Bismillah, Siti Kawa...
Kunikahen ko orom kuyu,
Wih kin walimu, tanoh kin saksimu,
Lo kin saksi kalammu.
(Bismillah, Siti Kawa...
Kunikahkan engkau dengan angin,
Air sebagai walimu, tanah sebagai saksimu,
Matahari sebagai saksi bicaramu.)
Dalam tradisi masyarakat di dataran tinggi Gayo di masa lampau, merapal doa Siti Kawa adalah sebuah kewajiban batin sebelum jemari menyentuh dahan kopi. Tak ada niat menduakan Sang Pencipta dalam kalimat-kalimat puitis tersebut.
Alih-alih pemujaan, itu adalah sebuah tata krama; cara mereka menyapa alam dengan santun agar pohon-pohon kopi itu sudi berbagi rezeki. Penamaan Siti sendiri memaksudkan sebagai simbol kesuburan yang bersifat feminin, karena kemampuannya untuk menghasilkan buah. Sedangkan Kawa, berakar dari bahasa Arab—Qahwah, yang berati kopi.
Di tanah ini, adat dan syariat telah lama berpadu dalam harmoni, seperti aroma tanah yang menyatu dengan embun pagi. Tradisi yang masih ada di beberapa pelosok tanah Gayo sampai sekarang.
———
Takengon, Aceh Tengah, 1931.
Kumala merapal doa itu dengan khusyuk. Baginya, kopi-kopi itu bukan sekadar tanaman biasa, melainkan personifikasi Siti Kawa yang harus dipuji dan disapa sebelum tangannya mulai memanen.
Beberapa saat kemudian jemari lentiknya bergerak terampil, memilih dan memetik buah-buah kopi matang di perkebunan kecil milik keluarganya. Kedua tangannya bekerja lincah, memetik satu demi satu buah yang merah lalu menjatuhkannya ke dalam rege, wadah anyaman bambu yang terikat erat di pinggangnya.
Setiap kali tangannya bergerak, terdengar bunyi kresek halus dari gesekan wadah, dahan dan dengan kain sarungnya. Gadis cantik itu bersenandung kecil, suaranya berpadu dengan desau angin di pucuk pepohonan. Di kejauhan, di pangkal pohon kopi yang paling besar, tampak keranjang miliknya menunggu untuk diisi jika wadah di pinggangnya sudah penuh nanti.
Sekonyong-konyong, dari balik rimbunnya rerumputan yang menutupi kaki Kumala, seekor musang pandan berwarna cokelat keabuan melesat keluar, menerjang kakinya. Menengok ke arah Kumala sekejap, lalu berlari cepat ke arah rindangnya pohon alpukat yang berada diantara pohon-pohon kopi.
“Auuuw...! Astaghfirullah!” pekiknya.
“Astaghfirullah, sana ara Engi Mala? Sana si jadi?”
“Ara musang munerjang kidingku!”
“Oooh, kusangke nipe. Murayoh ke kidingmu? tanya Mutia sembari bergegas mendekat dengan wajah memucat. Ia menyangka adiknya digigit ular dan berdarah kakinya.
Kumala meringis, ia mengangkat kaki kanannya untuk memeriksa punggung kakinya yang cuma lecet sedikit.
“Gere Aka, cume serlut tikik,” kata Kumala, menenangkan.
“Betul, ke?!”
“Iye,” sahutnya pelan sambil mengangguk kecil, seperti meyakinkan pada dirinya sendiri.
Kumala mengusap dadanya, mencoba menenangkan jantung yang masih berdegup kencang. Matanya mengikuti arah lari hewan tadi yang kini sudah hilang di balik rimbunnya daun alpukat. Rasa kagetnya mulai berganti dengan rasa geli. Mengira musang itu yang lebih kaget melihat dirinya.
"Musang oya kirene gintes munengon aku, Ka,” tambahnya, dengan senyum tipis.
"Gere biase musang a luah porak lo lagu ni,” gumam Mutia.
Mutia sepertinya khawatir akan ada hal buruk yang terjadi. Entah itu datangnya bencana, kemalangan, atau peristiwa tragis. Musang adalah hewan nokturnal. Kemunculannya di siang hari seolah membawa pesan yang tak terbaca dari dalam rimba.
Dalam kepercayaan lokal, hewan yang keluar dari pola alaminya sering dianggap sebagai pemberi isyarat atau pembawa aura tertentu yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang peka.
Kumala merasakan aura itu. Ia terdiam sejenak, membiarkan semilir angin nakal membelai wajahnya yang termenung. Sorot matanya yang lembut dan teduh dengan bulu mata lentik, tetap saja memperlihatkan keteguhan hati. Keteguhan yang tak akan dia kompromikan dengan sesuatu atau apapun yang dapat merenggut harga dirinya.
Gadis itu merapikan kelubungnya, kain sarung yang dililitkan sedemikian rupa di atas kepala hingga membentuk tumpukan kain yang kokoh. Juntaian kainnya menutupi tengkuk, melindunginya dari semut pohon dan tajamnya dahan kopi.
Di bawah lilitan kain yang sedikit miring itu, tatapannya lurus tak berkedip. Ia hanya menggunakan ujung kain yang menjuntai di bahu untuk menyeka sedikit peluh di dahi, tanpa melepas tumpukan kokoh di kepalanya.
“Hoooy! Enti miyen lino, Ipak!" seru Mutia memecah keheningan, meminta adiknya jangan melamun terpaku lagi.
Kumala hanya membalas dengan senyum simpul tertahan di sudut bibirnya. Dia malu tertangkap basah sedang melamun oleh kakaknya.
Seiring matahari yang semakin meninggi, aroma manis buah kopi yang ranum mulai menyeruak dari dalam rege di pinggangnya, seolah Siti Kawa sedang membalas doa yang dipanjatkannya tadi dengan keberkahan yang melimpah.
Kumala melangkah mendekati keranjangnya yang bersandar di pangkal pohon lamtoro. Ia melepas ikatan wadah dengan hati-hati. Dengan satu gerakan tangan yang terampil, ia membalikkan wadah itu ke dalam mulut keranjang yang terbuka lebar.
Brublukbrublubruk!
Ratusan biji kopi jatuh terdengar renyah beradu dengan keranjang anyaman bambu. Beberapa biji merah melenting, berserakan di tanah lembap.
“O Tuhen! Munilang pe kupi ni,” gumam Kumala.
Ia berjongkok, memunguti butiran yang tumpah itu dengan telaten. Tak dibiarkannya satu pun "permata merah" itu tertinggal. Setelah memastikan keranjangnya rapi, ia mengikat kembali wadah kosongnya, siap melanjutkan bergelut di rimbun dahan kopi.
Biji-biji kopi yang sudah matang, merahnya dalu. Terlihat kontras di sela dedaunan hijau tua. Saat dipencet, kulitnya yang tipis pecah mengeluarkan lendir bening yang beraroma manis mangedet—khas buah hutan yang masak sempurna.
“Beu ni kupi ni, mangedet olok.”
Kumala terdiam sejenak, mengusap bekas goresan di kakinya yang sempat diterjang musang tadi.
Ketika Kumala menengadah, pagi menjelang siang terasa lamban bergulir. Awan yang berarak di atas langit Kampung Blang Gele semakin lama saling bertaut, membentuk gumpalan kecil.
Beberapa saat kemudian, gumpalan kecil itu sudah berkompromi membentuk gumpalan besar berwarna hitam pekat.
Matahari yang tadinya menyengat seketika redup, tertutup emun tebel, kabut pekat yang turun dengan cepat dari puncak bukit. Angin pegunungan yang lembap mulai menusuk kulit.
“Nge nyejuk, Ipak. Teduh kite mulo,” seru Mutia mengajak adiknya beristirahat, sambil mengusap wajah dengan ujung kain kelubungnya.
Mutia merogoh kantong anyaman pandan kecil yang tergantung di pinggangnya. Dengan cekatan, tangannya mengambil selembar daun sirih, mengoleskan sedikit kapur, dan menjepit seiris pinang di dalamnya.