KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #15

MUNGERJE KILAT - PERNIKAHAN DARURAT

Setelah menandaskan makanannya, Aman Juki membasuh tangan di kendi, lalu menyeruput kopi Gayo-nya yang masih panas. Ia menatap Sali yang duduk respek di hadapannya dengan tatapan tajam namun kebapakan.

"Sali, dengar baik-baik," Aman Juki memulai, jemarinya perlahan memilin sisa tembakau. "Bunga sudah kau pagar, tapi pagar itu bukan hanya kayu mati. Pagar itu adalah pundakmu. Menjadi laki-laki di Gayo bukan cuma soal bisa menyembelih kambing untuk pesta, tapi soal bagaimana kau menjaga marwah kehormatan keluarga yang kau jemput."

Ia berhenti sejenak, membiarkan jangkrik memamerkan kebolehannya dalam "bernyanyi", mengisi keheningan serambi.

"Kau beruntung, Aman Gading itu orang lurus. Tapi ingat, emas yang tadi kuserahkan itu bukan cuma logam. Itu adalah penamat, pegangan harga diri. Mulai besok, setiap biji kopi yang kau petik dan setiap peluh yang jatuh di kebun, tujuannya bukan lagi cuma untuk perutmu sendiri. Kau sedang membangun dermaga yang kokoh untuk perahumu bersandar selamanya. Jangan sampai perahu itu karam karena nakhodanya lalai."

Sali hanya bisa menunduk khidmat, mendengarkan setiap kata yang terasa lebih berat daripada beban karung kopi di gudang timbangan. Ia tahu, nasihat dari seorang Aman Juki adalah pelajaran hidup yang sangat berharga.

Malam di Blang Gele mulai menggeliat, merayap naik. Hawa dingin yang menusuk tulang merayap turun dari puncak-puncak pinus, membawa kabut tebal yang menyelimuti perkebunan kopi layaknya kain kafan putih. Suara jangkrik yang tadinya riuh, perlahan membisu, ditelan deru nafas angin pegunungan yang bersiul tajam di sela-sela atap ijuk.

Tanah makadam yang tadi diinjak rombongan Aman Juki kini membeku, lembap oleh embun yang mulai mengkristal. Namun, di dalam rumah Sali, kehangatan dan kedamaian baru saja dimulai.

Lampu tempel di serambi rumah Aman Sali bergoyang pelan saat hembusan angin melintasinya. Di atas tikar pandan, gelas-gelas kopi sudah menyisakan ampasnya yang pekat. Aman Juki menyandarkan punggungnya ke tiang rumah, menatap Aman Sali dengan pandangan yang hanya dimiliki oleh dua orang yang sudah berteman sejak kecil.

"Engi, jangan kau pikir emas itu sudah cukup untuk memagarinya," ujar Aman Juki sambil memilin tembakau. Suaranya rendah, khusus didengar untuk telinga teman lamanya itu yang sudah dianggap adik sendiri.

Aman Sali mengangguk khidmat. "Aku paham, Bang. Tapi surat jaminan dari Adriaan itu sudah di tangan Aman Gading. Harusnya si Belanda itu tahu batas."

"Belanda tidak mengenal batas, Engi. Mereka hanya mengenal 'milikku' atau 'bukan'," Aman Juki memajukan tubuhnya ke depan. "Anakmu Sali, harus segera menghalalkannya. Jangan tunggu minggu berganti. Makin lama gadis itu di rumah ayahnya, makin besar celah si administrateur itu untuk menjemputnya kembali."

Kita harus segera menikahkan anak kita secara kilat, untuk mupageren dari cengkeraman Belanda itu. Memagari keselamatan anak kita menggunakan kekuatan hukum adat.

Aman Sali menoleh ke arah istrinya yang sejak tadi menyimak. Inen Sali memberikan isyarat halus dengan anggukan kecil.

"Tiga hari lagi, Bang," putus Aman Sali tegas. "Senin malam setelah Isya. Kita lakukan sederhana saja di rumah Aman Gading. Kita akan datang tanpa rebana, tanpa keramaian. Cukup Imem, saksi, dan janji yang tulus."

Sali yang duduk di belakang ayahnya hanya terdiam, namun kepalan tangannya di atas lutut mengeras. Tiga hari, dari Jumat ke Senin, terasa sangat lama saat ia tahu Kumala sedang hancur di rumahnya sana, terkepung oleh trauma dan bayang-bayang kuasa Wilhelmina.

Tak sampai satu setengah kilometer dari rumah Sali di Gele Lah yang riuh dengan rencana, rumah Aman Gading di Blang Gele tenggelam dalam kesunyian yang muram.

Di kamar, Mutia sedang menyuapkan sesendok bubur nasi hangat ke mulut Kumala, namun adiknya itu bergeming, menatap kosong ke arah langit-langit kamar.

Tiga hari telah berlalu sejak kejadian di kantor administrateur itu, namun bagi Mutia, Kumala seolah telah kehilangan jiwanya di sana. Kumala yang sekarang hanyalah raga yang dingin.

"Makanlah sedikit, Mala," bisik Mutia dengan nada memohon. "Sali sedang berjuang untukmu di sana. Jangan biarkan tubuhmu layu sebelum dia menjemputmu."

Mutia meletakkan mangkuk bubur itu karena Kumala tetap bungkam. Ia kemudian meraih sebotol minyak urut beraroma jahe dan serai, lalu mulai memijat kaki adiknya yang terasa kaku untuk melancarkan kembali aliran darahnya. Mutia tahu, setiap kali angin malam bersiul di sela dinding papan, Kumala akan tersentak—mengira itu adalah langkah sepatu bot Adriaan yang datang menjemput dirinya.

"Tegarlah adikku,” sambung Mutia sambil merapatkan upuh jebel, selimut di tubuh adiknya. "Hanya tinggal menunggu waktu. Setelah itu, kau punya pagar yang sah. Belanda keparat itu tidak akan bisa menyentuhmu lagi."

Kumala akhirnya memejamkan mata, namun air mata tetap mengalir di sudutnya. Di rumah yang sunyi itu, Mutia menyadari bahwa luka adiknya tidak akan sembuh hanya dengan ramuan atau pijatan. Ia hanya berharap Sali cukup kuat untuk memikul sisa-sisa kehancuran ini.

Waktu merangkak hingga Senin malam tiba. Sali menantikannya dengan perasaan mendesak. Langit Gele Lah dan Blang Gele seolah ikut bersekongkol, membungkus dua kampung yang berdekatan itu dengan kabut yang luar biasa tebal, menyembunyikan rombongan kecil dari rumah Sali yang bergerak menembus jalan setapak. Tidak ada obor yang menyala terang, hanya satu lampu badai yang digenggam Aman Juki untuk menuntun langkah mereka menembus pekatnya malam sepanjang jalan setapak antar-kampung itu.

Di serambi rumah Aman Gading, suasana terasa begitu pekat. Tidak ada wangi masakan pesta, hanya aroma bakong ijo yang terbakar sia-sia di asbak tanah liat.

Di atas tikar pandan yang masih baru, hanya ada Imem kampung, Aman Gading, dan Aman Lintang yang duduk melingkar dengan wajah kaku.

Begitu Sali dan ayahnya masuk, udara seolah makin menghimpit. Tidak ada basa-basi, tidak ada sapaan berakah.

"Mari kita mulai sebelum kabut makin tebal," bisik Aman Lintang, matanya melirik waspada ke arah pintu kayu yang sengaja dipalang dari dalam. Sali duduk bersila, lututnya nyaris bersentuhan dengan Aman Gading.

Di bawah cahaya lampu teplok yang minyaknya terisi penuh, Sali bisa melihat tangan calon mertuanya itu bergetar. Aman Gading bukan hanya sedang menikahkan anaknya; ia sedang menyerahkan sisa martabat keluarganya kepada pemuda yang baru saja melepaskan jabatan keraninya itu.

Di balik tirai kamar, Kumala duduk mematung dengan baju kurung nila, didampingi Mutia yang tak henti menggenggam jemarinya yang dingin, seperti tidak dialiri darah.

Begitu suara Sali terdengar mantap mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas, Mutia merasakan cengkeraman tangan Kumala mengencang, seolah sedang berpegangan pada dahan terakhir sebelum jatuh.

“Saaah!!” seru saksi serempak dengan nada rendah.

Suara itu bukan sorakan, melainkan embusan napas lega yang berat. Suasana haru yang menyesakkan menyergap ruangan itu.

Tidak ada doa panjang yang berbunga-bunga, hanya isak tangis tertahan dari balik tirai yang memisahkan dunia luar dengan rahasia mereka. Aman Gading tertunduk dalam, bahunya yang biasanya kokoh kini terguncang pelan.

Usai ijab kabul selesai, sang Imem mengusap janggutnya lalu menatap ayah pengantin wanita dengan serius.

Lihat selengkapnya