KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #21

PDKT YANG INTENS

Sabtu siang, rumah di Tebet terasa sangat tenang dan tenteram. Di sofa ruang tamu yang empuk, Rangga sedang melonjorkan kaki. Di pangkuannya, sebuah laptop terbuka menunjukkan dasbor monitoring BCA Mobile yang grafiknya sedang landai—semua sistem hijau, safe. Matanya tajam memeriksa profil WA Amelia. Ia melihat status gadis itu:

‘Sabtu rasa Senin. Neraca nggak balance, hati merana. 📊☕’

Rangga langsung fast respond alias gercep.

Chat Rangga:

‘Nona akun masih di kantor? Perlu bantuan software engineer buat 'debugging' Excel-nya? Atau butuh asupan gula biar jurnalnya nggak error?’

Di kantornya yang dingin, Amelia mendengus tapi pipinya merona. Ia teringat foto profil Rangga yang gaya banget itu—berdiri di depan rak-rak server data center BCA.

Balasan Amelia:

‘Mas Rangga nggak libur? Di Akunting nggak ada istilah 'debugging', Mas. Adanya selisih yang bikin pusing. Hasil audit: Jangan ganggu orang lagi closing.’

Chat Rangga:

‘Libur dong. Ini lagi di rumah, lagi 'maintenance' kangen... eh, maksud saya maintenance sistem rumahan. Kalau Nona mau, saya bisa 'deploy' kopi arabika Gayo ke meja kantor Nona sekarang juga.’

Amelia hampir menjatuhkan kalkulatornya. "Duh, nekat banget ini Mas-mas IT!" gumamnya. Di kejauhan, ia mendengar suara mesin fotokopi, tapi di kepalanya hanya ada bayangan Rangga yang slay itu.

Melihat balasan Amelia yang ketus tapi tetap meladeni, Rangga tidak bisa menahan sudut bibirnya. Ia terkekeh pelan, menatap foto profil WhatsApp-nya sendiri—dirinya yang tampak gagah berdiri di depan deretan rak server Menara BCA yang penuh lampu indikator kelap-kelip.

‘Gaya banget gue di sini, pantesan Amelia gemetaran pas ngetik nomor,’ batinnya, narsis.

Tiba-tiba, tercium aroma harum buah menyegarkan yang samar mendekat. Suara langkah kaki yang sangat pelan, hampir tak terdengar, berhenti tepat di samping sofa.

"Ngga... kok senyam-senyum sendiri? Ada apa toh, Le?"

Rangga tersentak. Ia segera mematikan layar ponselnya, namun terlambat untuk menyembunyikan binar di matanya. Ibunya berdiri di sana, membawa sepiring mangga harum manis yang sudah dikupas bersih. Wajahnya teduh, suaranya lembut mendayu, tapi tatapannya seolah bisa menembus firewall paling ketat sekalipun.

"Eh, Ibu. Enggak, ini... cuma ada bug lucu di kantor, Bu," Rangga beralasan, suaranya agak gugup.

“Kamu kok, kalo libur di rumah melulu, Le! Kapan bisa punya pacar kalo begini?! Inget ndak, umurmu sudah berapa? Mbok ya cari pacar sana, terus bawa kesini, kenalin sama Ibu!”

“Tenang, Bu! Rangga juga lagi pdkt.”

“Pdkt? Opo toh?!” tanya ibunya sembari menyuapi potongan mangga ke anak bungsunya itu.

“Pendekatan.”

“OalahBocah saiki senenge ngomong disingkat-singkat!”

Rangga tersenyum manis. Ia menolak ketika akan disuapi potongan mangga lagi. Rasanya risih diperlakukan seperti bocah cilik oleh ibunya. Padahal sebentar lagi usianya 28.

Sang ibu mengalah, tidak memaksa lagi anaknya disuapi seperti yang sudah-sudah. Ia meletakan piring mangga itu di meja dengan gerakan yang sangat anggun, nyaris tanpa suara.

Namun, aroma mangga yang harum menyegarkan itu segera berubah menjadi aroma kimiawi dari tinta mesin fotokopi di kantor Amelia.

Sore itu kantor akunting terasa seperti dalam lemari es. bunyi klak-klik kalkulator dan mesin fotokopi yang bekerja tanpa henti, bagai musik pengiring yang menjemukan. Amelia menopang dagu. Matanya mulai perih menatap deretan angka di layar monitor yang tidak kunjung balance.

Tiba-tiba, HP Amelia yang tergeletak di samping tumpukan invoice bergetar. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi WhatsApp dari Rangga.

Utami, yang mejanya tepat di sebelah Amelia dan punya radar kepo setajam intel, langsung menghentikan jempolnya di atas keyboard. Ia melirik sekilas, lalu memutar kursi berodanya mendekat.

"Ehem! Sejak kapan Anak Akun kita ini hobi senyam-senyum sendiri depan layar mati, Mel?" Utami menyeringai, matanya menyipit penuh selidik. "Itu dari Pangeran Menara BCA ya? Mas-mas IT yang slay itu?"

Shanaz yang sedang asyik menyesap capuccino instan di kubikel seberang, langsung berdiri dan ikut nimbrung.

"Mana? Mana? Gila ya, gercep banget! Belum juga 24 jam sejak tragedi Gudeg Mbok Ning, udah dapet update sistem aja nih?"

Amelia buru-buru membalikkan HP-nya, wajahnya yang punya guratan Indo itu mendadak panas.

"Berisik deh, kalian! Ini... ini cuma masalah MyBCA gue yang error kemarin. Dia cuma mau bantu 'cek' sistemnya aja."

"Alaah! Cek sistem atau cek ombak?" Utami merebut paksa HP Amelia sebelum sang pemilik sempat protes. "Waduh, Naz! Liat nih! Mas Rangga-nya bilang mau 'deploy' kopi Gayo ke meja kantor Amelia sekarang juga. Ini mah bukan software engineer, ini mah software end-to-end alias pengen deket terus!"

Shanaz tertawa sampai hampir tersedak kopinya. "Ciee... 'Sabtu rasa Senin, neraca nggak balance, hati merana'. Status lo juga pancingan banget sih, Mel! Pantesan mas-mas IT-nya langsung fast respond. Eh, tapi dia beneran mau nyusul ke sini?"

"Enggak lah! Dia kan lagi di rumah, lagi santai," Amelia merebut kembali HP-nya dengan wajah cemberut yang dibuat-buat. "Dia cuma nanya, perlu bantuan 'debugging' Excel nggak. Gue jawab aja, jangan ganggu orang lagi closing."

"Gila lo, Mel! Jual mahalnya kebangetan!" Utami menepuk jidatnya sendiri. "Orang udah mau nawarin bantuan gratis, apalagi pangeran BCA, lo malah usir. Inget umur, Sayang! Bentar lagi dua empat. Jangan sampai neraca hidup lo isinya cuma piutang cinta yang nggak pernah dibayar."

Lihat selengkapnya