KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #13

PINANGAN DI ATAS BARA

Lampu tempel di dinding papan rumah Sali bergoyang pelan ditiup angin malam yang menyelinap dari celah dinding. Ayahnya yang puluhan tahun memegang cangkul kini sedang mengusap bilah parangnya dengan minyak kelapa. Matanya tajam menatap kepulan asap kopi dari cangkir kaleng di depannya.

Malam itu, di rumah Sali yang sederhana namun rapi, aroma kopi sangrai tercium dari dapur. Sali duduk bersila di depan ayahnya yang sedang membersihkan gagang parang dengan biji kemiri. Suasana terasa lebih berat dari biasanya.

"Ama," suara Sali rendah namun mantap. "Hari Jumat ini, saya ingin Aman Juki memimpin rombongan kita ke rumah Aman Gading. Saya ingin meminang Kumala."

Aman Sali menghentikan gerakannya. Ia menatap putranya di bawah keremangan lampu.

"Jadi, kau mau meminang anak Aman Gading secepat itu?" tanya sang ayah dengan raut keraguan. Suaranya berat, membungkus keheningan ruang tengah.

"Benar, Ama," sahut Sali mantap. Ia tidak menunduk. Ia menatap mata ayahnya dengan keberanian yang baru saja ia kumpulkan dari tepian telaga Selasa sore kemarin.

"Kenapa terburu-buru, Bujang? Bukankah kau bilang mau kumpulkan gaji sampai tahun depan, agar mahar kau lebih pantas sebagai seorang kerani?"

Sali menarik napas panjang. Ia melirik ke arah Ine yang baru saja meletakkan teko kopi di atas meja kayu. Tangan ibunya tampak bergetar, dan matanya yang sayu menunjukkan bahwa ia sudah merasakan kegelisahan putranya sejak menginjakkan kaki di tangga rumah tadi.

"Dunia sedang berubah, Ama. Dan Wilhelmina sedang membusuk," kata Sali dengan nada yang lebih rendah. "Tuan Adriaan... dia sudah melampaui batas. Dia telah "merobek" upuh ulen-ulen Kumala. Dia menekan Aman Gading lewat surat perlindungan, dan memaksanya menukar harga diri putrinya demi selembar kertas."

Praaak!!

Aman Sali menghantamkan parangnya dengan keras ke lantai papan hingga gagangnya retak. Inen Sali terpekik kecil, tangannya menutup mulut karena terkejut sekaligus ngeri. Suasana seketika menjadi terasa dingin, melebihi dinginnya kabut yang menyelimuti Blang Gele.

"Maksud kau... bunga itu sudah dipetik oleh si Belanda jahanam itu?" hardik Aman Sali, urat di lehernya menegang.

"Dia dipaksa, Ama! Kumala mengorbankan dirinya agar Aman Gading tidak diseret ke jalan raya!" Sali membela dengan suara yang tertahan. "Saya tidak akan membiarkannya menanggung beban itu sendirian. Saya ingin menikahinya agar dunia tahu dia punya pelindung. Agar Belanda itu tahu, bahwa meskipun mereka punya senapan, mereka tidak bisa memiliki jiwa kita selamanya."

Inen Sali mendekat, duduk bersimpuh di samping Sali dengan wajah muram.

"Sali, anakku... kau tahu apa artinya ini? Kau akan dipecat. Kau akan kehilangan gaji bulanan. Bagaimana dengan impian kita untuk memperbaiki rumah ini? Bagaimana jika mereka memasukkan kebun kopi kita dalam daftar hitam, karena ulah kau?"

"Ine," Sali meraih tangan ibunya yang gemetar. "Apa gunanya saya memakai kemeja bersih dan duduk di kantor timbangan jika hati saya hitam karena membiarkan kezaliman ini? Apakah Ine mau punya anak yang sukses tapi penakut? Saya lebih memilih kembali ke kebun, memegang cangkul di samping Kumala, daripada menjadi anjing penjilat di bawah kaki Adriaan."

Aman Sali terdiam lama, matanya menatap langit-langit rumah seolah sedang mencari restu dari para leluhur Linge. Ia teringat masa mudanya saat melawan patroli Belanda di hutan. Ia teringat betapa beratnya ia bekerja agar Sali bisa sekolah tinggi.

"Sali," panggil ayahnya, suaranya kini melunak namun penuh wibawa. "Uang bisa dicari, dan kebun kita masih cukup luas untuk memberi kita makan ubi rebus setiap hari. Tapi martabat... martabat yang hilang tidak akan pernah bisa ditebus dengan segudang gulden."

Ia berdiri, melangkah menuju peti kayu tua di sudut atas ruangan, lalu mengeluarkan sesuatu yang dibalut kain sutra kuning yang sudah usang. Ia menyerahkannya pada Sali.

"Ini adalah amanremu peninggalan Awan kau dari masa perang. Simpanlah, sebagai tanda kau sudah siap mengemban tanggung jawab untuk menjadi lelaki dewasa. Lamarlah Kumala. Bukan sebagai kerani Belanda, tapi sebagai lelaki Gayo sejati."

“Baik, Ama,” Sali menerima benda pusaka warisan kakeknya dengan sikap hormat. Perlahan ia menarik sarungnya yang terbuat dari kayu jati berukir bunga cempaka yang dibungkus lempengan kuningan, dengan gagangnya terbuat dari tanduk kerbau. Pedang atau lebih tepatnya parang panjang bermata satu itu berkilat redup, memantulkan cahaya kuning kemerahan di bawah pelita.

Gesekan besi itu terdengar seperti bisikan dendam yang tertahan. Ia menatap pantulan wajahnya yang kusam di bilah amanremu. Ia bukan lagi kerani yang bangga dengan pena emasnya; ia adalah seorang lelaki yang sedang mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Jika tinta Adriaan bisa merusak hidup Kumala, maka tajamnya parang ini akan menjadi jawaban terakhirnya.

"Gunakan dengan bijak, Bujang," suara Aman Sali terdengar dari serambi rumah. “Kau tentu sudah paham cara menangani senjata itu.”

Sambil menyesap kopi di cangkir kalengnya, sang ayah memperhatikan anaknya yang sudah menjadi lelaki dewasa seutuhnya. Matanya tampak berkilat bangga sekaligus cemas. "Jangan biarkan emosi menguasai, tapi jangan biarkan pula kaki kau mundur satu langkah pun jika marwah kau diinjak.”

Sali mengangguk tegas, menyarungkan kembali senjata pusaka itu—yang panjang bilahnya sekitar 75 sentimeter—ke dalam kain sutra kuningnya.

Aman Sali menatap putranya sejenak, lalu ia meraih jembolang, penutup kepalanya yang lusuh dan sarung tebalnya.

Matanya melirik ke arah sepeda onthel milik Sali yang tersandar di tiang bawah rumah—sebuah alat transportasi mengkilap merek Humber buatan Belanda—yang biasanya menjadi kebanggaan Sali saat berangkat ke kantor timbangan. Dia membeli seharga 80 gulden, setara empat bulan gajinya.

"Pinjamkan sepeda kau, Bujang," ucap Aman Sali lugas. "Ama harus bicara dengan Aman Juki. Lidah harus bertemu lidah sebelum matahari Jumat naik. Sudah lama pula kami tidak jumpa.”

Lihat selengkapnya