KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #4

RAHASIA DI BALIK PINTU JATI

Sesampainya di rumah, Kumala langsung menuju pancuran bambu di samping kolong rumah.

Ia membasuh wajah dan kakinya berulang-ulang dengan air pegunungan yang sejuk menyegarkan, berharap air itu bisa melunturkan jejak lantai tegel kantor Belanda dari kulitnya.

"Nge ulak, Ipak? Sana cerak ni Tuan Belanda oya?!” sambut Aman Gading dari serambi atas rumah. Suaranya terdengar penuh semangat, tak sabar ingin segera tahu apa yang dikatakan Adriaan.

Kumala menyeka wajahnya dengan ujung kain ulen-ulennya, lalu naik ke tangga kayu setinggi orang dewasa yang mengeluarkan suara kriet-kriet, ketika diinjak.

Di ruang tengah, Aman Gading sudah menunggu dengan rokok lintingnya. Sementara, Mutia sedang sibuk di dapur menyiapkan makan siang—nasi putih hangat, sayur masam jing yang rasanya asam pedas berisi pucuk labu, terong, kacang koro dan ikan depik goreng yang aromanya memenuhi ruangan.

"Duduklah Ipak, makan dulu!" ajak Aman Gading dengan senyum lebar yang jarang diperlihatkan. "Tadi Ama gelisah sekali, jangan-jangan Manur Karto datang membawa truk untuk angkut Ama ke jalan raya."

Kumala duduk bersimpuh di tikar pandan, "Tuan Besar bilang lahan kita aman, Ama. Dia hanya minta kita tetap rajin mengurus kebun."

"Alhamdulillah!" Aman Gading menepuk tangannya ke paha. "Berarti benar kata orang, Tuan Besar itu meskipun Belanda, dia masih punya hati. Allah pasti sudah membisikkan doa kita ke telinganya."

Kumala menunduk dalam, menyuap nasi yang rasanya hambar seperti sekam. Setiap kata syukur dari ayahnya bagaikan hantaman palu di kepalanya. Ia tahu, ketenangan Ama hari ini dibeli dengan janji pertemuan minggu depan yang mengerikan itu. Ia merasa seperti pengkhianat di rumahnya sendiri.

Ini perlindungan dariku. Tapi ingat, perlindungan ini ada harganya. Aku ingin kau datang lagi minggu depan. Sendirian. Tanpa pemuda yang menunggumu di ruang bawah.’

Kata-kata itu masih terngiang jelas di kuping Kumala. Menembus ke dalam gendang telinga, lalu tersimpan rapi di memori pikirannya.

Mutia, yang duduk di seberang Kumala, tidak bicara sepatah kata pun. Ia hanya memperhatikan adiknya dengan mata yang menyipit penuh curiga. Sebagai kakak, ia tahu adiknya sedang memikul beban yang sangat berat.

Kecurigaan itu terus menggantung hingga matahari sore mulai merendah, menyebarkan warna jingga yang hangat di atas pancuran bambu di samping rumah.

Namun, bagi Kumala, kehangatan itu tidak terasa. Ia berjongkok di depan sebuah tong kayu besar, kedua tangannya terbenam dalam tumpukan biji kopi yang sudah dikupas kulit merahnya dengan alat manual dari kayu.

Kegiatan muniles—mencuci lendir biji kopi sambil digosok dengan tangan—biasanya adalah saat yang paling menyenangkan. Bagi seorang petani, suara gesekan biji-biji kopi di dalam air jernih terdengar seperti nyanyian syukur.

Namun sore ini, Kumala melakukannya dengan kalap. Ia menggosok biji kopi itu dengan tenaga berlebih, seperti sedang mencoba mengikis sesuatu yang menjijikkan dari telapak tangannya sendiri.

Suara gesekan antara biji kopi itu terdengar kasar, tidak beraturan. Tidak terdengar seperti nyanyian syukur. Lebih mirip omelan petani yang jemuran biji kopinya diberaki ayam.

"Ipak, pelan-pelan. Bisa pecah bijinya kalau kau tekan begitu," tegur Mutia yang duduk di balik tong kayu, di seberang Kumala.

Kumala tidak menyahut. Ia terus meraup biji-biji kopi itu, membiarkan lendir beningnya melumuri jemarinya. Lendir itu licin, lengket, dan terasa sulit dibersihkan—persis seperti perasaan yang tertinggal setelah tangannya sempat bersentuhan dengan jemari dingin Adriaan van der Vlies di kantor besar tadi.

Air yang tadinya bening berubah berwarna keruh kecoklatan dan berbuih setelah digunakan mencuci biji-biji kopi, bagai metafora kesucian Kumala yang mulai terancam.

Air pancuran bambu itu terus mengucur, jernih dan dingin, namun Kumala mencuci biji kopi itu dengan gerakan yang kaku. Tangannya meraup lendir bening yang licin, namun pikirannya tertinggal di lantai tegel kuning kantor perkebunan Wilhelmina.

Mutia memperhatikan dari seberang tong kayu. "Ipak, kau dari tadi diam saja. Apa Tuan Belanda itu mengancam kau soal lahan Ama?"

Kumala menggeleng cepat tanpa menatap kakaknya. "Gere, Aka. Dia hanya... banyak bicara hal yang tidak kupahami."

Matahari sore yang tadinya jingga mulai tertutup awan mendung yang datang tiba-tiba. Suara gemericik air pancuran terasa kian nyaring dalam kesunyian mereka, bagai seorang jaksa yang menuntut Kumala untuk menumpahkan rahasianya sebelum kegelapan emun tebel merayap naik.

Kegelapan yang sama juga mulai menyelinap ke sudut-sudut gudang Wilhelmina, memaksa Sali memerintahkan tukang timbang menyalakan lampu minyak di atas meja kerjanya.

Pemuda itu sedang sibuk mencatat jumlah timbangan biji kopi dari tiap buruh yang antri datang ke mejanya untuk mengambil kupon upah. Ia juga memeriksa kualitas kopi secara acak, untuk memastikan layak di proses pada tahapan berikutnya.

Bunyi berdebum karung goni berisi biji kopi yang dihempaskan serta mesin diesel pengupas biji kopi yang berisik, tak bisa mengalihkan pendengaran Sali dari percakapan gosip di belakang mejanya.

Di sudut gudang, dua buruh penyortir sedang duduk bersila, tangan mereka lincah memisahkan biji kopi yang pecah sambil berbincang dengan suara rendah.

"Kau dengar kabar dari kantor pusat tadi?" bisik salah satunya, matanya melirik ke arah kantor administrateur di atas bukit. "Katanya, Tuan Besar mengirim Mandor Karto untuk menjemput "bunga gunung"dari lereng bawah untuk urusan lahan.

"Aah, lahan hanya alasan," timpal yang lain sambil terkekeh pahit. "Tuan Adriaan itu, kalau nafsunya sudah naik, hukum Belanda pun dia lipat masuk saku. Ingat si Sumiati, buruh Jawa dari barak tiga? Sejak masuk ke sana bulan lalu, sekarang matanya selalu sembab dan jalannya seperti orang kehilangan nyawa. Padahal aku sudah berjuang habis-habisan demi mendapatkan hatinya".

Cuiih!

Si buruh membuang ludah di lantai.

Percakapan dua buruh itu membuat sang kerani menghentikan catatannya. Karung di timbangan ingin ia banting ke arah para pembisik itu. Ia tahu "bunga gunung" yang mereka maksud adalah Kumala. Mereka tidak mengetahui, kalau Sali sendiri yang mengantarkan Kumala menemui Tuan Adriaan. Pun tidak tahu jika Sali dan Kumala saling mengenal.

Sali menghirup udara dengan berat, lalu menghembuskannya dengan cepat. Di bawah atap Wilhelmina, petromaks yang bergoyang karena angin, mengajak bayangan karung goni ikut serta dalam tarian tak beriramanya.

Lihat selengkapnya