KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #19

KEMBALI KE RUMAH AMA

Pagi berikutnya, tanpa menunggu matahari tegak, Sali kembali mendaki lereng menuju Blang Gele. Kali ini ia tidak membawa tas kosong. Ia membawa mahar sederhana dan niat yang bulat.

Sesampainya di halaman rumah, ia melihat Mutia sedang berusaha membelah kayu bakar dengan tangan yang gemetar. Sali langsung merebut kapak itu dari tangan Mutia tanpa berkata-kata. Ia membelah kayu itu dengan satu hentakan kuat, seolah melepaskan seluruh keraguannya. Mutia berdiri mematung, menatap Sali dengan mata yang berkaca-kaca.

"Aku kembali, Aka," ucap Sali pelan sembari menyeka keringat di dahinya. "Bukan sebagai iparmu, tapi jika kau bersedia... sebagai imam di rumah ini. Demi Hasan. Demi amanah Ama."

Mutia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan sembari menyeka air matanya dengan ujung baju.

Sali tahu, pernikahan ini tidak akan diawali dengan mahar besar dan pesta meriah. Ini adalah pernikahan tentang tanggung jawab. Tentang bertahan hidup di tengah badai kolonial.

Malam itu, di depan Imem dan beberapa saksi, Sali mengucapkan akad yang kedua kalinya di bawah atap rumah yang sama. Namun kali ini, ia tidak hanya menikahi seorang wanita, ia menikahi sebuah takdir untuk menjaga rahasia besar di balik wajah pucat Hasan.

Malam-malam awal setelah akad nikah itu dilalui dalam sunyi dan kecanggungan yang menggigit. Meski kini sah sebagai suami-istri, Sali tetap menggelar tikar pandannya di ruang tengah, di dekat tungku penghangat yang apinya dikecilkan.

Ia masih merasa kamar itu adalah wilayah suci Kumala. Baginya, melangkah ke sana terasa seperti mengkhianati nisan yang tanahnya masih basah di ingatannya.

Mutia pun sama. Di dalam kamarnya, ia berbaring terjaga di samping Hasan. Detak jantungnya kerap berpacu saat mendengar derit lantai kayu dari ruang tengah—pertanda Sali sedang mengubah posisi tidurnya.

Tiga tahun berlalu sejak suaminya yang dulu pergi meninggalkannya demi wanita lain, dan tubuh Mutia seolah telah lama terkunci dalam kedinginan yang beku. Namun kini, keberadaan seorang pria di rumah itu, meski hanya dipisahkan oleh selembar tirai kain, mulai mencairkan kebekuan tersebut.

Malam itu, hujan turun membasahi atap ijuk, mengeluarkan suara lembut dan teredam. Seperti bisikan berirama menenangkan yang justru membuat suasana di dalam rumah terasa semakin intim dan syahdu.

Sali terbangun karena hawa dingin yang menggigilkan. Ia bangkit untuk menambah kayu ke dalam tungku perapian. Saat itulah, ia melihat tirai kamar sedikit tersingkap.

Mutia berdiri di sana, hanya mengenakan kain sarung yang dililitkan sebatas dada. Rambutnya yang panjang tergerai, dan matanya menatap Sali dengan binar yang tidak bisa disembunyikan. Ada dahaga yang terpancar di sana, sebuah undangan bisu dari seorang wanita yang sudah terlalu lama menahan gairah romantis.

Sali terpaku. Hasrat kelelakiannya yang selama ini ia tekan demi rasa hormat, tiba-tiba bangkit secara alami. Ia melangkah mendekat, langkahnya berat dan ragu. Saat ia berdiri di hadapan Mutia, harum minyak kelapa dan aroma tubuh wanita yang hangat menerpa indra penciumannya.

Sali mengulurkan tangan, menyentuh pipi Mutia yang terasa halus namun bergetar. Mutia memejamkan mata, kepalanya cenderung dekat ke telapak tangan Sali, mencari kehangatan yang sudah lama ia rindukan.

Sali mulai mencondongkan wajahnya, namun tepat saat bibirnya nyaris menyentuh kening Mutia, bayangan wajah Kumala yang pucat di saat-saat terakhirnya melintas begitu nyata. Sali tersentak kecil, napasnya memburu.

Mutia menyadari keraguan itu. Ia meraih tangan Sali, menggenggamnya kuat dan menempelkannya ke jantungnya yang berdegup kencang.

"Sali," bisik Mutia, suaranya parau oleh keinginan. "Jangan kam cari dia di wajahku. Kumala sudah tenang di sana. Malam ini... aku adalah istri kam. Aku bukan lagi kakak kam."

Kata-kata itu seolah meruntuhkan tembok terakhir di hati Sali. Ia menarik Mutia ke dalam dekapannya. Mutia membalas dengan pelukan yang lebih erat, seolah takut jika ia melepaskannya, Sali akan berubah kembali menjadi bayangan.

Sali mencium puncak kepala Mutia perlahan, mencoba mengubur rasa bersalahnya. Ciuman itu terus berlanjut, hingga Sali mengulum bibir Mutia yang setengah terbuka. Di tengah suara hujan yang semakin deras menggigilkan, mereka berdua tenggelam dalam keintiman dan kehangatan yang canggung namun jujur, mencoba menjahit luka mereka menjadi sebuah awal kehidupan yang baru.

Lihat selengkapnya