Minggu pagi di Tebet Barat Dalam selalu punya ritme yang sama: suara sapu lidi Paimin yang menyapu daun mangga kering di halaman dan aroma melati dari teh yang diseduh Surti. Ibu Ratna duduk di kursi jati ukiran Jepara favoritnya, memandangi Rangga yang sedang asyik memoles mobilnya—sebuah ritual pascakencan yang tidak luput dari pengamatannya.
"Ngga, sini sebentar, Le. Istirahat dulu," suara Ibu Ratna tenang, tapi punya frekuensi yang membuat Rangga otomatis meletakkan kain microfiber-nya.
Rangga menghampiri, duduk di kursi rotan di samping ibunya. Surti segera muncul dari balik pintu samping, seolah tahu kapan harus meletakkan sepiring jadah manten—penganan khas Yogyakarta berisi ketan tumbuk dan daging cincang yang dibungkus telur dadar—hangat di meja tanpa perlu diperintah.
"Gimana... yang kemarin itu? Sudah ada progres 'P-D-K-T' nya?" tanya Ibu Ratna sambil menyesap tehnya pelan. Matanya yang teduh menatap lurus ke arah pohon mangga di halaman, tapi Rangga tahu sensor ibunya sedang mengarah tepat ke jantungnya.
"Ya gitu, Bu. Masih ngobrol-ngobrol," jawab Rangga, mencoba tetap santai.
"Siapa namanya? Orang mana? Asli Jawa toh?" rentetan pertanyaan itu meluncur halus. "Keluarganya priyayi bukan? Bibit, bebet, bobot itu penting lho, Ngga. Jangan cuma cari yang lincah kerjanya, tapi harus yang jelas asal-usulnya. Cantik ndak?"
Rangga tersenyum tipis. "Namanya Amelia, Bu. Akunting di perusahaan swasta dekat kantor Rangga. Cantik, Bu... wajahnya adem. Dia orangnya sopan kok."
Ibu Ratna meletakkan cangkirnya ke tatakan dengan denting halus yang terdengar seperti ketukan palu hakim di telinga Rangga. "Sopan itu harus dilihat langsung, nggak bisa cuma diceritakan. Minggu depan, bawa Amelia ke sini. Ibu mau kenalan. Biar nanti Ibu masakin lodeh tempe kesukaanmu,. Ibu pengen lihat, apa dia betah duduk lama di rumah besar begini."
Rangga menelan ludah. Ini perintah, bukan saran. "Minggu depan ya, Bu? Rangga tanya Amelia dulu ya."
"Ndak usah tanya-tanya, kelamaan. Langsung diajak saja. Kalau dia serius sama kamu, pasti dia mau meluangkan waktu buat ketemu orang tuamu," tutup Ibu Ratna telak, sebelum beliau berdiri dan berjalan anggun masuk ke dalam rumah.
Paimin yang sejak tadi sibuk memangkas rumput, hanya bisa nyengir ke arah Rangga. "Wah, Mas Rangga mau bawa calon nih? Siap-siap saya bikin tamannya kinclong, Mas!"
Rangga tidak menjawab. Ia langsung menyambar ponselnya. Jarak dari Tebet ke Kebon Kacang memang tidak sampai tiga puluh menit kalau Jakarta lagi waras, tapi jarak mental dari status ‘teman chat’ ke ‘menghadap Ibu Ratu’ rasanya ribuan kilometer.
Tanpa pikir panjang, Rangga langsung menekan tombol telepon.
"Halo, Amel? Lagi sibuk? Eem... Minggu depan ada acara nggak? Ibu... Ibu saya pengen kamu main ke rumah di Tebet.”
Di Kebon Kacang, suasana kosan Amelia sedang dalam mode santuy maksimal. Amelia baru saja selesai mencuci tumpukan baju kantornya dan sekarang sedang rebahan di kasur sambil maskeran. Di atas meja kecilnya, laptop masih terbuka menampilkan file Excel pribadi—catatan pengeluaran bulanannya yang selalu balance sampai ke angka receh.
Tiba-tiba, HP-nya yang tergeletak di atas bantal bergetar. Nama ‘Mas Rangga BCA’ muncul di layar.
"Duh, pake telepon segala lagi," gumam Amelia. Ia menarik paksa masker tisu dari wajahnya, lalu berdehem mengatur suara agar tidak terdengar seperti orang baru bangun tidur.
"Halo, Mas Rangga?"
Begitu Rangga melemparkan “bom” undangan dari Ibu Ratna, Amelia langsung terduduk tegak. Jantungnya yang tadi berdetak pelan mengikuti irama lagu lo-fi, mendadak melakukan sprint 100 meter.
"Maksudnya... ketemu Ibu, Mas? Minggu depan banget?" Suara Amelia sedikit melengking, kehilangan kontrol akuntansinya yang biasanya tenang.
"Iya, Mel. Tadi Ibu yang minta langsung. Beliau bilang pengen kenalan sama 'cah ayu' yang bikin aku pulang malam kemarin," suara Rangga di seberang sana terdengar penuh tekanan, seolah dia juga sedang diawasi oleh bayangan ibunya.
Amelia mendadak merasa pening, lebih pening daripada saat mencari selisih piutang yang tak tertagih.
"Mas... aku... aku kan belum siap. Pakai baju apa? Ibu Mas Rangga orangnya gimana, galak nggak? Suka buah atau suka bunga apa?"
"Tenang, Mel, tenang. Ibu nggak galak kok, cuma... ya, sedikit 'teliti' aja orangnya. Kamu nggak usah bawa apa-apa, kata Ibu bawa diri aja," Rangga mencoba menenangkan, meski dia sendiri tahu itu adalah kalimat bohong yang meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Mana ada mau ketemu calon mertua cuma bawa diri, Mas! Itu namanya setor nyawa, keles!” ujar Amelia, sok bercanda untuk menutupi paniknya. Pikirannya langsung melayang ke lemari pakaiannya yang isinya kebanyakan baju kerja formal atau kaos santai. Tidak ada satu pun baju yang memberikan kesan “menantu idaman ningrat Tebet”.
Begitu telepon ditutup, Amelia langsung melakukan tindakan darurat. Dia langsung mengirim pesan ke broadcast WhatsApp.
Amelia: 'SOS!!! DARURAT NERACA CINTA! Mas Rangga ngajak ke rumahnya minggu depan buat ketemu Nyokapnya. Katanya Nyokapnya tipe ningrat Tebet. GUE HARUS GIMANA?!'
Hanya butuh waktu tiga detik bagi Utami untuk membalas.
Utami: 'Mampus lo, Mel! Keluar juga itu jurus "Screening Ibu Ratu". Siapin mental, Sis! Besok kita ke Tanah Abang atau Thamrin City, kita cari batik yang paling kalem, jangan yang motif macan tutul!'
Shanaz: 'Sabar Mel, tarik napas. Langkah pertama: riset silsilah keluarga. Langkah kedua: pelajari cara duduk bersimpuh yang benar. Langkah ketiga: berdoa semoga audit ini nggak sampai ke tahap pemeriksaan fisik silsilah tujuh turunan.'
Amelia melempar HP-nya ke kasur dan kembali merebahkan diri sambil menatap langit-langit kosan. Bayangan Ibu Ratna yang anggun namun mematikan mulai menghantui pikirannya. 'Ya Tuhan... ini lebih susah daripada ujian sertifikasi akuntan publik,' batinnya pasrah.
Minggu siang itu, langit di atas Tebet Barat Dalam tampak cerah, namun bagi Amelia, udara di dalam mobil HR-V milik Rangga terasa lebih tipis dari oksigen di puncak Everest. Ia berkali-kali merapikan rok batik parang dan kemeja putih tulang yang dipilihkan Utami—katanya, ini kombinasi paling "aman" untuk mengambil hati ningrat: tidak terlalu mencolok, tapi tetap terlihat berkelas.