Dini hari di Blang Gele bukanlah waktu yang ramah. Kabut tebal menyelimuti pucuk pohon-pohon kopi, dan hawa dingin menusuk kulit.
Di bawah bayang-bayang pohon lamtoro yang tinggi, tiga bayangan bergerak tanpa suara. Mereka adalah Aman Agam—si kuli panggul bertubuh kekar, dan dua buruh pemetik senior.
"Sudah kalian celup?" bisik Aman Agam, suaranya parau tertutup deru angin.
Salah seorang pemetik kopi, Inen Mege, mengangguk cepat. Tangannya yang kasar dengan kuku-kuku hitam penuh getah kopi menarik dua karung goni dari dalam aliran air parit yang menuju ke pabrik.
Karung itu tampak bengkak, serat-serat goninya yang cokelat kusam kini berubah warna menjadi gelap dan jenuh. Di dalamnya, biji kopi yang seharusnya ringan kini menjadi beban mati yang menipu.
Kabut di Blang Gele tak pernah benar-benar pergi; ia hanya bersembunyi di balik batang-batang kopi arabika yang rimbun, menunggu matahari terpeleset di balik perbukitan untuk kembali menyergap.
Aman Agam berdiri mematung. Matanya yang merah karena kurang tidur melirik ke arah parit kecil yang membelah kompleks perkebunan Wilhelmina. Air pegunungan yang dingin telah meresap sempurna ke dalam pori-pori biji kopi mentah di dalamnya.
"Jangan sampai menetes di lantai semen gudang," Aman Agam peringatkan lagi. "Sali punya mata seperti elang. Dia bisa mencium bau air di antara ribuan karung kopi.
Inen Mege hanya mendengus." Gaji dari Meneer Belanda itu hanya cukup untuk beli garam. Kalau bukan begini cara kami mencari sedikit minyak tanah, anak-anak kami hanya akan makan ubi rebus setiap hari."
Aman Agam memanggul karung itu. Beratnya terasa tidak wajar. Normalnya, satu karung penuh berisi kopi yang baru dipetik hanya 100 kati—berat setara 60 kilogram yang bisa dibawa kuli dengan langkah stabil—tapi karung yang basah ini bisa menekan pundaknya hingga hampir 120 kati.
Di balik celana hitamnya yang longgar, ia juga meraba saku rahasia di paha dalamnya. Sudah ada dua genggam kopi kualitas terbaik yang ia "tabung" di sana sejak subuh tadi.
Di depan pintu gudang yang megah, Sali berdiri tegak. Meja kayu jatinya diletakkan tepat di samping timbangan gantung besar berbahan kuningan yang dikirim langsung dari Rotterdam.
Sali merapikan kemeja katunnya yang licin—hasil setrikaan arang yang ia kerjakan sendiri semalam. Di telinga kanannya terselip pena celup dengan mata pena yang sedikit berkarat dan di depannya tergeletak buku besar bersampul kulit kerbau.
Bagi Sali, buku itu adalah "kitab suci". Setiap angka yang ia goreskan di sana adalah janji integritasnya sebagai putra Gayo yang dipercaya memegang jabatan kerani.
"Pagi, Kerani," jawab Aman Agam, suaranya sedikit gemetar.
Aman Agam," sapa Sali tanpa mengangkat kepala dari buku catatannya. Ia mendengar langkah berat saat kuli itu mendekat dan menjatuhkan karung goni ke atas piringan timbangan.
Bbeeegg!!
Tukijo, si tukang timbang menarik napas, lalu menggeser bandul besi di sepanjang batang kayu dacin itu. Ujung dacin yang menahan karung Aman Agam sempat anjlok ke bawah, membuat batang kayunya miring tajam.
Tukijo terus menggeser bandulnya jauh ke arah ujung, melewati gurat angka seratus, hingga perlahan batang kayu itu naik dan berhenti di posisi sejajar yang sempurna.
"Seratus dua puluh!" serunya, lantang.
Sali mendongak. Matanya tajam menatap mata Aman Agam.
"Seratus dua puluh?" Sali bertanya perlahan. "Blok Afdeling C sedang mengalami keajaiban, rupanya. Kemarin rata-rata hanya seratus. Apakah pohon-pohon di sana minum air lebih banyak tadi malam?"
Sali tidak menunggu jawaban. Ia segera meraih talang besi pencolok yang tergeletak di sisi mejanya. Tanpa melepaskan tatapan dari Aman Agam, tangannya menghujamkan pipa besi itu ke perut karung goni yang masih bergetar di atas timbangan.
Sraakk!
Ia menariknya kembali dalam satu sentakan cepat. Di atas talang besi yang kini terjulur di depan matanya, biji-biji kopi itu tidak bergulir jatuh. Mereka diam, menggumpal, dan tampak berkilat oleh sisa air parit yang keruh.
Tiba-tiba seorang pria berkumis melintang dengan ikat kepala yang miring muncul dari balik tumpukan karung. Itu Mandor Jalil.
"Ada apa ini, Sali? Kenapa kau tahan-tahan kerja kuli ini? Waktu adalah uang bagi Meneer," ujar Mandor Jalil dengan nada sok akrab, sembari menyandarkan tangannya di bahu Sali.
Sali meletakkan penanya. "Mandor, karung ini basah. Beratnya bukan berat kopi, tapi berat air parit. Jika saya catat seratus dua puluh, perusahaan merugi dua puluh kati. Siapa yang akan tanggung jawab saat kopi ini menyusut di gudang pengeringan nanti?"
Mandor Jalil tertawa kecil, tawa formalitas yang dibuat-buat.
"Ah, kau ini terlalu kaku seperti talang besi pencolok itu. Kita ini sama-sama orang Gayo, Sali. Mengapa kau lebih peduli pada pundi-pundi emas di Amsterdam daripada perut kuli-kuli kau sendiri? Biarkan saja. Catat seratus dua puluh dan nanti sore, ada sebungkus tembakau pilihan dari ruko Tauke Lim dan sedikit uang lelah untuk kau.
Sali merasakan darahnya berdesir. Ini bukan pertama kalinya ia ditawari “pelicin”.
Pemuda itu berdiri mematung di balik mejanya. Di hadapannya, antrean kuli panggul mengular seperti naga di festival cap go meh. Raut tak sabar menghiasi wajah-wajah kuli yang ingin memastikan upahnya.