KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #20

SINYAL CINTA DI RUMAH MAKAN

Jakarta, 2026.

Jalan Kebon Kacang Raya di kawasan Thamrin siang itu seperti kawah Merapi yang sedang aktif. Aspal jalanan seakan meleleh. Hawa panas mengantarkan aroma gurih rendang dan gulai tunjang dari arah RM Padang TAMBUAH CIEK, langganan para karyawan di perkantoran sekitarnya.

Di dalam warung saat jam makan siang yang penuh sesak itu, suara piring beradu, denting sendok di gelas dan keriuhan pesanan, menjadi “orkestra tanpa dirigen” yang lazim terdengar. Ditambah lagi tatapan tidak sabar karena perut yang keroncongan, menyertai wajah orang-orang yang ingin lebih dulu dilayani.

Amelia duduk bersama dua teman dekat kantornya. Sambil sesekali mengaduk es teh manis yang mulai mencair, ia mengedarkan matanya menyapu sudut-sudut ruangan di warung makan itu.

Saat itulah, pandangannya tersangkut. Di meja seberang, seorang pria berkemeja biru navy yang lengannya digulung sebatas siku, dengan logo BCA di bagian dada sebelah kiri, tertangkap basah sedang menatapnya.

Pria itu, Rangga, tertegun sejenak dengan sendok yang masih menggantung di udara. Amelia yang sedang menyedot es tehnya, membalas tatapan itu selama tiga detik sebelum akhirnya memalingkan muka dengan pipi yang mendadak terasa lebih panas dari kuah gulai.

Pertemuan pertama itu berlalu tanpa kata, hanya sisa degupan yang tertinggal di balik lanyard masing-masing.

Dua hari kemudian, takdir kembali mempertemukan mereka di meja yang hampir sama. Seperti biasa, Amelia datang bersama dua teman dekatnya. Salah satu temannya, Shanaz, yang memiliki radar tajam soal urusan asmara, menyenggol lengan Amelia pelan sambil berbisik di balik telapak tangannya.

"Sis, cowok di seberang itu... dari kemarin gue perhatiin ngelihatin lo terus. Kayaknya dia naksir, deh. Liat tuh, mukanya langsung salah tingkah pas lo nengok!"

Amelia pura-pura sibuk menghabiskan ayam popnya, tapi sudut matanya tak bisa bohong. Di seberang sana, Rangga memang sedang berjuang keras antara fokus ke piringnya atau memberanikan diri mengirim senyum kecil.

Rangga sepertinya sudah membulatkan tekad. Saat mata mereka kembali bertabrakan untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit, ia tidak lagi berekspresi dingin dan kaku. Sebaliknya, pria itu menarik sudut bibirnya, mengirimkan sebuah senyuman kecil namun cukup untuk membuat Amelia hampir tersedak bumbu ayam pop. Senyum itu seolah berkata, ‘Iya, aku memang sedang memandangmu’.

Utami, teman Amelia yang satu lagi—yang sedari tadi sibuk membedah kepala ikan kakap—langsung menyambar momen itu. Ia menyikut lengan Amelia lebih keras dari yang pertama.

"Aduh, Sis! Liat tuh, pangeran dari Menara BCA sudah melempar kode keras! Senyumnya manis banget, gila. Tipe-tipe mas-mas IT yang sabar ngadepin eror, tapi nggak sabar pengen minta nomor WhatsApp lo tuh!"

Utami tergelak, suaranya sengaja dikeraskan sedikit agar Amelia makin salah tingkah. "Gimana, Mel? Balas dong senyumnya. Jangan diem aja kayak Patung Pancoran. Nanti kalo dia mundur, lo bakalan nyesel!"

Amelia hanya bisa menunduk, wajahnya sudah semerah kepiting saus Padang.

"Duh, Tami! Berisik banget sih, nanti orangnya denger!" bisiknya panik, meski dalam hati ada desiran aneh yang membuatnya diam-diam kembali mencuri pandang ke arah meja seberang.

Shanaz tidak mau kalah, ia menyenggol lengan Amelia sampai sendok teh di tangan temannya itu hampir terjatuh ke piring makannya.

"Bener kata Tami, Mel. Liat tuh, dia nggak cuma senyum, tapi udah pegang HP. Kayaknya lagi nunggu momen pas buat nyamperin lo, atau minimal nunggu kode 'lampu hijau' dari kedipan mata lo yang cantik itu!"

"Udah ah! Kalian tuh bikin malu aja," Amelia mendesis, jantungnya berdegup lebih kencang dari subwoofer DJ Mister Aloy. Ia pura-pura sibuk mengaduk jus jeruknya, padahal matanya berkali-kali "terpeleset" ke arah Rangga.

Di meja seberang, Rangga—yang saat itu baru saja menyudahi makan siang bareng rekan kantornya, Didit—memang sengaja menatap Amelia. Ada sesuatu pada gadis itu yang membuatnya merasa "eror" sesaat, lebih rumit dari bug kode mana pun yang pernah ia tangani.

Rangga berbisik pelan pada temannya, "Gila, Bro! Gue baru kali ini liat cewek makan nasi Padang tapi estetik banget. Gue samperin jangan ya?"

Teman Rangga tertawa kecil. "Hajar, Ngga! Lo kan Pangeran Menara BCA, samperin gih, mumpung temen-temennya udah ngasih 'umpan' tuh! Masa kalah sama gue yang bentar lagi mau jadi bokap!”

Amelia sudah tidak tahan lagi. Ia buru-buru menyambar tasnya, memberi kode keras pada dua sahabatnya untuk segera angkat kaki.

"Ayo balik! Kelamaan di sini bisa-bisa gue matang dikukus godaan kalian!" bisik Amelia panik.

Bukannya berhenti, Utami dan Shanaz saat melangkah keluar rumah makan, malah makin kencang menggoda. Sambil berjalan di trotoar panas, Utami menyenggol bahu Amelia.

"Mel, sadar nggak sih? Umur lo itu bukannya dikit lagi mau dua empat? Sampe kapan lo mau pelihara status jomblo kronis?" cerocos Utami tanpa rem. "Mumpung ada cowok slay dari Menara BCA yang jelas-jelas udah lempar kode, lo masih pasang harga tinggi aja. Kalo gue jadi lo sih, udah gue samber tuh! Sayang aja, gue udah tunangan."

Shanaz menimpali sambil cekikikan, "Bener, Mel. Tipe kayak gitu langka, lho. Visual oke, karier di perbankan mapan, kelihatannya sabar banget lagi. Lo mau nunggu pangeran berkuda putih dari metaverse, apa gimana?"

Amelia hanya bisa menghela napas panjang, menatap aspal Thamrin yang membara. Di kepalanya, bayangan senyum tipis pria dari Menara BCA tadi—yang belum ia tahu namanya, terus berputar-putar seperti loading video yang buffering.

"Gue cuma... nggak mau kelihatan gampangan, Tam," gumam Amelia pelan, meski dalam hati ia sudah mulai memikirkan kapan mereka akan makan siang di tempat yang sama lagi.

Apa yang Amelia pikirkan tentang makan siang di tempat yang sama lagi, rupanya berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan kedua temannya, Utami dan Shanaz

Sudah dua hari ini Amelia, Utami dan Shanaz berkeliling mencari makan siang ke arah yang berlawanan dari RM Padang TAMBUAH CIEK. Tapi kali ini, Amelia merasa hidungnya seperti kangen mencium aroma rendang yang membawa bayangan senyum cowok Menara BCA itu. Ia berniat mengajak teman kantornya singgah kesana.

"Gila ya, Jakarta panasnya makin nggak ngotak!" Utami mengipasi wajahnya dengan kipas angin portabel. "Mel, daripada muter-muter kayak nyari alamat, mending kita ke Gudeg Mbok Ning aja deh. Adem, ada kipas angin gedenya."

Amelia pura-pura berpikir, padahal dalam hati sedikit kecewa karena harapannya ke RM Padang TAMBUAH CIEK, pupus.

"Ya udah, deh. Gudeg juga oke. Padang terus bosen, kan?" jawabnya dengan nada seolah tak peduli, meski hatinya mencelos.

Lihat selengkapnya