KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #10

PERJAMUAN DI BALIK PINTU JATI

Suara kunci yang diputar Mandor Besar Karto dari luar adalah bunyi yang paling mengerikan bagi telinga Kumala. Seketika, hiruk-pikuk suara mesin pabrik di kejauhan lenyap, digantikan oleh keheningan yang menindih di dalam ruangan yang luas ini.

Bau lilin lantai yang dipoles mengkilap bercampur dengan parfum Eropa beraroma woody yang maskulin namun menyesakkan dada.

Adriaan Van der Vlies berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela kaca besar yang menghadap ke arah Danau Lut Tawar yang mulai berkabut. Ia perlahan meletakkan sebuah cangkir porselen putih di atas meja jatinya.

"Duduklah, Kumala. Jangan berdiri di sana seperti sedang menunggu hukuman mati," ucap Adriaan. Suaranya halus, menggunakan bahasa Melayu yang tertata rapi, hampir tanpa cela.

Adriaan berbalik. Ia tidak mengenakan jas dinasnya, hanya kemeja katun putih yang lengannya digulung hingga siku. Matanya yang biru pucat menatap Kumala dengan ketenangan seorang pemburu yang tahu mangsanya tak punya jalan keluar.

"Minumlah. Perjalanan dari rumah pasti membuat tenggorokan kau kering," tawarnya sambil menunjuk sebuah teko kristal berisi air bening.

Kumala tetap berdiri tegak, meski lututnya terasa lemas. Ia merapatkan kain ulen-ulennya.

"Terimakasih, Tuan. Saya tidak haus. Saya datang untuk menunjukkan surat yang Tuan berikan kemarin. Aman Gading... ayah saya, sangat berterima kasih atas perlindungan ini."

Adriaan tertawa kecil, suara tawanya kering tapi elegan. Ia melangkah perlahan mengitari mejanya, mendekat ke arah Kumala. Setiap dentum sepatu bot kulitnya di atas lantai tegel terdengar seperti detak jam yang menghitung sisa waktu kesucian Kumala.

"Surat itu hanya selembar kertas, Kumala," bisik Adriaan, kini ia berdiri hanya satu langkah di depan Kumala. Bau cerutu yang menempel di kemejanya mulai merasuki penciuman Kumala. "Ayah kau selamat karena aku yang menginginkannya selamat. Tapi kau tahu sendiri, di Wilhelmina ini tidak ada yang cuma-cuma."

"Saya bisa menyerahkan jatah kopi terbaik dari pohon pilihan kami, Tuan," sahut Kumala cepat, mencoba melakukan negosiasi terakhir. "Saya akan pastikan timbangan Sali mencatat hasil paling cermat untuk kantor ini."

Adriaan tersenyum tipis, tangannya bergerak lambat, seolah hendak menyentuh ujung kain ulen-ulen Kumala.

"Kopi? Aku punya ribuan hektar kopi, Ipak. Aku tidak butuh biji kopi dari kau. Aku butuh... ucapan terima kasih yang lebih nyata."

Adriaan melangkah ke arah pintu, memastikan gerendelnya sudah terpasang rapat, lalu ia kembali menatap Kumala dengan pandangan yang membuat Kumala merasa seolah tubuhnya sedang ditelanjangi.

"Ayah kau sudah tua. Satu perintah dariku, dan dia akan menghabiskan sisa umurnya memecah batu di jalan raya. Kau tidak ingin itu terjadi, bukan?"

Kumala tersentak mundur, punggungnya menabrak pintu jati yang dingin. Harapan tipisnya untuk bernegosiasi hancur seketika. Ia menyadari bahwa di ruangan ini, martabatnya sedang dipertaruhkan melawan nyawa ayahnya.

Adriaan berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela kaca besar yang menghadap ke arah lembah. Di kejauhan, melampaui rimbunnya pohon pinus dan atap-atap rumah penduduk di Takengon, hamparan Danau Lut Tawar tampak seperti kepingan perak yang meredup ditelan kabut sore.

"Indah, bukan?" ucap Adriaan tanpa berpaling. "Danau itu terlihat sangat tenang dari sini. Tapi kau tahu, Kumala? Di kedalamannya, ada arus yang bisa menelan siapa pun yang tidak hati-hati. Sama seperti hidup kau di perkebunan ini."

Keheningan di ruangan itu terasa begitu padat, hanya dipecahkan oleh suara statis dari sebuah gramofon besar di sudut ruangan yang terbuat dari kayu jati berukir.

Alat itu sedang memutar musik klasik Eropa yang asing di telinga Kumala—nada-nada biola yang mendayu panjang, terdengar menyayat dan dingin, sangat kontras dengan degup jantung Kumala yang berpacu liar seperti derap kaki kuda yang ketakutan.

Adriaan tidak langsung mendekat. Ia sengaja memainkan jarak, berjalan perlahan mengitari Kumala seperti pemangsa yang sedang menikmati kebingungan buruannya.

Permadani merah marun meredam suara sepatu bot pria itu. Nyaris tak terdengar. Saat melintas di belakang Kumala, ia berhenti sejenak, menghirup udara di sekitar bahu gadis itu.

"Bau nilam... bau yang sangat Gayo," bisik Adriaan, suaranya rendah dan merambat di tengkuk Kumala. "Kau tahu, Kumala? Di negaraku, wanita memakai parfum bunga mawar yang manis dan palsu. Tapi bau tanah dan daun kering dari kau ini... jauh lebih menggoda daripada ribuan bunga di Amsterdam."

Kumala merapatkan ulen-ulennya, merasa kata-kata Adriaan tak ubahnya tangan kurang ajar yang melucuti pakaiannya.

Adriaan kembali ke balik meja kerjanya yang luas. Di sana, di samping sebuah asbak kristal yang penuh dengan tumpukan abu cerutu yang sudah dingin, terletak sebuah pena emas yang berkilau tertimpa cahaya sore.

Dengan gerakan yang lambat dan sengaja, Adriaan menarik selembar berkas tipis—daftar nama Heerendienst, kerja paksa yang mematikan bagi penduduk pribumi.

"Mari kita lihat..." Adriaan menyesap sisa kopi dingin di cangkir porselennya, lalu ujung penanya mulai menelusuri barisan nama di kertas itu. "Ja-mat. Nama ayah kau tertulis sangat jelas di sini, Ipak."

Lihat selengkapnya