KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #8

MALAM MENJELANG PERJANJIAN TERKUTUK

Di serambi rumah panggung, asap dari pemuun meliuk tipis sebelum akhirnya buyar dihempas angin pegunungan. Aroma pekat dari kulit kopi kering yang terbakar merayap keluar dari perapian kecil itu, menyebarkan bau pahit yang khas untuk mengusir serangga malam yang berdatangan.

Aman Gading duduk bersila. Jemarinya yang kasar dan kapalan karena cangkul, tampak telaten merajang daun tembakau hijau khas Gayo, hasil dari kebun sendiri.

Di hadapannya, Kumala dengan tekun menyisipkan bilah-bilah pandan kering dengan posisi saling berlawanan, membentuk sebuah anyaman tikar. Ia begitu fokus pada kegiatan selingannya itu.

Sementara Mutia terlihat serius menghadapi selembar kain blacu putih kusam hasil dari barter di ruko Tauke Lim—yang kini sudah diwarnai dengan tanaman daun nila, menghasilkan warna biru tua pekat.

Mutia menarik benang kasarnya dengan hati-hati, memastikan jahitan pada pakaian barunya tidak meleset. Sesekali, ia mengusap permukaan kain yang terasa sedikit kaku itu.

“Ama, kopi tahun ini merahnya hampir serentak, tapi harganya seperti dipermainkan angin,” Mutia membuka suaranya pelan, namun sarat kegelisahan yang lazim dirasakan petani pada tahun 1930-an.

Aman Gading menghentikan sejenak dari mengiris tembakaunya, seraya menatap jauh ke arah kegelapan hutan di balik Blang Gele.

“Tahun malaise ini memang berat, Ipak!” ungkap ayahnya tenang. Belanda-Belanda di Takengon itu punya timbangan, kita yang punya keringat. Tapi dengarlah… setidaknya kalian tidak perlu memetik kopi dengan telinga yang selalu waspada pada letusan senapan.” Pria tua itu terdiam sejenak. Membetulkan letak kain sarungnya yang kian menipis dan pudar warnanya.

“Waktu Ama masih muda di tahun 1904, tanah ini merah bukan karena buah kopi, tapi karena darah di musala-musala dan benteng. Ama lari ke hutan Linge, membawa parang yang tumpul karena terlalu sering menebas semak belukar, demi bersembunyi dari pasukan Van Daalen. Saat itu, perut lapar adalah kawan karib dan tidur adalah kemewahan yang menakutkan.”

Si bungsu, Kumala menghentikan anyaman tikarnya. Ia dengan lembut menatap penuh kasih ayahnya.

“Lebih sulit mana, Ama…? Perang atau harga kopi yang jatuh seperti sekarang?!”

Aman Gading tersenyum getir, tiba-tiba dia teringat pada mendiang anak lelaki pertamanya, Gading.

“Zaman perang kita takut mati. Zaman sekarang kita takut tidak bisa hidup terhormat dan berkecukupan. Belanda dulu membawa peluru. Sekarang mereka membawa surat pajak dan harga yang mencekik. Tapi ingatlah pesan Ama, keramat mupakat, bele ahirat!. Selama kita bersatu di rumah ini, sedikit apapun kopi yang terjual, kita tak akan benar-benar kalah.”

“Saya akan buatkan kopi pahit untuk Ama." Mutia beranjak ke dapur, sebentar kemudian kembali dengan nampan kayu kusam dengan tiga cangkir kaleng yang uapnya mengepul tebal dan sejumput gula aren yang masih tersisa di dapur.

“Ini kopi pait untuk Ama. Kopinya baru tadi siang kami tumbuk,” Mutia meletakkannya perlahan di atas meja kecil yang baru diperbaiki Ama beberapa hari lalu.

Ama meraih cangkir panas itu dengan telapak tangannya, lalu menyesapnya sedikit.

“Kopi tumbuk tangan memang beda rasanya, Ipak!” puji Ama pada Mutia. “Pahitnya jujur, tidak seperti janji mandor-mandor di perkebunan Wilhelmina.

Ama menaburkan bakong ijo di selembar pucuk daun pisang kering, melintingnya perlahan lalu menyelipkan di ujung bibirnya yang menghitam. Dia tidak memakai korek kayu yang harganya mahal karena harus didatangkan dari Swedia ke pelabuhan Belawan oleh Belanda. Sebagai gantinya, Ama mengambil gantu, batu api hitam dan sebilah besi kecil. Kemudian mengambil sejumput serat daun enau kering.

Tratak! Tratak! Bunyi besi beradu batu memecah kesunyian serambi. Percikan api meloncat, hinggap di serat enau kering yang langsung menyala kecil. Ama meniup lembut hingga bara membesar, lalu menyentuhkannya ke ujung lintingan tembakaunya.

Asap tembakau hijau khas Gayo yang harum, naik ke udara. Saat asapnya mengepul, Aromanya memenuhi serambi—bau yang berat, tajam dan sepintas menyerupai wangi daun ganja yang terbakar, namun saat dihirup, terasa halus dan nyaman di tenggorokan—menyatu dengan aroma kopi yang baru saja diseduh Mutia.

“Terus, bagaimana kelanjutan ceritanya, Ama?” Kumala tidak sabar menunggu ayahnya.

“Zaman Ama masih muda dulu,” katanya sambil menghembuskan asap, “api ini lebih berharga dari uang. Kalau api mati di tengah hutan Linge saat lari dari Belanda, kalian akan kedinginan sampai tulang terasa rapuh!”

"Kehidupan di dalam hutan sangat menderita. Warga harus bertahan hidup di bawah gubuk-gubuk darurat dengan sedikit makanan. Banyak pengungsi meninggal bukan karena peluru Belanda, melainkan akibat kelaparan, cuaca dingin dan wabah penyakit kolera yang akhirnya merenggut nyawa Gading, Abang kalian."

Jadi, Abang Gading di kubur di hutan Linge, Ama?” Kumala menghentikan anyamannya.

“Betul, Ipak! Ine kalian sampai tidak mau makan selama dua hari. Ama harus membujuknya terus-menerus.”

Lihat selengkapnya