Dua minggu kemudian, Amelia sudah berdiri di tengah ruang tamu rumah barunya di BSD Foresta. Rasanya sangat lega. Tidak ada lagi menu masakan manis yang dipaksakan. Tidak ada lagi bayang-bayang jendela tinggi rumah besar di Tebet yang mengawasi setiap geraknya. Kini, resmi sudah ia menyandang status ibu rumah tangga setelah surat resign-nya disetujui.
Cahaya matahari sore yang menerobos masuk melalui jendela besar minimalis di rumah itu terasa jauh lebih hangat dan membebaskan. Lantai granit yang masih dingin di bawah telapak kakinya seolah menjadi saksi bisu kemenangannya atas aturan ningrat yang selama ini menjerat.
Di sini, di klaster yang tenang dan rimbun ini, Amelia memegang kendali penuh. Tidak akan ada lagi lodeh rasa kolak yang harus ia telan dengan senyum palsu. Sebagai gantinya, aroma bumbu dapur yang tajam dan pedas mulai merayap di sela-sela ruangan, sebuah aroma pemberontakan yang ia siapkan untuk menyambut Rangga setiap sore.
Kemerdekaan itu terasa paling nyata saat jam makan malam tiba. Rangga pulang dengan langkah yang jauh lebih ringan, tidak ada lagi wajah tegang karena memikirkan komentar ibunya soal jam pulang.
Begitu pintu rumah dibuka, Rangga disambut oleh aroma tumisan cabai dan bawang yang menusuk hidung—sebuah aroma yang bagi pria lain mungkin biasa, tapi bagi Rangga adalah aroma kebebasan.
Amelia menyajikan ayam goreng bumbu lengkuas, sambal terasi ulek yang merah merona, dan sayur asem yang kuahnya kemerahan dan nendang rasa asam-asinnya. Tidak ada jejak gula jawa yang berlebihan di sini.
"Gila, Mel... ini baru namanya masakan masterchef!" puji Rangga saat suapan pertama mendarat di lidahnya. Ia makan dengan berselera, peluh mulai membasahi dahinya karena sensasi pedas yang sudah lama ia rindukan. "Sumpah, kalo Ibu tahu kita makan senikmat ini tanpa dikoreksi rasa sama Ibu, bisa-bisa beliau kirim Surti buat audit dapur kita."
Amelia tertawa, tangannya dengan lincah menyendokkan nasi tambahan ke piring suaminya. "Di sini nggak ada audit, Mas. Yang ada cuma rekonsiliasi perut yang lapar."
Setelah ritual makan yang penuh peluh dan tawa itu selesai, mereka pindah ke ruang keluarga. Inilah momen yang paling mereka syukuri.
Di rumah Tebet, privasi mereka hanya sebatas empat dinding kamar. Di luar itu, setiap gerik mereka adalah milik bersama, di bawah pengawasan halus sang Ibu Ratu. Namun di BSD, seluruh sudut rumah adalah milik mereka.
Amelia menyalakan televisi, langsung memindahkannya ke saluran MNCTV. Acara DMD (Dangdut Mania Dadakan) sedang berlangsung. Amelia tertawa lepas melihat aksi kocak Irfan Hakim yang sedang mengerjai peserta. Itu adalah hiburan sederhana yang dulu sering ia tonton di kosan Kebon Kacang, dan kini ia bisa menikmatinya kembali tanpa harus merasa sungkan atau dianggap ‘kurang ningrat’ oleh mertuanya.
Rangga merebahkan kepalanya di pangkuan Amelia, membiarkan jemari istrinya yang kuning langsat itu mengusap-usap rambut ikalnya. Ia merasa sangat rileks, matanya sesekali ikut melirik layar TV, tapi fokusnya lebih banyak pada keintiman yang akhirnya bisa mereka reguk tanpa batas. Tidak ada lagi ketukan pintu kamar dari Surti yang mengantar wedang jahe di jam-jam privat, atau suara langkah kaki pelan Ibu Ratna di lorong rumah.
Di ruang keluarga yang wangi pengharum otomatis itu, Rangga menarik Amelia ke dalam pelukannya. Ia selalu merasa tidak tahan bila berdekatan dengan Amelia. Bibir sensual istrinya sangat menggoda hasrat kelelakiannya. Mereka bermesraan di sofa empuk sambil sesekali tertawa mendengar celetukan Irfan Hakim. Bikin iri seekor cicak betina jomblo yang sok jual mahal waktu yang jantan “nembak”.
Dunia seolah berhenti di klaster Foresta. Mereka benar-benar sedang merayakan status sebagai pengantin baru yang sesungguhnya—bebas, intim, dan penuh rasa asin-pedas-gurih yang jujur.
Malam semakin larut, suara bising dari acara DMD di televisi sudah digantikan oleh kesunyian malam Foresta yang tenang. Di bawah selimut, dalam remang lampu tidur, Amelia menyandarkan kepalanya di dada bidang Rangga. Keintiman ini terasa begitu mahal dan murni, jauh dari jangkauan intervensi siapa pun.
"Mas..." bisik Amelia sambil mengusap-usap dada suaminya. "Aku kepikiran mau dandanin sedikit area belakang, dekat kursi babon angrem itu."
Rangga mengecup kening Amelia, aromanya masih tertinggal wangi sabun mandi yang segar. "Mau ditambah apa lagi, Sayang? Bukannya kemarin sudah pas buat tempat ngopi?"
"Aku pengen cari lampu gantung, Mas. Yang model vintage gitu. Biar kalo Utami sama Shanaz main ke sini, suasana coffe corner-nya dapet. Terus..." Amelia terdiam sejenak, "aku mau mulai nulis lagi. Sudah lama hobi itu aku tinggalin gara-gara sibuk kerja. Aku ingin area belakang itu jadi ruang inspirasiku."
Rangga tersenyum, mengelus rambut hitam lebat Amelia dengan lembut. "Apa pun yang bikin kamu bahagia, Mel, aku dukung seribu persen. Kamu udah resign demi bisa mengurus rumah kita, sekarang giliran aku yang kasih kamu ruang buat jadi diri kamu sendiri. Kamu mau aku temenin cari lampunya? Tapi nunggu Sabtu besok ya.”
“Nggak usah, Mas. Aku sendiri aja naik motor besok sambil cuci mata di kota Tangerang. Sekalian mau beli pupuk buat cempaka kuning biar lebat berbunganya.”
Ya udah, cari aja lampunya, kalo kurang anggarannya, tinggal bilang sama Senior Engineer-mu ini."