Sreeek! Suara kayu bergeser saat Aman Gading membuka jendela papan rumah mereka, membiarkan udara pegunungan yang menggigilkan badan masuk bersama sisa kabut tebal.
Di sudut dapur, Mutia sedang meniup bara api untuk menjerang air, namun matanya tak lepas dari Kumala yang sedang merapikan upuh ulen-ulennya di depan cermin oval peninggalan Ine.
"Ipak, benar kau mau pergi?" bisik Mutia. Suaranya serak, bukan karena dingin, tapi karena cemas yang menghimpit dada sejak semalam. "Aku bermimpi... ada musang masuk ke dalam rumah kita dan mencuri bantal Ine."
Kumala berhenti merapikan sanggulnya. Ia menatap kakaknya lewat pantulan cermin. "Mimpi hanya bunga tidur, Aka. Aku harus pergi agar Ama tidak perlu memecah batu di jalan raya. Hanya sebentar."
"Tuan Belanda itu... matanya tidak benar, Mala," Mutia mendekat, membetulkan letak kain adiknya dengan tangan gemetar. "Hati-hati. Jangan bicara jika tidak ditanya. Dan jangan pernah melepaskan kain ini dari bahu kau."
Ama berdehem, memecah ketegangan di antara kedua putrinya. Ia melangkah mendekat.
"Sali sudah menunggu di bawah pohon nangka. Ama sudah bicara dengannya di persimpangan jalan kemarin sore, memintanya untuk menjagamu sampai gerbang Wilhelmina…” orang tua itu mengalihkan pandangannya sebentar ke kantor di bukit, lalu mengusap bahu anaknya dengan lembut. “Dia lelaki yang baik dan jujur, tidak akan membiarkan kau berjalan sendiri."
Kumala mengangguk pelan, mencium tangan Ama yang kasar dan penuh kapalan. Ada rasa bersalah saat ia melihat binar harapan di mata ayahnya—harapan bahwa urusan lahan ini akan selesai dengan baik.
"Berangkatlah, Ipak!"
"Terimakasih Ama," ucap Kumala lirih.
Gadis itu melangkah menuruni tangga rumah panggung dengan hati seberat keranjang kopi . Kabut masih betah bercokol di pucuk-pucuk kopi, saat Kumala menapakkan kakinya yang beralaskan selop kulit kalep dari sisa kulit olahan, yang dipakainya cuma pada acara-acara penting.
Ia mengenakan baju kurung berwarna hijau lumut, namun upuh ulen-ulen yang tersampir di bahunya tampak membuat Kumala terlihat menonjol di balik sisa kabut tebal.
Di bawah pohon nangka, Sali sudah berdiri tegak. Pemuda itu tampak gelisah, sesekali ia memperbaiki letak sewah, belati khas Gayo di balik sarungnya.
Sebagai petugas kerani di Gudang Wilhelmina, Sali bertugas mendata jumlah timbangan biji kopi, memastikan upah buruh serta mengecek kualitasnya. Posisi yang cukup tinggi dan terhormat di masyarakat Gayo. Dia tahu persis betapa dinginnya tembok kantor yang akan mereka tuju.
Demi bisa mengantar Kumala, Sali sudah meminta izin kerja paruh waktu pada atasannya, seorang asisten administrateur berkebangsaan Belanda.
"Nge siap, Ipak?" tanya Sali pelan. Menjaga jarak dan tidak menatapnya langsung.
"Sudah, Sali. Terimakasih mau menemaniku. Mari berangkat!"
Perjalanan satu kilometer itu dilewati dalam keheningan yang menyesakkan. Saat mereka mulai memasuki kawasan perkebunan Belanda, suasana berubah. Sayup-sayup terdengar suara mesin pemecah kulit kopi, teriakan weger, si tukang timbang dan omelan mandor gudang.
Saat gerbang tiang beton putih Wilhelmina mulai terlihat, detak jantung Kumala semakin kencang. Di kejauhan, bangunan kantor besar yang berdinding batu kelabu tampak angkuh di atas bukit. Kaca-kaca jendelanya memantulkan cahaya matahari pagi yang kekuningan. Hangat tapi menggigilkan hati Kumala.
Mereka terus melewati kawasan kebun hingga sampai di gerbang utama. Dua opas penjaga menghentikan langkah mereka di depan palang kayu. Namun, begitu melihat seragam kerani yang melekat di tubuh Sali, salah satu dari mereka segera mengubah sikap.
“Ada maksud apa, Kerani Sali?” tanyanya sambil mengangkat palang pintu.
”Saya mengantar adik bertemu Tuan Besar untuk urusan lahan.”
“Masuklah!”
Palang kayu terangkat, memberi jalan bagi Kumala untuk melangkah masuk ke halaman yang rumputnya terpangkas rapi. Di tahap berikutnya, seorang opas yang duduk di pos jaga mencatat nama, waktu masuk, dan keperluan di buku tamu.
Di koridor kantor yang panjang, dua orang centeng pribumi berbadan besar dan tegap, bersandar di pilar beton, mengawasi kedatangan Kumala dengan senyum yang menjijikkan. Mereka bukan orang Gayo. Perusahaan perkebunan sengaja mendatangkannya dari daerah lain untuk menciptakan jarak emosional dan sosial.
Tatapan mereka menyisir gadis itu dari kain ulen-ulen hingga selop, seperti sedang menilai harga seekor ternak di pasar.
"Heh, lihat itu," bisik salah satu centeng yang punya bekas sayatan di dahi sambil meludah ke tanah. "Mangsa baru untuk Tuan Adriaan. Sepertinya Tuan Besar bosan dengan kuli perempuan dari Jawa, sekarang dia ingin mencicipi ‘bunga gunung’."
"Jangan bicara sembarangan," timpal centeng satunya yang berwajah seperti pemakaman tua tak terawat, sambil tertawa rendah. "Gadis Gayo itu keras kepala. Tapi di depan bedil dan emas, keras kepala pun bisa jadi selembek bubur.”
“Ck, ck, ck... Masih segar," balas centeng pertama sambil menyeringai, hingga gigi mancungnya yang berkerak kecoklatan karena tembakau, terlihat jelas.
Mereka memperhatikan langkah Kumala dengan tatapan lapar yang tidak dapat disembunyikan. Di mata centeng-centeng itu Kumala bukan lagi manusia, melainkan seonggok daging premium yang sedang lewat sambil menguliti setiap lekuk tubuhnya.
“Coba kau lihat bibirnya! Ssshh… Bibir begitu kalau sudah di depan Meneer pasti bakal bungkam," centeng gigi mancung itu menyeringai sambil memejamkan mata, membayangkan nikmatnya mengulum bibir Kumala yang sensual.
“Kenyal menantang. Jenis bibir yang bisa bikin pria waras mendadak lupa ingatan dan rela menukar bedilnya demi satu kecupan,” sambungnya.
“Ya, kau benar. Tapi aku lebih senang kalau diijinkan mengintip apa yang ada di balik baju kurungnya,” timpal si centeng berwajah makam tua sambil matanya menerawang.
Kumala memang kembang gunung Blang Gele. Siapa pun pria berotak mesum yang melihatnya pasti akan seketika menelan air seni, maaf—air liur maksudnya.
la merasakan telinganya panas. Kata-kata itu terasa lebih menyakitkan ketimbang tertusuk duri pohon kopi.
Sali mendengar sayup-sayup bisikan itu. Langkahnya terhenti, tangannya refleks meraba hulu sewahnya. Namun Kumala menyentuh lengan Sali, menggeleng pelan sebagai isyarat agar tidak terpancing. Mereka terus berjalan, menanjak sedikit ke arah gedung kantor.
"Aku akan terus mendampingi, sampai kau ke luar dari kantor ini dalam keadaan utuh!"
Kumala terpana sesaat. Tidak menyangka Sali akan berkata seperti itu.
"Jika nanti Tuan Adriaan itu bicara yang aneh-aneh, jangan kau lawan dengan amarah, Mala," bisik Sali tanpa menoleh. "Orang Belanda itu punya hukum yang mereka buat sendiri. Kita hanya punya kebenaran."