KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #18

SYAHID DI BALIK EMUN TEBEL

Langit Blang Gele seolah ikut berduka; abu-abu dan berat. Prosesi pemakaman Kumala tidak dilakukan dengan sembunyi-sembunyi seperti yang ditakutkan sebelumnya. Sebaliknya, jalanan setapak menuju pemakaman umum dipenuhi oleh lautan pelayat. Pria-pria mengenakan jembolang hitam, sementara para wanita berselubung kain panjang, berjalan dalam diam yang sakral.

Kumala tidak dilepas sebagai wanita yang ternoda. Di mata penduduk kampung, ia adalah seorang Syuhada. Kabar tentang kebenaran di balik surat jaminan itu telah menyebar, mengubah kemarahan menjadi rasa hormat yang mendalam. Mereka melihat Kumala sebagai benteng terakhir yang tegak demi melindungi orang tuanya dari kekejaman rodi.

Di bawah pohon kamboja tua berlumut, jasad Kumala perlahan diturunkan ke liang lahat. Aman Gading berdiri di tepi lubang, tubuhnya gemetar, matanya yang lamur menatap kosong ke arah kain kafan putrinya.

Setelah tanah merah menutup sempurna, para tokoh kampung mendekat. Imem yang memimpin doa, melangkah maju dan meletakkan tangannya di bahu Aman Gading yang layu.

"Jangan tundukkan kepala kau Aman Gading," ucap Imem dengan suara yang berat namun menenangkan. "Anak kau ini tidak mati membawa malu. Ia mati membawa cahaya. Di mata Tuhen, dia adalah anak yang suci karena telah mewakafkan dirinya demi keselamatan ayahnya. Dia mati syahid, Ama."

Reje, sang kepala kampung itu, mengangguk tegas. "Benar apa yang dikatakan Imem. Apa yang dilakukan Kumala adalah puncak dari pengabdian. Dia mengambil beban itu di pundaknya agar kau tetap bisa sujud di mersah. Jangan biarkan setan membisikkan rasa malu ke telinga kau. Kumala adalah marwah bagi kita semua."

Aman Juki, sahabat lama Aman Gading, merangkul pundak pria tua itu dengan erat.

"Aman Gading, lihatlah sekeliling kau. Semua orang datang bukan untuk mencibir, tapi untuk memberi hormat. Tidak banyak anak yang punya nyali sebesar Kumala. Banggalah padanya. Mulai hari ini, anak yang ia tinggalkan adalah anak kita semua. Biar dunia tahu, orang Gayo tidak akan membuang darah daging pahlawannya."

Aman Gading menarik napas panjang, dadanya yang sesak perlahan mulai melonggar. Untuk pertama kalinya sejak malam maut itu, ia berani mengangkat wajahnya.

Di kejauhan, ia melihat Sali berdiri tegak menatap makam istrinya. Ada kepedihan, namun ada kebanggaan yang mulai tumbuh di sana. Kumala telah pergi, tapi ia meninggalkan sebuah pesan tentang cinta yang melampaui batas harga diri.

Langkah Sali maju ke tepi pusara yang masih basah itu membuat suasana yang tadinya riuh rendah oleh doa, mendadak hening. Di dekapannya, terbungkus kain sarung kerawang peninggalan Kumala, bayi mungil berkulit pucat itu menggeliat pelan.

Sali mengangkat bayi itu tinggi sejajar dengan dadanya, tepat di hadapan Imem, Reje, dan ratusan pasang mata penduduk Blang Gele. Tidak ada keraguan di wajahnya; yang ada hanyalah ketegasan seorang pria yang telah melampaui puncak rasa sakitnya.

"Saksikanlah semua!" suara Sali menggelegar, membelah kesunyian pemakaman. "Anak ini adalah darah daging Kumala. Dia lahir dari rahim seorang syuhada yang menukar kehormatannya demi nyawa ayahnya. Jika ada di antara kalian yang ingin meludahi wajah anak ini karena warna kulitnya, maka langkahi dulu mayatku!"

Penduduk kampung tertegun. Kata-kata Sali bukan sekadar pembelaan, melainkan proklamasi harga diri. Satu per satu, para tetua kampung menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Bayi yang tadinya dianggap sebagai monumen aib, kini diterima sebagai warisan pengorbanan yang suci.

Sementara itu, jauh di balik rimbunnya pohon pinus yang membatasi pemakaman dengan jalan setapak menuju perkebunan, Mandor Jalil berdiri mematung. Ia bersembunyi di balik bayang-bayang batang pohon yang kasar, tangannya gemetar saat memegang dahan. Dari kejauhan, ia melihat pemandangan yang mengerikan bagi posisinya: Persatuan.

Melihat Sali yang begitu perkasa membela anak itu, dan mendengar dukungan para tokoh kampung, nyali Jalil menciut. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia segera memutar tubuhnya, melangkah terburu-buru menjauh dari tempat itu.

Kabar tentang kematian tragis itu merambat lebih cepat dari api yang membakar semak kering. Bermula dari bisikan biden, dukun beranak yang membantu persalinan Kumala, desas-desus tentang bayi “bermata kucing” dan berkulit pucat di rumah Sali meledak menjadi aib yang tak terperikan.

Bagi warga Blang Gele, kelahiran bayi Indo itu bukan sekadar kelahiran biasa; itu adalah penghinaan telak terhadap mukemel seluruh suku Gayo.

"Tanah kita suci, tapi rahim perempuan kita dinodai kumpeni jahanam itu!" teriak salah seorang pemuda di depan mersah.

“Marwah perempuan kita sudah direndahkan!”

“Kita serbu kantor itu nanti malam!” timpal yang lain.

Suasana memanas. Di hari Minggu selepas Ashar, puluhan pria berkumpul di pelataran mersah, tangan mereka menggenggam erat gagang amanremu. Luka lama akibat kerja rodi yang menindas dan pajak yang mencekik kini menemukan pemantiknya.

Mereka tidak lagi hanya ingin menuntut keadilan bagi Kumala, tapi ingin mencuci malu dengan darah. Rencana serangan ke kantor administrateur disusun dalam emosi yang meluap.

Namun, pengkhianatan memiliki telinga di mana-mana. Mandor Jalil, yang selama ini menjadi kaki tangan perusahaan demi posisi aman, mencium pergerakan itu. Jalil mengira kematian Kumala akan membuat keluarga itu hancur dan dikucilkan oleh penduduk kampung, sehingga posisinya sebagai kaki tangan Adriaan akan tetap aman. Namun, ia salah besar.

Dengan napas memburu, ia memacu kudanya menembus hutan pinus menuju kompleks perkebunan kopi. Jalil langsung menemui Adrian di rumah dinasnya.

"Tuan! Orang-orang kampung sudah gila! Mereka akan membakar kantor ini malam nanti!" lapor Jalil dengan wajah pucat di depan Adriaan Van der Vlies.

Lihat selengkapnya