Dua bulan setelah pesta pernikahan yang megah di salah satu hotel bintang lima di kawasan Sudirman, ritme hidup Amelia berubah total. Tidak ada lagi suara riuh Utami dan Shanaz yang berisik kala bermain atau menginap di kosannya.
Kini, pagi dan malamnya dihabiskan di dalam rumah besar di Tebet Barat Dalam yang selalu tertata presisi—sebuah tempat di mana debu seolah tidak berani hinggap dan setiap perabot memiliki tempat yang tidak boleh bergeser satu sentimeter pun.
Malam itu, hujan gerimis di luar membuat suasana terasa makin sunyi. Amelia duduk di kursi jati yang berat, punggungnya tegak mengikuti postur yang secara tidak sadar selalu ia jaga sejak tinggal di sini. Di depannya, meja makan kayu besar itu penuh dengan hidangan yang selalu memiliki satu kesamaan rasa—manis.
Sebagai anak yang tumbuh besar di Bandung dengan lidah yang terbiasa dengan rasa gurih- asin-pedas, adaptasi Amelia terhadap masakan rumah ini adalah ujian harian yang menguras energi.
Ia melirik ke arah Rangga. Suaminya itu tampak seperti robot yang sedang mengisi daya; fisik ada di meja makan, tapi jiwanya tertelan ke dalam baris-baris kode dan grafik sistem yang berkedip di iPad-nya. Kehadiran Rangga yang pasif ini justru memperkuat dominasi sosok di kepala meja.
Denting sendok stainless yang beradu dengan piring porselen terdengar harmonis, mengisi kesunyian di ruang makan keluarga yang beraroma gurih manis. Di kepala meja, Ibu Ratnaningsih Kenconowati—mertua Amelia—duduk tegak dengan kebaya harian yang rapi. Tangannya yang lentik menyendokkan sayur lodeh nangka ke piring Rangga dengan gerakan yang sangat gemulai, seolah sedang melakukan tarian tradisional Jawa.
"Ayo ditambah nangkanya, Rangga. Ibu pilih yang paling empuk di pasar tadi pagi. Kamu itu kerjanya di depan komputer terus, butuh asupan yang manis-manis biar otaknya tidak spaneng mengurus aplikasi bank itu," suara sang Ibu terdengar sangat lembut, halus, dan bernada rendah. Namun bagi Amelia, setiap kata itu seperti jaring yang perlahan mengikat ruang geraknya.
Rangga, yang masih mengenakan kemeja kantor dengan kancing kerah terbuka, hanya bergumam pelan. Matanya tidak lepas dari layar iPad di samping piringnya, memantau grafik transaksi BCA Mobile yang sedang melonjak di jam makan malam.
"Iya, Bu. Makasih," jawabnya singkat, dengan mata tetap tertuju ke layar.
Amelia hanya bisa menunduk, mengunyah nasi yang terasa hambar di lidahnya. Di piringnya, hanya ada sedikit kuah lodeh.
"Amel, Nduk," panggil Ibu Ratna lembut. Amelia tersentak kecil, mendongak menatap wajah mertuanya yang tersenyum sangat manis—senyum yang selalu berhasil membuatnya merasa seperti menantu yang belum lulus ujian. "Kamu juga harus belajar masak lodeh seperti ini. Masakan rumah itu kuncinya kebahagiaan suami. Jangan sering-sering pesan makanan lewat aplikasi itu, tidak sehat untuk perut Rangga."
"Iya, Bu. Tadi Amel juga sempat baca resepnya," jawab Amelia seadanya, mencoba tetap sopan.
"Membaca itu beda dengan praktik, Nduk. Masak itu pakai rasa, pakai hati. Seperti Ibu merawat Rangga dari kecil. Ibu tahu persis apa yang lidahnya mau. Masakan Padang atau masakan luar itu mungkin enak buat sesekali, tapi lidah laki-laki Jawa itu pulangnya tetap ke rasa yang manis," tambah sang mertua sambil memberikan tatapan sinis yang sangat halus—jenis tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh sesama wanita.
Rangga tetap diam, seolah-olah maintenance sistem di kantornya jauh lebih penting daripada perang dingin yang terjadi di atas meja makan. Ia menyuap potongan nangka yang sangat manis itu dengan patuh. Di rumah ini, Rangga adalah pangeran yang tidak pernah protes, dan Amelia adalah pelayan magang yang selalu diawasi.
Amelia merasakan dadanya sesak. Kamar mereka di lantai atas terasa seperti satu-satunya tempat pengungsian yang tersisa. Ia melirik Rangga, berharap suaminya akan mengeluarkan satu patah kata untuk membelanya, atau setidaknya mengalihkan pembicaraan.
Namun, Rangga justru kembali mengetikkan sesuatu di iPad-nya, tenggelam dalam baris-baris kode pemrograman yang lebih masuk akal baginya daripada perasaan istrinya.
"Oalah, masakan Ibu emang paling juara," puji Rangga akhirnya, kalimat standar yang ia ucapkan hampir setiap malam, untuk menjaga kedamaian rumah.
Ibu Ratna tersenyum penuh kemenangan. "Makanya, kalau sudah ada yang enak di sini, buat apa repot-repot tinggal terpisah seperti yang dilakukan Mas dan Mbakmu. Urus rumah sendiri itu capek. Di sini kan semua sudah Ibu siapkan. Mau apa-apa tinggal suruh Paimin atau Surti.”
Kalimat terakhir itu seperti palu yang menghantam rencana Amelia untuk segera keluar dari rumah itu. Makan malam pun berakhir dengan rasa manis yang mencekat di tenggorokan Amelia, lalu sekejap berubah menjadi sepahit empedu.
Rasa empedu itu terus terbawa sampai ke wilayah yang paling merdeka bagi Amelia, yaitu kamar tidur sekaligus tempat merajut kemesraan dengan suaminya tanpa mata mertua yang mengawasi. Hal yang tidak mungkin dilakukannya di ruangan lain.
Kamar berukuran empat kali lima meter itu terasa seperti satu-satunya teritorial di mana Amelia bisa bernapas lega. Di atas ranjang jati yang letak sprei-nya masih diatur dengan sudut simetris oleh ibu mertuanya kemarin malam, Amelia bersandar pada tumpukan bantal. Di depannya, televisi 42 inci sedang menayangkan panggung DMD di MNC TV. Suara musik dangdut yang enerjik dan sorak-sorai penonton menjadi tirai suara yang sempurna.
Rangga duduk di sampingnya, sudah berganti kaos oblong, namun tangannya masih sibuk menggeser-geser layar iPad—kebiasaan buruk seorang software engineer yang seolah tidak pernah benar-benar lepas dari sistem BCA Mobile-nya. Mungkin ada fitur baru yang harus dipantau, agar tidak terjadi bug.
"Mas," panggil Amelia pelan, matanya tetap menatap biduan yang sedang bergoyang di layar TV. "Tadi sore aku iseng buka portal internal BCA. Promo KPR buat karyawan itu... bunganya lagi rendah banget ya? Flat sepuluh tahun kalau nggak salah."
Rangga menghentikan gerakan jarinya. Ia menghela napas panjang, sebuah reaksi yang sudah Amelia duga.
"Iya, Sayang. Fasilitas KPR, KPB, sampai plafon pinjaman buat staf itu emang benefit paling gede di kantor. Temen-temen setimku rata-rata udah ambil unit di BSD atau Bintaro."