KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #14

PERI MESTIKE DI BA'DA ASHAR

Matahari Jumat tahun 1931 menggantung terik di atas langit Takengon, membasuh kubah Masjid Quba Bebesan dengan cahaya keperakan. Masjid tua yang juga dikenal dengan nama Masjid Mutelong itu berdiri kokoh di atas tanah seluas satu hektar, menjadi saksi bisu setiap doa dan keluh kesah masyarakat Bebesan sejak seabad silam.

Di dalam saf yang rapat, Sali bersujud dengan dahi yang dingin. Pagi tadi, ia telah meletakkan penanya di atas meja timbangan untuk terakhir kalinya—sebuah pernyataan pengunduran diri yang bisu namun tajam bagi otoritas Wilhelmina.

Setelah salam terakhir diucapkan, jamaah mulai meluber keluar ke halaman masjid yang luas. Di bawah naungan pohon beringin tua yang akarnya menjuntai seperti tirai alam, Aman Juki mencegat Aman Gading.

"Assalamu'alaikum, Aman Gading," sapa Aman Juki sambil menjabat tangan sahabatnya itu lebih lama dari biasanya.

"Waalaikumussalam, Aman Juki! Suatu kehormatan melihatmu shalat di Bebesan hari ini," Aman Gading membalas dengan tawa lepas, matanya berbinar melihat Sali yang berdiri tegak di belakang ayahnya, Aman Sali.

"Ada hajat kecil yang ingin kami hantarkan," Aman Juki merendahkan suaranya, matanya menatap ke arah perbukitan Blang Gele yang membiru di kejauhan. "Jika tidak keberatan, apakah kami diizinkan berteduh di rumah kam (anda) selepas shalat Ashar nanti? Ada sedikit pembicaraan yang ingin kami sampaikan."

Aman Gading tertegun sejenak, namun langsung mengangguk mantap.

"Tentu, tentu saja! Pintu kami selalu terbuka. Kami akan tunggu di serambi."

“Baiklah kawan, sampai bertemu. Assalamu'alaikum!”

“Wa'alaikumussalam!”

Perjalanan dari Bebesan menuju Gele Lah memakan waktu lebih dari satu jam berjalan kaki menembus jalur menanjak sejauh lima kilometer.

Rombongan Sali berjalan tanpa banyak bercakap, hanya suara gesekan alas kaki di atas jalan makadam— jalan yang dipadatkan dengan pecahan batu— dan desau angin di antara pohon pinus yang terdengar.

Selepas shalat Jumat di Masjid Bebesen, rombongan berhenti sejenak di rumah Sali. Di sana, mereka beristirahat sembari menikmati makan bersama yang telah disiapkan oleh Inen Sali. Aroma suel petukel, sukun tumbuk yang dikukus dan dicampur dengan kelapa parut, ikan depik masak asam pedas sejenak meredakan ketegangan. Namun bagi Sali, setiap suapan terasa hambar.

Pikirannya sudah melompati rumah Kumala yang jaraknya tak sampai satu setengah kilometer dari tempatnya duduk. Aturan adat tetaplah kompas yang tak boleh dilanggar. Sali dan keluarganya tidak diperkenankan ikut.

Selepas Ashar, rombongan Aman Juki melangkah menuju rumah panggung Aman Gading. Langkah kaki mereka mantap dan tenang di atas jalan tanah berbatu. Begitu tiba di depan tangga, Aman Juki berhenti sejenak, meluruskan letak kopiah barunya yang miring, lalu berdehem—sebuah kode bagi tuan rumah.

"Assalamu'alaikum," suara Aman Juki bergema pelan namun tegas.

Dari dalam rumah, terdengar jawaban salam yang tak kalah berwibawa. Aman Gading sendiri yang turun menyambut di ambang pintu, mempersilakan mereka menaiki anak tangga kayu yang berderit rendah ketika diinjak.

Suasana serambi berubah menjadi sakral. Sesuai adat Gayo, rombongan Aman Juki ditempatkan untuk duduk di bagian uken, dekat dinding utama sebagai bentuk penghormatan, sementara pihak tuan rumah duduk di bagian julu, lebih dekat ke arah luar.

Di samping Aman Gading, telah duduk seorang pria paruh baya bernama Aman Lintang—paman Kumala, adik ayahnya yang sengaja datang dari Jongok Meleum untuk mengawal martabat keluarga ini.

Di tengah-tengah lingkaran mereka, puan, wadah kuningan diletakkan dengan sangat hati-hati. Di dalamnya, daun sirih, pinang, kapur, gambir, dan tembakau tertata rapi di atas kain bermotif khas Gayo. Wadah khusus itu sudah menyimpan jejak sejarah banyak perjodohan sebelumnya.

Aman Juki memperbaiki posisi duduknya. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma sirih menenangkan sarafnya sebelum memulai melengkan—seni berbicara menggunakan sastra lisan yang penuh kiasan dan berlapis makna. Suaranya rendah, berwibawa, namun matanya tetap menunduk, tidak menatap langsung ke arah tuan rumah sebagai tanda hormat yang mutlak.

"Assalamu'alaikum, salam sejahtera i kite.

Pintu ni Ama tengah bebuke, umah ni Ama tengah beteduh.

Ara ke rezeki si jeroh. Ara ke ngimpi si jeroh di kite?”

(Salam sejahtera bagi kita. Pintu ayahanda sedang terbuka. Rumah ayahanda sedang berteduh. Adakah rezeki yang baik, adakah mimpi yang indah di antara kita?)

“Kami ingin bertanya, adakah bunga yang mekar di taman Ama? Adakah burung yang sudah jinak di sangkar, atau adakah yang sudah lebih dulu menaruh tali, adakah yang sudah lebih dulu meminangnya?”

Setelah Aman Juki melontarkan kiasan tentang “bunga di taman”, suasana serambi menjadi hening sejenak. Aman Lintang, sang paman dari Jongok Meleum, tidak terburu-buru menjawab.

Ia meraih sebungkus tembakau, mencubitnya sedikit, lalu melumatnya di sela bibir. Matanya menatap langit-langit rumah panggung, ia sedang fokus menyusun bait-bait balasan yang setimpal. Sebagai perwakilan tuan rumah, Aman Lintang kemudian membalas dengan nada yang tak kalah rendah dan berwibawa.

“Assalamu'alaikum, salam sejahtera kita. Pintu tengah berbuka. Rumah tengah berteduh. Benar kata Sudere, bunga di taman kita memang sedang mekar, harumnya sampai ke jalan setapak. Namun, kami ingin bertanya balik kepada Sudere yang datang membawa niat...”

Lihat selengkapnya