KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #2

MALAM DIDONG DI PELATARAN MERSAH

Malam itu, di dalam kamar yang hanya diterangi lampu tempel yang sumbunya sudah pendek, suasana terasa sibuk dan riuh. Kumala berdiri di depan cermin oval, mematut-matut baju kurung berwarna merah delima miliknya.

"Ipak, coba pakai yang ini. Warna hijau lumut ini lebih cocok dengan kulit kau yang bersih," seru Mutia sambil menyodorkan sehelai baju lain dari dalam lemari. Sebagai kakak yang usianya sudah menginjak 24 tahun, Mutia merasa punya tanggung jawab untuk memastikan adiknya menjadi yang paling bersinar di mersah nanti.

Kumala tertawa kecil, "Aka saja pakai yang hijau. Aku ingin pakai merah ini, supaya Siti Kawa tahu aku sedang bersyukur karena panen kita bagus tahun ini."

"Ah, kau ini! Selalu saja bawa-bawa pohon kopi," goda Mutia sambil membedaki wajahnya dengan pupur dingin yang harum melati. "Tapi dengar, Ipak, di mersah nanti pasti banyak pemuda dari kampung bawah. Sali juga pasti ada di sana. Jangan sampai kau melamun di depan mereka!"

Wajah Kumala memerah, ia segera sibuk merapikan sanggulnya agar Mutia tidak melihat senyum malu-malunya. Mereka sibuk bersolek, sebuah ritual khas gadis Gayo yang ingin tampil mampat—cantik dan rapi di acara adat. Tak lupa menyelipkan daun nilam dan bunga cempaka kering di balik lipatan baju kurung, sebagai pewangi alami.

Selesai berdandan, mereka keluar ke ruang tengah. Disana, Ama sedang duduk melinting tembakau, menatap kedua putrinya dengan mata yang teduh.

"Ama, ayolah ikut kami ke mersah. Malam ini ada didong jalu. Pertandingan didong antara kubu Kampung Gele Lah melawan kubu dari arah Takengon. Pasti ramai sekali!" ajak Kumala sambil menggelayut manja di lengan ayahnya.

Aman Gading terkekeh, asap rokoknya mengepul lambat. "Gere, Ipak. Ama nge tue, sudah payah badannya. Lagipula, telingaku tidak sanggup lagi mendengar tepukan bantal sampai subuh. Biarlah Ama jaga rumah saja."

"Tapi Ama, ini didong jalu yang paling ditunggu!" Mutia menimpali.

"Sudahlah, pergilah kalian berdua. Hati-hati di jalan, bawa obor yang terang. Jangan pulang terlalu larut jika didongnya belum selesai.”

"Baik Ama, kami berangkat dulu, Assalamualaikum!" seru kedua putrinya.

"Wa'alaikumussalam!" balas Ama, lembut.

Mata tuanya terus memandangi punggung anak-anaknya hingga menjauh. Seiring pintu yang tertutup perlahan, embusan angin pegunungan yang tajam menyelinap masuk, menerpa kulit keriputnya.

Di luar, malam yang cerah menyambut dengan taburan bintang, bagaikan permata. Dinginnya pegunungan Gayo yang berada di ketinggian sekitar 1400 mdpl, seolah lumer oleh kehangatan cahaya obor yang berbaris di sepanjang jalan setapak menuju mersah.

Kumala berjalan di samping Mutia, langkah mereka ringan setelah lelah memetik kopi seharian. Ia mengenakan baju kurung terbaiknya, sementara upuh ulen-ulen tersampir anggun di bahu, menutupi sebagian dadanya yang berdegup karena semangat.

Dari kejauhan, suara gedebuk bantal tepok yang dipukul serempak mulai terdengar, beradu dengan suara melengking para ceh, si penyanyi didong.

"Nge mulai, Ipak. Cepet kite!” seru Mutia sambil mempercepat langkahnya menuju pelataran mersah yang sudah dipadati warga.

Sesampainya di sana, suasana sudah tumpah ruah. Cahaya obor dan lampu petromaks bekerja sama menerangi pelataran dan dinding mersah yang terbuat dari papan pinus berwarna kecoklatan gelap oleh getahnya yang menua.

Kumala dan Mutia mengambil tempat di serambi luar. Keduanya duduk bersimpuh di atas tikar pandan. Ini adalah etika yang dijunjung tinggi; penonton wanita berada di area yang lebih tinggi atau terpisah, menjaga jarak terhormat dengan penonton pria.

Di sekeliling mereka, percakapan para penonton terdengar riuh.

"Kudengar kubu dari Takengon membawa ceh baru yang suaranya bisa memecah kesunyian hutan!" bisik seorang ibu pada teman di sebelahnya.

"Ah, jangan salah, kubu kita punya pantun teka-teki yang lebih tajam dari parang!" sahut yang lain dengan bangga.

Kumala terdiam, matanya terpaku pada dua kelompok laki-laki yang sudah duduk bersila saling berhadapan. Suasana mendadak hening saat wasit adat berdiri. Ini adalah didong jalu, sebuah pertarungan harga diri lewat kata-kata dan tepukan bantal.

Plak-plak-dug!!

Tepukan pertama meledak serempak, menggetarkan lantai mersah. Suara itu bukan sekadar musik, melainkan detak jantung masyarakat Gayo yang sedang merayakan didong. Di atas panggung, kesenian sakral ini mulai memamerkan kekayaannya; sebuah paduan seni suara dan puisi yang ritmenya lahir dari hantaman telapak tangan ke atas gerpelen di pangkuan para pemain.

Suasana makin panas saat mereka mulai saling berbalas syair, melempar kiasan dan teka-teki, hingga menyelipkan kritik sosial yang tajam ke dalam dendang.

Suasana pelataran mersah malam itu seolah bergetar. Dua kelompok laki-laki duduk bersila saling berhadapan, tangan mereka bergerak lincah menepuk bantal di pangkuan dengan irama yang makin lama makin cepat.

Plak-plak-dug! plak-plak-dug!

Desis lampu petromaks yang digantung di pelataran ikut meramaikan obrolan dan tawa riuh penonton. Cahayanya sangat terang, menandakan kaus lampunya baru diganti. Di tanah Gayo, mersah memang bisa beralih fungsi dari tempat sujud yang khidmat menjadi ruang musyawarah, tempat menginap para pemuda, atau panggung seni yang riuh seperti malam ini.

Sali sudah siap dengan penampilan terbaiknya. Ia menggenggam gerpelen erat-erat, sesekali melirik ke arah Kumala di barisan penonton. Malam ini, kelop kubunya dari Gele Lah harus menghadapi lawan berat dari Blang Kolak.

Sali tahu, saat mungerel—teknik menjerat lawan dengan teka-teki—dimulai, tepukannya tak boleh meleset sedetik pun.

Begitu ceh lawan melemparkan teka-teki peri mestike, suasana mersah biasanya akan senyap sesaat. Di saat itulah, Sali harus tetap siaga; jika ceh, penyanyi kampungnya berhasil menjawab, ia harus langsung menyambutnya dengan ledakan tepukan bantal yang mantap agar mereka tidak "kalah suara" di depan seluruh warga, terutama di depan mata Kumala.”

Kelompok Blang Kolak memulai serangan. Suara ceh utama melesat tinggi, memulai teknik mungerelnya yang melengking panjang:

"Angin oh angin, ke mana kau pergi? Tak berbadan, tak berkaki. Makan tidak, minum pun tidak, tapi dengarkah kau siapa yang memanggil?"

DUG!!

Tepukan bantal mereka berhenti mendadak. Senyap. Seluruh penonton wanita di serambi condong ke depan, menahan napas. Sali merasakan telapak tangannya berkeringat di atas gerpelen. Jika kelompoknya terdiam lebih dari beberapa detik, seruan "Gere mampue!" akan meledak dari penonton dan mempermalukan mereka.

Lihat selengkapnya