KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #5

BERKAH DI ANTARA EMUN TEBEL

Suara gedebeg, bedug dari mersah bertalu-talu membelah kesunyian Blang Gele, getarannya merambat melalui tiang-tiang kayu rumah panggung yang masih dikepung kabut tebal.

Di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya redup lampu teplok—karena sumbunya dikecilkan demi mengirit minyak— Kumala terjaga. Embusan udara pegunungan yang sangat dingin menyelinap dari celah dinding papan, memaksanya merapatkan upuh jebel, selimut dari berlapis kain.

"Nge Soboh, Ipak," bisik Mutia yang sudah lebih dulu bangun. Ia menyingkap tirai kain kamar adiknya.

Kumala hanya membalas dengan senyuman kecil sambil bangkit dari tempat tidur. Meski sedikit enggan, gadis itu tetap beranjak mengikuti kakaknya untuk mengambil air wudhu.

Bunyi derit tangga kayu saat diinjak mengantar langkah kaki mereka turun ke pancuran bambu di samping tuyuh umah. Airnya mengucur deras, bening dan dingin. Saat air wudhu itu menyentuh wajahnya, Kumala tersentak pelan. Dinginnya ternyata mampu mencuci segala noda ketakutan yang sejak beberapa hari lalu mengerak di hatinya.

Mereka shalat berjamaah dengan sajadah anyaman daun pandan. Prinsip Agama ku syariet, edet ku peratun menjadi napas bagi setiap sendi kehidupan di sana. Adat diposisikan sebagai pagar yang menjaga syariat tetap utuh di tengah masyarakat.

Di kolong rumah, terdengar suara kambing yang mengembik halus, meminta jatah rumput, sementara ayam-ayam mulai turun dari dahan pohon nangka.

Setelah bersujud di tikar pandan beraroma bunga melati yang sering digosokkan di atasnya, Kumala mendengar langkah kaki Aman Gading yang pulang dari mersah. Ayahnya masuk membawa aroma tanah basah dan sisa zikir yang masih mengendap di bibirnya.

"Nge itaruh Allah soboh si jeroh kin kite, Ipak," ucap Aman Gading sambil menatap ke arah ufuk timur yang menyemburatkan cahaya kemerahan. Ia percaya, cuaca pagi yang cerah itu adalah pemberian Tuhan yang harus disyukuri.

Pria tua itu menghela napas panjang, lalu melanjutkan, "Kedang ni tanda surat ari Belanda e asal berkat kin keluarga kite. Tuhen gere nome.”

Ama meyakini surat jaminan lahan dari pemerintah kolonial itu sebagaii jawaban atas doa mereka. Baginya, itu adalah bukti nyata bahwa Tuhan tidak pernah tidur dalam melihat kesulitan hamba-Nya.

“Betul, Ama. Alhamdulillah.” Kumala tersenyum getir, menunduk dalam, agar ayahnya tak melihat kabut di matanya. Tapi bagi Kumala, setiap detik yang berlalu adalah detak jantung yang semakin dekat menuju hari kehancurannya—hari di mana ia harus menyerahkan segalanya demi senyum tenang ayahnya itu.

Dengan langkah teratur yang membawa semangat hidup, pria 62 tahun itu kemudian menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian kerja sehari-hari.

Matahari mulai mengintip dari balik celah dedaunan kopi, cahaya hangatnya mengusir kabut yang perlahan naik ke puncak bukit. Di kolong rumah kesibukan pagi sudah dimulai.

Mutia berjongkok di samping kambing betina yang bulunya masih lembap oleh embun. Tangannya yang terampil mulai memerah, terlebih dulu puting susunya dioles minyak kelapa. Sekejap saja cairan putih memancar sedikit demi sedikit ke dalam batok kelapa, ditingkahi embikan manja hewan itu.

Aroma gurih susu segar langsung menyeruak memenuhi batok kelapa yang berada di tangan kiri Mutia. Susu yang tak seberapa banyak ini sengaja diperas Mutia untuk dicampur dengan telur hangat; jamu penguat stamina tubuh sebelum ia dan Kumala menggendong biji kopi serta gulungan bako ijo untuk dibawa ke ruko Tauke Lim di pasar Takengon.

"Ipak, coba lihat di sarang jerami dekat kandang! Tadi kulihat si burik sudah turun, biasanya telurnya masih hangat-hangat," seru Mutia, yang masih sibuk dengan kambingnya.

Kumala melangkah ke kolong rumah yang gelap. Ia menyibak tumpukan jerami kering, yang debunya terlihat beterbangan dalam sorotan cahaya matahari pagi. Benar saja, lima butir telur ayam kampung yang hangat dan permukaannya halus ada di sana. Ia membawanya dengan hati-hati, agar tidak ada satupun yang terjatuh.

Di atas rumah, terdengar suara srat-sret dari ketam tangan yang sedang menyerut kayu baru dari pohon nangka. Aman Gading sedang sibuk memperbaiki meja kucak yang renggang dan kakinya patah satu. Meja kecil berkaki pendek itu memang sudah lama sekali dipakai untuk meletakkan cangkir kopi atau makanan kecil.

Sesekali ia berhenti, menyapu serutan kayu yang menempel di punggung tangannya, membuang lapisan kasar hingga serat kuningnya yang bersih mulai terlihat. lalu mengukur kecocokan kayu pada lubang kaki meja itu.

Tok-tok-tok! Palu memukul pasak, menghujam dalam agar mengunci kaki meja dengan kokoh. Tidak perlu waktu lama untuk membuat meja kecil itu berdiri tegak dan siap digunakan lagi.

Selesai memperbaiki meja kecil, Ama bersiap turun dari serambi sambil memakai jembolang, kain penutup kepalanya.

"Ipak, rumput di lereng bawah sepertinya sudah menipis. Pagi ini Ama mau cari ke arah lereng atas saja, biar kambing kita kenyang," ucap Aman Gading saat Kumala naik membawa telur.

"Iya, Ama. Tapi jangan terlalu jauh, nanti hujan turun lagi," sahut Kumala. Ia menatap punggung ayahnya yang masih terlihat kokoh meski rambutnya sudah memutih. Hati Kumala perih; ayahnya begitu fokus pada urusan perut kambing dan perabot rumah, tapi tidak menyadari putrinya sedang menghitung jam menuju kehancuran.

Baru saja Ama ingin turun dari tangga, suara langkah kecil terdengar dari jalan setapak di depan rumah. Inen Siti, seorang tetangga nyinyir yang bibirnya selalu merah karena sirih, berhenti di depan halaman tempat mereka mulai menghamparkan tikar pandan untuk menjemur kopi.

"Aih, Aman Gading! Senangnya hati ya, sekarang sudah jadi 'orang dalam' Wilhelmina," sindir Inen Siti sambil mendongak ke serambi di atas.

"Kudengar Mandor Karto sampai datang sendiri mengantar surat sakti. Pasti kopi kalian nanti dibeli oleh pabrik dengan harga dua kali lipat, ya?"

Kumala terhenti saat hendak menghamparkan biji kopi. Kalimat itu seperti tamparan.

"Bukan begitu, Inen. Itu hanya urusan lahan yang simpang siur," jawab Aman Gading tenang dari serambi, mencoba meredam rasa iri tetangganya.

"Aaaah, jangan merendah begitu, Aman! Beruntung sekali Kumala punya wajah cantik, Belanda pun jadi luluh hatinya," timpal Inen Siti dengan nada setajam parang, sebelum berlalu menuju rumahnya.

Kumala meremas tepian tikar pandannya. Di mata orang kampung, mereka beruntung jadi kesayangan penjajah. Padahal, hanya dinding rumah panggung inilah yang tahu betapa Kumala ingin membakar surat berstempel ungu itu dan kembali menjadi pemetik kopi biasa yang tak dilirik siapapun.

Kalimat Inen Siti yang setajam parang itu masih menyisakan perih di hati Kumala, bahkan saat ia sedang sibuk menata biji-biji kopi di atas tikar pandan.

Di serambi rumah, Aman Gading hanya berdehem, mencoba mengabaikan kecemburuan sosial yang baru saja melintas di halamannya.

"Ama," Mutia bersuara sambil mencuci tangannya yang masih berbau susu kambing. "Persediaan garam dan minyak tanah kita sudah menipis. Ikan depik kering pun sudah tandas. Saya dan Kumala berencana ke pasar Takengon hari ini. Ada sedikit hasil bumi yang bisa kami barter."

Aman Gading menatap kedua putrinya. Ia tahu jarak tujuh kilometer ke pasar itu bukan perjalanan yang ringan, karena jalanan menuju Bireuen saat itu masih berupa pengerasan batu dan tanah yang sempit.

Menunggu truk—yang akan membawa kopi ke Bireun yang selanjutnya dipindahkan ke kereta api menuju Pelabuhan Belawan di Medan—di area pabrik jauh lebih aman, ketimbang berdiri menunggu di bahu jalan yang rawan longsor atau becek.

"Kudengar hari ini pabrik akan mengirimkan kopi ke Bireun. Menumpanglah kalian pada Aman Mar. Jangan mencegatnya di jalan raya. Datangi saja dia.”

Setelah mendapat izin ayahnya, Kumala dan Mutia segera bersiap. Menyampirkan upuh kerudungnya di kepala. Di dalam bakul anyamannya, tersimpan beberapa liter kopi pilihan dan sedikit tembakau yang akan ditukar dengan kebutuhan dapur.

Lihat selengkapnya