KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #7

UPAYA YANG SIA-SIA

Tuan Adriaan baru saja melangkah keluar, meninggalkan bau cerutu yang menggantung di langit-langit gudang. Sali kembali duduk, jemarinya mencengkeram pinggiran meja hingga urat-urat tangannya menonjol.

Ia mencoba fokus pada kolom angka di buku besarnya, namun pendengarannya mendadak menjadi tajam saat dua kuli panggul di antrean belakang—Aman Saban dan seorang pemuda kurus bernama Kasim—mulai berbisik-bisik tepat di belakang kursinya.

Mereka tidak tahu bahwa Kerani muda yang kaku ini memiliki telinga yang bisa menangkap getaran sekecil apa pun di gudang yang bising ini.

"Kau dengar tadi? Tuan Besar bicara soal 'aset baru' di lereng bukit," bisik Kasim sambil menyeka keringat dengan handuk kumal. "Dia pasti memaksudkan si 'Bunga Gunung' dari lereng sebelah."

Aman Saban terkekeh, suara tawanya mengandung ejekan. "Siapa lagi kalau bukan si Kumala? Gadis itu memang ranum. Kecantikannya seperti kopi arabika kualitas terbaik yang baru matang sempurna. Pantas saja Adriaan sampai rela mengeluarkan surat jaminan untuk kebun ayahnya yang cuma sejengkal itu."

Darah Sali mendesir hebat. Ia menekuk patah gagang kayu dan mata pena di tangannya menjadi dua. Krak! Bunyi kayu kecil itu tertelan oleh deru mesin, tapi bagi Sali, itu adalah bunyi harga dirinya yang hancur.

"Katanya, ayahnya si Aman Gading itu nyaris dikirim ke proyek jalan Bireuen kalau si gadis tidak cepat-cepat luluh," lanjut Kasim dengan nada cabul. "Kasihan sekali. Padahal dia terlihat sangat menjaga diri, selalu pakai kain ulen-ulen rapi. Ternyata, demi surat jaminan Belanda, nanti kain itu juga akan tanggal."

Sali menutup matanya rapat-rapat. Setiap kata yang keluar dari mulut mereka terasa seperti siraman air keras ke dalam telinganya. Mereka membicarakan Kumala seolah gadis itu hanyalah satu karung kopi sisa yang bisa ditawar di pasar gelap.

Mereka tidak tahu betapa sucinya doa-doa yang dipanjatkan Kumala, atau betapa kerasnya gadis itu bekerja di kebun kecilnya demi menjaga martabat ayahnya.

"Sudahlah," sahut Aman Saban lagi. "Itu nasib orang kecil. Kalau mau selamat, memang harus ada yang dikorbankan. Tuan Adriaan itu rakus, tapi setidaknya dia royal kalau urusan daun muda."

Sali bangkit dari kursinya dengan sentakan yang membuat mejanya bergetar. Ia berbalik, menatap kedua kuli itu dengan mata yang berkilat merah. Wajahnya yang biasanya tenang, kini tampak seperti ombak samudra yang siap menggulung.

"Kasim! Aman Saban!" suara Sali menggelegar, memutus percakapan busuk itu. "Naikkan karung kalian ke timbangan sekarang, atau saya coret nama kalian dari daftar upah minggu ini!"

Kedua kuli itu terperanjat, nyaris menjatuhkan karung goni di pundak mereka. Tidak menyangka Sali yang pendiam bisa meledak sehebat itu. Kasim segera maju dengan gemetar, meletakkan karungnya ke timbangan.

Namun, amarah Sali belum usai. Saat Kasim bergerak, Sali melihat sesuatu yang aneh pada lipatan kain sarung di pinggang kuli muda itu. Tanpa peringatan, Sali menarik ujung sarung Kasim.

Sreeet! Biji-biji kopi kualitas satu—kopi pilihan yang seharusnya masuk ke karung ekspor Amsterdam—berhamburan keluar dari kantong rahasia yang dijahit menyatu dengan seruel naru, celana panjang di balik sarung Kasim. Ratusan biji kopi itu berjatuhan di lantai semen, bunyinya seperti hujan kerikil di atap seng.

"Mencuri di depanku, lalu menggunjingkan kehormatan orang lain di belakangku?" desis Sali, suaranya kini begitu rendah hingga hanya Kasim yang bisa mendengarnya. "Kau ingin bicara soal 'aset', Kasim? Bagaimana kalau aku bicara pada Mandor Karto bahwa kau menyelundupkan kopi ekspor di balik celana kau?"

Kasim jatuh berlutut, wajahnya pucat pasi. "Ampun, Kerani... saya hanya butuh sedikit uang untuk—"

"Pergi!" bentak Sali. "Bawa karungnya dan enyah dari hadapanku sebelum aku memanggil penjaga!"

Sali berdiri sendirian di tengah ceceran biji kopi yang berserakan.

Di dalam dadanya, integritasnya kini sedang berperang dengan dendam. Ia sadar, kejujurannya di meja timbangan hanyalah sebuah perlawanan kecil. Musuh yang sebenarnya adalah Tuan Adriaan yang sedang menanti esok untuk menikmati “hidangan” dari Kumala.

Sali mengambil sebutir kopi dari lantai, meremasnya hingga hancur. Ia tahu, babak baru dalam hidupnya di Wilhelmina baru saja dimulai. Ia bukan lagi sekadar pencatat angka; ia adalah pelindung yang terpojok.

Pemuda itu berdiri di ambang pintu gudang, menatap matahari yang mulai merayap naik, menyadari bahwa sore nanti ia harus melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar memegang pena untuk menyelamatkan Kumala.

Di waktu yang bersamaan, Mandor Jalil tengah menghubungi koneksinya di Stasiun KA Bireun melalui sambungan telepon kantor, guna memastikan kopi kiriman hari Minggu kemarin sudah naik ke gerbong prioritas.

Jalil memutar engkol di samping pesawat telepon kayu itu dengan sentakan kasar. Setelah menunggu operator menyambungkan jalurnya, ia berteriak di depan corong telepon, bersaing dengan suara desis kabel yang terganggu cuaca gunung.

"Ingat, kawan…! Wilhelmina tidak mau tahu soal gerbong penuh atau rel yang macet," gertak Jalil ke arah corong. Ia terdiam sejenak, mendengarkan jawaban dari seberang sembari memilin ujung kumisnya yang tebal berketombe. "Bagus. Pastikan segelnya tidak rusak. Nanti aku kirimkan 'asap tambahan' untuk kau lewat sopir truk berikutnya. Paham?"

Begitu urusannya dirasa beres, ia menghempaskan gagang telepon ke tempatnya dengan denting logam yang keras. Sebuah senyum puas tersungging di wajahnya sebelum ia melangkah keluar kantor menuju gudang.

Lihat selengkapnya