Kumala melangkah keluar dari teras kantor administrateur dengan kaki yang terasa bukan miliknya lagi. Tangga beton yang dingin itu menjadi saksi bisu di bawah pijakannya. Ia mendekap upuh ulen-ulennya begitu erat di dada, berharap kain itu bisa menjahit kembali martabatnya yang telah robek di dalam ruangan Adriaan tadi.
Di tangannya, selembar kertas berstempel ungu itu bergetar hebat. Kertas yang menjadi alasan kehancurannya, kini terasa seberat batu nisan.
Di gerbang beton Wilhelmina, dua orang opas yang tadi menyeringai kini terdiam. Mereka melihat seorang gadis yang masuk sebagai “bunga mekar” dan keluar sebagai “bunga layu”. Mata Kumala kosong, menatap lurus ke depan tanpa arah, melewati pagar kawat yang membatasi wilayah kantor timbangan.
"Kumala..."
Suara itu rendah, pecah, dan sarat dengan penderitaan. Sali berdiri di sana, di bayangan pohon beringin yang mulai gelap. Kemeja keraninya sudah berantakan, tas kanvasnya tersampir miring di bahu. Sali telah menunggu sejak jam dinding di kantor timbangan berhenti berdetak di pikirannya.
Kumala terhenti. Ia tidak menoleh. Ia takut jika ia menatap mata Sali, seluruh pertahanannya akan runtuh dan ia akan menjerit hingga suaranya membelah langit Takengon.
"Jangan mendekat, Sali," bisik Kumala, suaranya kering seperti dedaunan kopi yang mati terserang hama. "Jangan dekati aku."
Sali merasakan jantungnya diremas. Ia melihat noda kecil di kain sarung coklat Kumala, melihat rambut yang tak lagi tersanggul rapi, dan ia tahu—ia tahu persis apa yang telah terjadi di balik pintu jati itu. Belati di balik tas kanvasnya seolah berteriak minta dicabut, namun tangis Kumala yang tertahan jauh lebih menyakitkan daripada seribu peluru Belanda.
Kumala berbelok dari jalan utama, menembus rimbunnya deretan pohon peneduh yang menuju ke arah telaga di belakang area pabrik. Langkahnya serabutan, kain sarungnya tersangkut akar-akar tua yang menonjol dari tanah merah, namun ia tak peduli. Ia berlari menuju hamparan air tenang yang permukaannya tampak seperti kaca hitam di bawah langit senja yang semakin gelap.
Di sana, di telaga belakang pabrik yang biasanya riuh oleh suara buruh, kini sunyi mencekam. Hanya suara mesin pengupas kulit kopi saja yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan, seperti dengungan lebah yang menyakitkan.
Kumala berdiri di atas dermaga kayu kecil yang keropos. Ia hendak melompat, menenggelamkan diri bersama sisa aroma cerutu dan parfum Eropa yang menempel di sekujur badannya. Dia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya, melainkan hanya sampah yang telah dibuang oleh Adriaan Van der Vlies.
"Kumala, jangaaan!!" teriak Sali yang akhirnya berhasil menyusul, napasnya tersengal-sengal.
Sali menerjang maju, menangkap pinggang Kumala tepat saat gadis nyaris menjatuhkan diri ke dalam telaga itu. Mereka jatuh berguling di atas hamparan rumput liar yang basah oleh embun sore. Kumala meronta, tangan kecilnya memukul-mukul dada Sali dengan keputusasaan yang luar biasa.
Sebuah jeritan pedih akhirnya pecah dari bibirnya—suara yang lebih mirip raungan hewan yang terluka daripada suara manusia.
"Aku kotor, Sali! Aku bukan lagi anak Ine! Jangan sentuh aku!" jerit Kumala di sela isakannya yang menyesakkan.
Sali tidak melepaskannya. Ia justru memeluk Kumala lebih erat, membiarkan upuh ulen-ulen yang berantakan itu berada di antara dada mereka. Sali membiarkan kemeja keraninya yang bersih kini kotor oleh lumpur dan air mata Kumala.
"Kau tidak kotor, Kumala," bisik Sali, suaranya parau menahan tangis. "Demi Allah yang memegang nyawaku, di mataku kau tetap suci. Kau tetap gadis yang memetik kopi dengan doa di bibir kau.”
Dengan lembut Sali merapikan rambut Kumala yang berkeriapan menutupi wajahnya.
“Mereka yang kotor. Mereka yang memakai sepatu bot dan memegang pena emas itu. Kau adalah korban, Kumala... kau mengorbankan diri kau demi Aman Gading. Itu bukan kehinaan, itu adalah kemuliaan yang menyakitkan.”
Kumala masih meronta dalam dekapan Sali, jemarinya mencakar tanah merah, berusaha melepaskan diri dari dunia yang ia rasa telah menajiskannya. Isakannya tersendat-sendat, napasnya memburu seperti menjangan yang baru saja lepas dari terkaman harimau.
"Biarkan aku, Sali! Air telaga ini... aku ingin air ini membawa kotoran ini pergi!" jerit Kumala, suaranya parau, tenggelam dalam deru angin sore yang makin dingin.
Sali tidak bergeming. Ia justru merengkuh kepala Kumala, menyandarkan di dadanya.
"Dengar aku, Kumala! Tatap mataku!" Sali memaksa Kumala mendongak, meski wajah gadis itu basah oleh air mata.