Matahari baru saja memanjat puncak-puncak pinus ketika Sali dan Kumala melangkah menuju kebun kopi mereka. Sali memanggul sebuah keranjang anyaman besar, dengan parang diletakkan di dalamnya, sementara Kumala berjalan di sampingnya dengan tas anyaman pandan hutan untuk membawa bekal.
Tidak ada lagi seragam putih bersih atau sepatu kulit yang biasa Sali kenakan ke kantor administrateur; kini ia cuma mengenakan celana blacu hitam dan jembolang, penutup kepalanya.
Kebun kopi mereka memang kecil, terletak di lereng yang agak tersembunyi dari jalur utama perkebunan Wilhelmina. Namun, bagi mereka, tanah ini terasa seperti tanah merdeka.
Sali mulai mengayunkan parang, mencungkil tanahnya untuk mengambil keladi dan ubi kayu. Suara mata besi yang menghujam tanah merah yang lembap mengeluarkan irama yang konsisten dan alami. Ditemani kicauan burung kutilang dan murai di pucuk pohon lamtoro.
Setiap ayunan lengan Sali bukan sekadar gerakan, itu adalah pelampiasan amarah yang ia ubah menjadi tenaga. Ia membayangkan setiap bongkahan tanah yang ia balik adalah rantai masa lalu yang ia putuskan.
Di sebelahnya, Kumala bergerak di antara barisan pohon kopi dengan keanggunan yang mulai pulih. Jemarinya yang ramping menari di sela-sela ranting, memetik hanya buah yang benar-benar ranum.
"Abang Sali… lihat ini!" seru Kumala pelan.
Sali menancapkan parangnya ke tanah dan mendekat. Kumala menunjukkan sekelompok buah kopi yang tumbuh begitu rapat, warnanya merah pekat hingga hampir ungu. Saat Kumala memetiknya, butiran-butiran itu jatuh ke wadah bambu dengan bunyi klotak-klotak yang merdu.
Sali memperhatikan bagaimana sinar matahari pagi yang menembus celah dedaunan membentuk pola cahaya di wajah istrinya, membuatnya tampak lebih segar dan hidup.
"Ini adalah kopi terbaik yang pernah kulihat, Mala," gumam Sali. Ia meraih satu buah dari tangan Kumala, merasakannya di antara ibu jari dan telunjuknya. Teksturnya padat dan permukaannya licin mengkilap.
"Di kantor administrateur dulu, aku biasa membuat laporan tentang kualitas kopi ekspor ke Eropa. Tapi tak satu pun dari angka-angka di atas kertas itu yang bisa menandingi rasa hangat saat melihat Adik memetiknya di kebun kita sendiri."
Mereka terus bekerja dalam keheningan yang nyaman. Sesekali, Sali berhenti hanya untuk memastikan Kumala tidak terlalu lelah. Ia akan berjalan mendekat, mengambil alih wadah yang mulai berat di pinggang Kumala, dan memindahkannya ke keranjang besar di bawah pohon pelindung.
Dalam setiap sentuhan tangan yang tidak sengaja terjadi saat pemindahan itu, ada sengatan listrik kecil yang membuat Kumala tersipu—sebuah kemesraan yang selama ini terkubur oleh ketakutan, kini mulai bersemi kembali bersama wangi bunga kopi yang merebak di udara.
Di sela-sela batang kopi yang rimbun, Sali mulai mencungkil tanah lagi untuk menanam umbi-umbian—tanaman tumpang sari yang selalu ada di kebun kopi mereka.
"Lihat, Bang!" Kumala menunjuk ke arah pucuk-pucuk kopi yang mulai memerah. "Bunganya sudah menjadi buah. Tahun ini panen kita akan baik."
Kumala mulai memetik dengan jemari yang lincah. Meski sesekali ia terdiam, menatap ke arah kantor pusat Wilhelmina yang tampak sayup di kejauhan, ia segera memalingkan wajah dan kembali fokus pada kopinya.
Sali yang menyadari kegelisahan itu, sesekali berhenti mencungkil tanah hanya untuk sekadar berdiri di dekat Kumala, memastikan bayangannya menyentuh punggung istrinya—sebuah pesan tanpa kata bahwa ia selalu ada di sana.
Siang itu, mereka makan di bawah pohon petai cina yang rindang. Hanya nasi putih, sambal terasi dan sedikit ikan depik kering, namun rasanya jauh lebih nikmat daripada jamuan makan di rumah dinas perkebunan.
Di sini, di bawah matahari mereka sendiri, tidak ada perintah administrateur, tidak ada tatapan merendahkan dari Mandor Jalil atau Mandor Karto. Hanya ada suara angin pegunungan dan harapan yang mulai tumbuh sekuat akar-akar kopi di sekeliling mereka.
Sali menutup bungkusan nasi daun pisangnya yang telah bersih. Ia bersandar pada batang pohon lamtoro yang kasar, membiarkan kakinya berselonjor di atas rumput. Di sampingnya, Kumala sedang merapikan sisa makan mereka. Sali menatap jemari Kumala, lalu pelan-pelan ia meraih tangan itu dan menggenggamnya.
"Mala," panggil Sali, suaranya kini lebih dalam. "Dulu, saat aku masih duduk di belakang meja di kantor Wilhelmina, aku sering membayangkan rumah besar dengan lantai semen dan lampu petromaks. Aku pikir itulah puncak kebahagiaan seorang lelaki."
Kumala menoleh, menatap Sali dengan binar ingin tahu. "Lalu sekarang?"