang tetap utuh melintasi ruang, waktu, dan dimensi takdir. Ghazi menurunkan tudung kepalanya perlahan, membiarkan rambutnya yang panjang sebahu dibelai dinginnya udara malam yang menyejukkan. Matanya yang tajam menatap ke dasar kaldera yang berjarak puluhan meter di bawahnya. Napasnya terengah bukan karena menipisnya kadar oksigen di puncak tertinggi Pasemah, melainkan karena getaran batin yang luar biasa hebat saat dadanya menangkap sebuah pendar cahaya yang sudah amat ia kenali.
─── 🧭 🕌 🧭 ───
### Bagian 02: Sosok di Tepian Telaga Zamrud dan Panggilan Jiwa
*Di tepian telaga kawah yang memancarkan pendar zamrud, sesosok wanita berdiri dengan gaun tenun sutra bersulam benang emas yang berkibar lembut ditiup angin sejuk. Di lehernya, peluit kompas milik Ghazi tergantung berkilau.*
━━━━ 🕌 ━━━━
Di tepian telaga kawah yang memancarkan pendar zamrud yang menyala misterius, sesosok wanita berdiri dengan keanggunan yang melumpuhkan segala kesombongan akal budi manusia. Ia bukan ilusi optik dari pembiasan kabut belerang, bukan pula fatamorgana yang dilahirkan oleh keputusasaan pikiran seorang pengelana yang kelelahan menahan dahaga jiwa. Wanita itu nyata, mewujud dalam balutan gaun tenun sutra bersulam benang emas khas kain songket kebesaran Besemah purba yang berkibar lembut ditiup angin sejuk pegunungan.
Kain tenun sakral itu bukanlah tenunan buatan tangan manusia fana; setiap helai benang kencananya memancarkan cahaya halus yang mandiri, meliuk-liuk bagai sulur-sulur tanaman surgawi di taman nirwana yang tak pernah mengenal layu. Selendang tipis berwarna kuning gading tersampir anggun di pundaknya, melayang-layang di udara laksana sepasang sayap kupu-kupu emas yang baru terbangun dari persemayaman seribu tahun di perut gunung. Kulit sang putri seputih gading yang dibasuh embun pagi hutan lumut, dan sepasang matanya yang teduh menyimpan kedalaman samudra hikmah yang tak terukur oleh nalar fana mana pun.
Namun, yang membuat degup jantung Ghazi berhenti berdetak sejenak bukanlah keelokan paras sang putri kahyangan yang tiada tanding. Pandangan matanya langsung terkunci pada sebuah benda logam kecil yang menggelantung tepat di leher jenjang sang putri. Di sana, tepat di atas belahan dadanya yang berdetak dalam ritme yang anggun, peluit kompas milik Ghazi tergantung berkilau memantulkan cahaya rembulan purnama.
Peluit kuno berbahan kuningan tembaga itu adalah warisan tunggal dari almarhum ayahnya, seorang pemandu jalan rimba legendaris di kaki Dempo yang menanamkan keberanian di dadanya sejak ia kanak-kanak. Sebuah perkakas sederhana yang memadukan jarum penunjuk mata angin dan lubang tiup berfrekuensi nyaring yang dahulu selalu ia gunakan untuk memandu rombongan ekspedisi menembus lebatnya belantara Bukit Barisan. Di malam perpisahan mereka setahun silam, saat dinding dimensi kahyangan hendak menutup selamanya akibat retakan segel kaldera, Ghazi melepaskan tali kulit peluit itu dan mengalungkannya ke leher Kemuning sebagai janji setia: ke mana pun arah kompas berputar di dunia, jiwanya hanya akan selalu menunjuk pulang ke tempat sang putri berada.
Kemuning tak pernah melepaskan kalung peluit itu barang sedetik pun. Di alam keabadiannya, di mana waktu berhenti bergulir dan keabadian sering kali menghapus ingatan tentang dunia fana, peluit kompas itu telah menjadi sauh hatinya. Benda kecil berbahan logam kasar yang masih menyimpan aroma keringat dan tekad membara seorang manusia fana itu menjadi pengingat abadi bahwa di luar sana, di bawah naungan langit fana yang rentan oleh usia dan kerapuhan raga, ada seorang pemuda yang sedang mempertaruhkan seluruh hembusan napasnya demi kembali menjumpainya.
Sang putri mengangkat wajahnya perlahan ke arah tebing cadas tempat Ghazi berpijak. Sorot matanya yang bening membelah kegelapan malam, menyatu dengan tatapan Ghazi yang penuh kerinduan. Bibir mungilnya yang merah merekah dalam keharuan yang tak lagi sanggup ia bendung.
"Ghazi..." bisik suara itu.
Bisikan itu teramat lirih, hampir serupa dengan desau angin malam yang menyapu permukaan air kawah toska. Namun bagi telinga Ghazi, suara itu menggema dahsyat menggetarkan seluruh relung kalbunya, membuyarkan kesunyian purba puncak Dempo, meruntuhkan dinding-dinding kepedihan masa lalu, dan menyapu bersih setiap keraguan yang selama setahun ini selalu hidup di dalam mimpi-mimpinya yang paling sepi.
─── 🧭 🕌 🧭 ───