KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #17

PERSALINAN MAUT

Waktu bergulir cepat. Tidak terasa, pernikahan Sali dan Kumala sudah berjalan tujuh bulan. Perut Kumala semakin membesar, menyembul di balik kain sarungnya yang kini ia lilitkan lebih tinggi di atas pinggang.

Setiap gerakannya kini melambat, namun binar matanya jauh lebih tenang, seolah janin yang ia kandung telah menyerap habis sisa-sisa trauma yang pernah menghantui jiwanya."

Sali pun tak lagi membiarkan Kumala memanjat lereng kebun yang curam. Ia menjadi lebih sigap; sebelum matahari tegak, ia sudah memastikan persediaan air di dalam tempayan penuh dan tumpukan kayu bakar di dapur tersusun rapi.

Baginya, setiap denyut di perut Kumala adalah detak harapan yang harus ia jaga lebih dari nyawanya sendiri.

Ama sangat senang menantikan kelahiran cucu pertamanya, begitu juga Mutia. Ia sudah lama mendambakan anak, namun sebelum harapannya terwujud, suaminya sudah terburu jatuh ke pelukan wanita lain.

Kumala sudah tidak lagi bekerja di kebun, mengingat kehamilannya yang sudah besar. Ia hanya mengerjakan pekerjaan kecil untuk menghindari kejenuhan di rumah.

Sore itu, kabut tipis mulai turun menyelimuti atap ijuk rumah panggung mereka, membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran kulit kopi dari kejauhan.

Sali berjalan menuruni lereng kebun dengan langkah yang masih kokoh meski punggungnya menggendong keranjang yang penuh keladi dan ubi kayu. Ia sudah tak sabar ingin segera “melihat” anak yang masih dalam kandungan ibunya.

Sesampainya di ambang pintu dapur, pria muda itu melepaskan jembolangnya, menyeka keringat yang membasahi dahi dengan ujung penutup kepalanya itu.

"Kumala," panggil Sali lembut.

Di sudut ruang dapur, sambil duduk berselonjor di lantai papan, Kumala sedang memilah pucuk pakis untuk makan malam. Sali mendekat, meletakkan parangnya di pojok dapur, lalu berjongkok di samping istrinya. Tangannya yang kasar karena pekerjaan kebun menyentuh lembut perut Kumala yang membulat.

"Sudah, jangan diteruskan lagi pekerjaannya. Biar Abang yang selesaikan," ucap Sali pelan sembari mengelus perut istrinya. "Anak kita ini sudah ingin istirahat, dia butuh ibunya tenang."

Kumala tersenyum, menyandarkan kepalanya ke bahu Sali. "Aku hanya jenuh, Bang. Jika hanya duduk diam, pikiranku sering lari ke tempat yang tidak-tidak."

"Jangan ingat lagi masa lalu itu," potong Sali tegas namun penuh kasih. "Sekarang hanya ada kita dan dia. Jika nanti dia lahir, aku tidak ingin dia melihat ibunya layu. Dia harus melihat ibu yang kuat."

Sali menghela napas, pandangannya tertuju pada perut yang berdenyut kecil di bawah telapak tangannya.

Sali mengelus perut itu dengan gerakan melingkar, sebuah kebiasaan baru yang memberinya ketenangan luar biasa.

"Dengarlah, Nak. Jangan kau buat ibu letih. Lahirlah dengan selamat, biar nanti aku ajarkan kau cara menyiangi kebun kita.”

Ama, yang sedari tadi duduk di ruang tengah sembari merapikan tali keranjang yang sedikit koyak, menyela pembicaraan.

Di sampingnya, Mutia sedang menyiapkan bedak dingin dari kunyit dan beras untuk dioleskan ke perut adiknya nanti sebelum tidur.

"Sali," Ama memanggil tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.

"Sudah kau pikirkan siapa namanya nanti? Kita orang Gayo tidak boleh sembarang memberi nama. Itu adalah doa yang kau tanam di tanah ini."

Sali menoleh. "Saya terpikir nama Hasan, Ama. Nama yang bagus dan berkah. Saya ingin dia tumbuh menjadi lelaki yang tampan budi pekertinya, seperti arti namanya."

Ama mengangguk pelan, menyetujui. "Hasan itu nama yang mulia. Tapi jangan lupa, panggilannya harus pas. Jika dia laki-laki, kelak dia akan menjadi harapan keluarga kita. Tapi Mutia punya usul lain semalam, katanya dia bermimpi tentang bunga."

Mutia tersenyum tulus, meski ada sedikit getir di sudut matanya saat teringat rumah tangganya sendiri yang kandas.

“Saya bermimpi melihat taman yang indah, Ama. Maka saya usul namanya Bunge. Agar dia cantik dan mengharumkan nama keluarga kita. Atau Lemi, agar hatinya selembut sutra tapi sekuat akar meranti."

Kumala menyentuh tangan kakaknya. "Apapun namanya, Aka Mutia, aku ingin Aka yang pertama kali menggendongnya setelah biden membersihkannya nanti.”

Mutia tertegun, matanya berkaca-kaca. Perasaan iri yang sempat menghantuinya mendadak luruh oleh ketulusan Kumala.

Di rumah panggung itu, di tengah dinginnya malam Blang Gele, rencana tentang kehidupan baru menjadi kehangatan yang lebih nyata daripada api di tungku.

Malam semakin larut di Blang Gele. Sali dan Kumala sudah masuk ke dalam kamar, menyisakan Ama dan Mutia yang masih duduk di dekat tungku perapian di ruang tengah. Suara potongan kayu suren yang terbakar sesekali meletup, memecah kesunyian. Minyak atsiri dari kayu itu menebarkan aroma wangi yang khas. Mutia tampak sibuk menusukkan jarum ke kain kerawang yang sedang ia sulam, namun pandangannya kosong.

Ama memperdalam tarikan bakong ijonya, lalu mengembuskan asapnya perlahan. Ia menatap anak perempuannya itu dengan iba.

"Mutia," panggil Ama pelan.

Mutia tersentak kecil, lalu menoleh. "Ya, Ama?"

"Jangan simpan mendung itu di mata kau. Ama tahu apa yang kau pikirkan saat melihat perut adik kau tadi," ucap Ama dengan nada yang sangat rendah, seolah tak ingin suaranya menembus pintu kamar Sali.

Jemari Mutia berhenti bergerak. Ia menunduk, menusukkan jarumnya ke bantalan kain.

Lihat selengkapnya