Rabu pagi, aroma rumput, tanah dan kacang yang dihasilkan biji kopi mentah dari pabrik biasanya menenangkan Sali, namun hari ini aroma itu tercium busuk di hidungnya.
Dari mejanya, Sali bisa melihat Adriaan Van der Vlies yang sedang berdiri angkuh di balkon kantor pusat, menyesap kopi hangat di cangkir porselennya dengan ketenangan seorang pemenang.
Sali menekuk mata penanya hingga patah. Ia melihat Mandor Jalil sedang tertawa bersama para centeng, sesekali melirik ke arah meja timbangan Sali dengan tatapan menghina. Sali tahu, rahasia Selasa sore itu sudah menjadi bisik-bisik kotor di antara para kaki tangan Belanda.
'Cukup,' batin Sali. Tangannya yang gemetar kini mengepal kuat. 'Aku tidak akan membiarkan marwah Kumala menjadi bahan tawa di gudang ini.'
Sali segera menyelesaikan laporannya, menyerahkannya pada asisten Belanda dengan wajah kaku, lalu meminta izin keluar lebih awal dengan alasan keluarga.
Ia mengayuh sepeda onthel kebanggaannya dengan cepat, meninggalkan gerbang Wilhelmina, menembus debu jalan raya menuju Pasar Takengon.
Di sana, di bawah naungan atap seng lapak dagangan yang luas, ia menemui Aman Juki. Tokoh tengkulak berpengaruh itu sedang duduk bersila di atas balai kayu, dikelilingi oleh tumpukan karung goni dan kepulan asap rokok linting.
Aman Juki bukan sekadar pedagang kopi; ia adalah pria yang suaranya didengar oleh siapapun, bahkan oleh kontrolir, pejabat sipil Belanda sekalipun.
"Assalamualaikum! Aman Juki, permisi," sapa Sali sambil membungkuk hormat.
Aman Juki mendongak, matanya tajam menyapu penampilan Sali yang masih mengenakan kemeja kerani bersih.
"Wa'alaikumussalam! Sali? Kenapa belum waktu lepas kerja, kau sudah di pasar? Apakah timbangan di Wilhelmina sedang rusak?"
"Tidak. Timbangan di sana masih baik, Aman Juki. Tapi nurani di sana sudah mati," sahut Sali tegas.
Sali berdiri tegak, matanya menatap tajam ke arah tumpukan karung kopi di lapak Aman Juki. Suaranya rendah namun bergetar oleh amarah yang tertahan.
"Aman Juki, ijin... "Saya datang bukan sebagai kerani Wilhelmina. Tapi datang sebagai anak Gayo yang sedang melihat awan gelap menggantung di atas rumah Aman Gading."
Aman Juki menghentikan isapan rokok lintingnya, ia menautkan alisnya yang tebal.
"Awan gelap apa, Sali? Bukankah kudengar Belanda di bukit itu sudah memberi mereka surat perlindungan?"
Sali mengepalkan tangan di samping pahanya.
"Surat itu adalah jerat, Aman Juki. Kemarin sore, saya melihat sendiri Kumala masuk ke pintu jati administrateur sendirian. Dan saat dia keluar..." Sali berhenti sejenak, tenggorokannya tersekat. "Dunia seolah kiamat di matanya. Saya tahu tabiat Adriaan. Saya juga tahu apa yang dia minta sebagai ganti surat itu."
Aman Juki terdiam lama. Ia mengusap jenggotnya yang memutih, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius. Sebagai tengkulak besar, ia sudah sering mendengar kabar burung tentang kegemaran Adriaan “memetik bunga” di perkebunan, tapi kali ini sasarannya adalah putri seorang petani merdeka yang punya marwah.
"Jadi kau mau meminang Kumala secepatnya? Untuk menutup aib itu sebelum orang-orang mulai bergunjing?" tanya Aman Juki pelan.
"Bukan sekadar menutup aib, Aman Juki," sahut Sali tegas. "Saya ingin meminangnya agar Adriaan tahu bahwa Kumala sudah punya pelindung. Saya ingin Aman Juki yang menjadi juru bicara, karena suara Aman didengar oleh Belanda dan dihormati oleh Aman Gading."
"Saya ingin Belanda itu tahu, bahwa di tanah ini, kami tidak akan membiarkan 'bunga' kami diinjak begitu saja tanpa perlawanan."
"Kau sadar risikonya, Kerani? Jika kau melamarnya sekarang, Adriaan tidak akan tinggal diam," tegas Aman Juki, memperingatkan.
"Saya sudah siap meletakkan pena ini, Aman Juki. Saya akan kembali ke kebun. Lebih baik memegang cangkul di samping Kumala, daripada memegang pena di bawah kaki iblis itu," jawab Sali tanpa ragu.
Aman Juki mengangguk perlahan. Ia berdiri, menepuk bahu Sali dengan tangannya yang lebar. "Sungguh patut dipuji, Sali. Kau punya hati yang luas. Baiklah. Hari Jumat nanti, ba'da Ashar aku akan membawa rombongan ke rumah Aman Gading.
Aman Juki menarik napas panjang, membiarkan asap rokok lintingnya mengepul di antara tumpukan karung goni yang berbau apek dan debu kopi kering.
Ia menatap Sali dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rasa bangga, namun juga kecemasan yang nyata. Sebagai pria yang sudah puluhan tahun bermain di antara kebijakan kontrolir Belanda dan keringat petani, ia tahu bahwa langkah Sali ini bukan sekadar urusan asmara. Ini adalah pernyataan perang dingin.
"Kau tahu, Sali," Aman Juki merendahkan suaranya, matanya menyapu sekeliling pasar untuk memastikan tidak ada telinga yang mencuri dengar. "Adriaan Van der Vlies itu ibarat anjing buduk yang memakai jas sutra. Dia tidak akan melepaskan apa yang sudah dia tandai. Jika kau melamar Kumala sekarang, kau bukan hanya menantang nafsunya, tapi kau menantang kekuasaannya di Wilhelmina."
Sali berdiri tegak, bayangan tubuhnya menghilang di atas lantai plesteran lapak, pertanda matahari sudah tinggi.
“Saya sudah memikirkan semuanya, Aman Juki. Di kantor timbangan tadi, saat melihatnya menyesap kopi di balkon, saya merasa kemeja kerani ini lebih kotor daripada lumpur di ladang. Saya tidak bisa terus mencatat keuntungan untuk pria yang sudah merampok marwah wanita saya."
Aman Juki mengangguk, lalu ia bangkit dari balai-balainya. Tubuhnya yang tambun namun tegap, bergerak menuju tumpukan karung kopi. Ia memberi isyarat pada tiga orang anak buahnya untuk pergi makan siang, lalu kembali duduk di balainya.
"Baiklah. Jika tekad kau sudah sekeras batu gunung, aku tidak akan menghalangi. Tapi ingat satu hal," Aman Juki menunjuk ke arah bukit Wilhelmina di kejauhan dengan dagunya. "Begitu kata lamaran itu keluar dari mulutku di depan Aman Gading hari Jumat nanti, kau bukan lagi kerani kesayangan Belanda. Kau adalah musuh mereka. Kau harus siap kehilangan pekerjaan, bahkan mungkin keselamatan kau."
"Pena ini sudah saya patahkan tadi sebelum berangkat kesini, Aman Juki. Saya lebih memilih mencangkul tanah sendiri daripada menghitung kopi untuk iblis itu," sahut Sali mantap.
Ia kemudian berpamitan. Melangkah keluar dari lapak Aman Juki dengan perasaan yang jauh lebih ringan, meski beban di pundaknya justru semakin berat.
Sali mengayuh sepedanya di jalan raya yang menanjak menuju Blang Gele. Suasana di siang itu cukup ramai oleh lalu lalang orang berjalan kaki dan gerobak sapi yang menuju Pasar Takengon.
Namun keramaian itu berbanding terbalik dengan kesunyian di rumah panggung Aman Gading, dimana anaknya, Kumala duduk di sudut dapur, tangannya gemetar saat mencoba mengiris labu.
Sesekali ia meraba ikatan sarungnya, tempat di mana surat berstempel ungu itu ia sembunyikan. Di dalamnya tertulis tangan Adriaan, bahwa yang bernama Jamat, nama resmi dari Aman Gading, dibebaskan dari kewajiban kerja paksa. Kertas itu terasa panas, seolah membakar kulitnya. Setiap kali ia memejamkan mata, aroma parfum dan cerutu Adriaan seolah kembali menyerbu penciumannya, membuatnya mual hingga ke ulu hati.
Mutia mendekat, meletakkan tangannya di bahu adiknya. "Ipak... makanlah sedikit. Sejak pulang dari kantor kemarin, kau belum menyentuh nasi."
Kumala menggeleng lemah. "Aku tidak lapar, Kak. Aku hanya merasa... aku tidak pantas lagi duduk di rumah ini. Aku merasa rumah ini menjadi kotor karena kehadiranku."
"Jangan bicara begitu!" tegur Mutia tajam namun berbisik, matanya melirik ke arah serambi di mana Aman Gading sedang bersenandung kecil sambil mengiris tembakaunya.
"Kau melakukan ini untuknya, Ipak. Kau pahlawan bagi Ama. Jangan biarkan pengorbanan kau sia-sia karena kau menyerah pada rasa malu."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di tangga kayu. Sali muncul di “area perempuan” di mana dapur biasanya berada. Wajahnya kumal, tertutup debu jalanan, namun matanya memancarkan api yang tak pernah padam. Ia menatap Kumala—bukan dengan pandangan kasihan, melainkan dengan tatapan cinta yang utuh.
"Kumala," panggil Sali lembut.
Kumala menoleh, matanya yang sembab bertemu dengan mata Sali. Untuk pertama kalinya sejak Selasa sore yang pucat itu, Sali melihat ada sinar kecil di mata gadis itu.
"Hari Jumat nanti, Aman Juki akan datang kemari," ucap Sali dengan suara yang cukup keras agar terdengar sampai ke serambi depan tempat Aman Gading berada. "Dia akan datang membawa sirih dan pinang. Dia akan meminta kau menjadi bagian dari hidupku selamanya."
Aman Gading terhenti dari aktivitasnya mengiris tembakau. Ia membalikkan badan, menatap Sali di tangga kayu serambi belakang dengan heran sekaligus gembira.