Selasa pagi itu, kabut masih memeluk erat tiang-tiang rumah panggung saat Aman Gading sudah sibuk di halaman. Dengan kapak tua yang bilahnya mengkilap karena sering diasah, ia membelah batang-batang kayu lamtoro kering untuk persediaan tungku di dapur.
Crak…! Crak…! Krekeek!
Bunyi kayu yang terbelah beradu dengan kokok ayam dan embikan kambing di kandang, menghasilkan irama pagi yang harmonis dan jujur.
Kumala terlihat sibuk dengan membantu Mutia membersihkan seluruh ruangan di rumah. Beberapa ekor laba-laba lari tunggang langgang menyelamatkan diri, ketika sarang mereka terkena sapuan ijuk.
Sesekali mata Kumala melirik ke arah jam matahari di bayangan tiang rumah. Setiap inci pergeseran bayangan itu terasa seperti jerat yang semakin kencang melilit lehernya. Di kepalanya, gadis itu terus menghitung waktu.
Pagi ini terasa sangat lambat, seolah-olah matahari sengaja menggoda ketakutannya. Menjelang tengah hari, aktivitas beralih ke halaman. Matahari sudah cukup tinggi untuk menjemur kopi.
Kumala dan Mutia bersama-sama menghamparkan tikar pandan di atas rerumputan. Mereka menuangkan biji-biji kopi pilihan dari dalam keranjang, meratakannya dengan penggaruk kayu agar keringnya merata. Aroma kopi mentah yang ringan bercampur dengan wangi bunga cempaka dari pohon di samping rumah memenuhi udara.
"Kopi ini besok sudah bisa kita simpan di gudang, Ama," seru Mutia pada ayahnya yang sedang menyapu serpihan kayu bakar.
Aman Gading tersenyum puas. "Iya, Muti. Berkat surat dari Tuan Belanda itu, Ama tidak perlu khawatir lagi memikirkan patroli. Kita bisa menjemur dengan tenang."
Mendengar kata surat, tangan Kumala yang sedang meratakan kopi mendadak kaku. Ia menatap telapak tangannya yang bernoda getah kopi hitam, merasa seolah noda itu tak akan pernah bisa hilang.
Selepas menjemur kopi, Di atas rumah, Kumala dan Mutia berbagi tugas di dapur yang mulai beraroma asap kayu. Kumala berjongkok di depan sebuah cobek batu besar, tangannya yang halus namun kuat sedang menumbuk bumbu—cabai merah, bawang, kunyit dan sedikit jahe untuk masakan siang mereka. Suara tumbukan bumbunya berpadu dengan suara pisau Mutia yang sedang mengiris sayur labu siam.
"Ipak, jangan terlalu halus menumbuknya, nanti rasa pedasnya hilang," tegur Mutia lembut, mencoba mengalihkan pandangan Kumala yang sesekali menerawang ke arah jendela.
Kumala hanya mengangguk pelan. Ia beralih ke pancuran di sudut dapur, mencuci daun pucuk labu dan kacang panjang segar dengan air pegunungan yang sebening kaca.
Di sudut dapur yang berasap, suara tumbukan bumbu Kumala mendadak berhenti. Mutia mendekat, memegang pundak adiknya yang kaku. Dari celah lantai papan, terdengar suara crak! crak! kapak Aman Gading yang sedang membelah kayu. Suara itu seolah menghitung sisa waktu mereka.
"Ipak," bisik Mutia, suaranya serak menahan tangis. "Biar aku saja yang pergi. Biar aku yang menemui Belanda iblis itu sore nanti."
Kumala mendongak, matanya berkaca-kaca. "Aka bicara apa? Tuan Adriaan memanggilku, bukan Aka."
"Dengar, Ipak!" Mutia mencengkeram lengan Kumala lebih erat. "Aku ini janda. Harga diriku sudah lama robek karena laki-laki tak tahu diri itu. Jika Belanda itu mau merenggut sesuatu, biarlah dia merenggut sisa hidupku yang sudah hancur ini. Kau masih suci, Kumala. Kau masih punya masa depan dengan Sali. Jangan biarkan bunga kopi yang mekar kini layu sebelum waktunya."
Air mata Kumala jatuh ke dalam cobek bumbu. Ia menggeleng kuat-kuat. "Percuma, Kak. Manur Karto dan tuannya itu bukan orang buta. Mereka menginginkanku karena mereka tahu aku yang memegang surat lahan Ama. Jika Aka yang datang, mereka akan tahu kita mencoba menipu, dan Ama... Ama akan langsung diseret ke jalan raya hari ini juga."
"Tapi Ipak—"
"Gere, Aka," Kumala menyeka air matanya dengan ujung baju kurungnya. "Ini beban yang harus kupikul sendiri. Aku sudah berjanji pada Ine di dalam mimpi semalam. Biarlah aku yang menanggung bau cerutu Belanda itu, asal Ama bisa terus menyesap kopi pahitnya di serambi ini dengan tenang."
Mutia terisak tanpa suara, mendekap kepala adiknya ke dadanya.
Di bawah rumah, Aman Gading berteriak senang karena berhasil membelah kayu sampai habis. Ia tidak tahu, di dapur, dua putrinya sedang melakukan tawar-menawar tentang siapa yang paling layak dikorbankan demi nyawanya.
Setelah makan siang yang sunyi, suasana rumah terasa mencekam bagi Kumala. Ia hanya menghabiskan sisa waktu di kamar sebelum memutuskan untuk mandi. Sehabis mandi dengan bersih, ia masuk ke kamar, menyisir rambutnya dengan minyak kelapa yang wangi dan mengenakan baju kurung biru tuanya.
Ia menyampirkan upuh ulen-ulen di bahu—kain hitam bermotif sederhana dengan sulaman benang merah, kuning, hijau dan putih—untuk menjaga martabatnya sebagai wanita Gayo.