Enam bulan sejak "insiden lodeh manis" di Tebet, hubungan Rangga dan Amelia bertransformasi dari sekadar teman chat menjadi sepasang kekasih yang paling disorot di lingkaran pertemanan mereka.
Amelia terbukti lulus fit and proper test. Meski bukan kelas priyayi, cara Amelia yang tenang menghadapi interogasi Ibu Ratna hari itu meninggalkan kesan mendalam bagi sang Ibu Ratu.
Rangga merasa menjadi pria paling beruntung. Setiap kali mereka jalan berdua di Grand Indonesia atau sekadar makan malam di sekitaran Senopati, mata orang-orang seringkali mencuri pandang. Mereka adalah kombinasi visual yang memanjakan mata bagi siapapun yang melihatnya.
Amelia tampil begitu mempesona dengan tubuh semampainya. Kulit kuning langsatnya tampak bersinar di bawah lampu restoran, kontras dengan matanya yang lembut dan bulu mata lentik yang selalu membuat Rangga kehilangan fokus saat mereka bicara serius.
Bibirnya yang sensual seringkali terkunci rapat saat ia sedang berpikir keras, namun akan melengkung indah saat Rangga melontarkan candaan IT-nya yang garing.
Di sisi lain, Rangga juga tak kalah menarik. Postur tubuhnya tinggi tegap, hasil rutin gym di sela-sela kesibukan coding. Kacamata berbingkai hitam yang bertengger di hidungnya memberikan kesan intelektual, sementara rambut ikal bergelombangnya memberikan sentuhan santai yang pas.
"Mel, Ibu kemarin tanya lagi... kapan kita mau bahas 'langkah selanjutnya'," ucap Rangga suatu sore, saat mereka sedang duduk di taman belakang rumah Tebet.
Amelia menghentikan jemarinya yang sedang mengaduk teh yang diberi sedikit gula.
"Langkah selanjutnya itu... maksudnya rencana menikah, Mas?"
Rangga mengangguk, lalu melepas kacamata sambil mengelap wajahnya pakai tisu.
"Usia aku sudah dua puluh delapan, Mel. Ibu sepertinya sudah nggak sabar pengen lihat anak bungsunya ini 'berlabuh'. Beliau sudah setuju, meski aku tahu di lubuk hatinya yang paling dalam, beliau masih memimpikan menantu yang silsilah priyayinya se-ekstrem keluarga kita."
Amelia tersenyum tipis, teringat bagaimana Ibu Ratna masih sering menyinggung soal “guratan blasteran” di wajahnya.
"Aku paham, Mas. Aku bukan dari keluarga keraton. Aku cuma anak dari keluarga sederhana. Tapi kalau Mas Rangga yakin, aku siap."
Rencana pernikahan pun mulai disusun. Ibu Ratna memberikan lampu hijau dengan satu syarat: prosesi harus mengikuti pakem tradisi keluarga besar yang sangat kental dengan adat.
Rangga yang biasanya praktis khas orang IT, mulai harus belajar memahami kerumitan tata cara pernikahan Jawa yang berlapis-lapis—mulai dari penentuan hari baik sampai urusan seragam untuk keluarga besar.
Di kantor Amelia, Utami dan Shanaz sudah heboh bukan main.
"Gila lo, Mel! Berawal dari warung gudeg sampe ke pelaminan. Rekonsiliasi hati lo bener-bener balance tahun ini!" seru Utami sambil memeluk Amelia gemas.
"Tapi inget, Sis," bisik Shanaz, "Ujian sebenernya bukan di pelaminan, tapi gimana lo bisa survive tinggal di rumah ibu mertua dan sering makan lodeh kolak setelah nikah nanti."
Amelia hanya bisa tertawa, meski dalam hati ia mulai menghitung ‘estimasi risiko’ dan ‘beban mental’ yang akan ia hadapi sebagai menantu dari Ibu Ratnaningsih Kenconowati.
Enam bulan pertama adalah fase di mana dunia IT dan Akuntansi mencoba mencari frekuensi yang sama. Pukul 18.30 biasanya menjadi waktu paling krusial.
Rangga, dengan kacamata yang sedikit turun ke ujung hidung dan rambut ikal yang mulai berantakan setelah seharian berkutat dengan logic sistem, sudah memarkir mobilnya di area lobi gedung perkantoran Thamrin sambil menyalakan mesin dan lampu hazard. Biasanya lima atau sepuluh menit menunggu di lobi, diperbolehkan.
Sambil menunggu Amelia, pria muda itu selalu mendengarkan musik Relaxing Bossa Nova atau Late Night Jazz di Spotify. Tak lama, sosok yang ditunggu muncul dari balik pintu putar lobi. Amelia melangkah dengan gaya anggunnya yang khas dengan tote bag merah marun.
Wajahnya terlihat sangat lelah; sisa-sisa pening akibat rekonsiliasi bank yang tak kunjung matching masih membekas di keningnya. Namun, begitu matanya menangkap siluet Rangga di balik kaca mobil, guratan lelah itu seolah ter-refresh otomatis.
Senyum tipis muncul di bibir sensualnya, dan binar lembut di matanya kembali menyala, membuat bulu mata lentiknya bergetar pelan saat ia mengerling ke arah Rangga.
"Lapor, Mas Engineer. unit akuntansi sudah selesai deployment hari ini. Status: lapar tingkat dewa," ucap Amelia sesaat setelah masuk ke kabin mobil yang wangi aroma black coffee.
Rangga terkekeh, Ia menatap wajah lelah Amelia di bawah siraman cahaya lampu lobi. "Diterima, Nona akunting. Sistem navigasi sudah dikunci ke arah kuliner terdekat. Mau 'reboot' energi pakai apa malam ini?"
Masa pacaran mereka bukan hanya soal makan malam romantis atau nonton film di bioskop. Sesekali, kencan mereka adalah ‘kencan laptop’. Duduk berdua di kafe daerah Senopati, Rangga asyik dengan VS Code-nya, sementara Amelia sibuk dengan tabel Pivot di Excel.
Di sela-sela kesibukan itu, Rangga seringkali diam-diam memperhatikan Amelia dari balik bingkai kacamatanya. Ia mengagumi bagaimana Amelia tetap terlihat anggun meski sedang mengomel pelan karena ada angka yang selisih dua perak.
Bagi Rangga, Amelia adalah kombinasi sempurna—visual yang "high definition" dengan sistem internal yang sangat tangguh. Namun, di balik keindahan itu, Rangga tetaplah anak bungsu. Tak jarang di tengah kencan, ponselnya bergetar menampilkan nama 'Ibu'. Rangga akan langsung berubah mode menjadi sangat penurut, menjawab pertanyaan Ibu Ratna tentang di mana dia berada dan jam berapa akan sampai di rumah.
Amelia hanya bisa tersenyum simpul melihat sisi itu, menyadari bahwa mencintai Rangga berarti dia juga harus siap bernegosiasi dengan ‘firewall’ paling ketat dalam hidup Rangga: restu sang Ibu.
Malam itu, hujan sisa sore masih menyisakan hawa sejuk di area parkir terbuka dekat Bundaran HI. Mereka baru saja selesai makan malam, tapi alih-alih langsung pulang, Rangga mematikan mesin mobil dan membiarkan keheningan menyelimuti kabin sejenak.