KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #26

BERSANTAI DAN BERNOSTALGIA BARENG TEMAN

Hari Sabtu itu, Foresta terasa begitu tenang, namun tidak bagi Rangga. Sejak subuh, suaminya itu sudah berkutat dengan laptop sebelum akhirnya memutuskan harus ke kantor karena ada minor bug di sistem integrasi pembayaran yang perlu ia fix segera.

Lemburnya seorang software engineer di hari Sabtu adalah tumbal bagi stabilnya transaksi jutaan nasabah besok pagi. Namun bagi Amelia, absennya Rangga adalah waktu yang tepat untuk menyempurnakan proyek idealismenya: sebuah Vintage Coffee Corner di halaman belakang.

Sambil menunggu kedatangan dua sahabatnya, Utami dan Shanaz, Amelia berdiri di tengah lahan terbukanya, memegang sekop kecil. Ia baru saja selesai menata deretan planter bag yang ia susun dengan presisi seorang akuntan. Di sudut kanan, aroma menenangkan dari Lavender dan Geranium bertarung dengan wanginya Cempaka Kuning yang mulai mekar.

Di sisi lain, warna-warna vibran dari Marigold dan Begonia memberikan kontras yang indah terhadap hijau segarnya daun Palem Regu.

Ini bukan sekadar taman; ini adalah oase. Amelia ingin tempat ini menjadi tempat ia menyesap arabika Gayo favoritnya bersama Rangga di pagi hari, atau sekadar tempat ia melamun mencari ide tulisannya.

"Gila! Ini rumah apa Kebun Raya Bogor, Mel?" suara cempreng Utami memecah kesunyian, disusul tawa Shanaz begitu menginjakkan kakinya di beranda belakang.

Amelia tertawa kecil, "Baru dateng udah berisik!"

"Rangga beneran lembur, Mel?" tanya Shanaz sambil meletakkan tasnya di atas meja babon angrem. "Kasihan ya, ganteng-ganteng hari Sabtu malah bercanda sama kode. Untung bini pinter dandanin rumah, jadi pulang-pulang otaknya nggak nge-hang."

Mereka bertiga duduk melingkari meja bundar itu. Amelia mulai menyeduh kopi Gayo dengan teknik V60, aroma arabika yang harum, kompleks dan tajam memenuhi udara halaman belakang, bercampur dengan aroma bunga-bungaan yang tertiup angin sepoi-sepoi. Ketiga sahabat itu menikmati momen kebersamaan yang intens di coffe corner yang estetik dan cozy di rumah baru Amelia.

"Asli, Mel. Gue betah di sini. Mana ada lampu gantung antiknya, lagi. Fix gue nggak mau pulang," puji Utami sambil menyesap kopinya.

"Eh, itu ada lemari antik juga, Mel? Gila juga selera Lo ya. Vintage abis!” Shanaz menunjuk lemari yang belum tuntas dibersihkan di pojok beranda.

Amelia terdiam sebentar, jemarinya mengusap pinggiran cangkir keramiknya. "Iya, Naz. Itu lemari jati bunga cempaka. Gue beli di toko antik daerah Alam Sutra minggu lalu. Awalnya sih cuma pengen beli lampu gantung, eh malah kepincut sama lemari itu juga.”

Niat Amelia semata-mata ingin mencari lampu gantung untuk menerangi beranda belakang, tapi ia malah menemukan lemari yang kelak akan menerangi sejarah gelap keluarganya.

"Kenapa? Kok muka lo gitu?" Shanaz menyadari perubahan raut wajah Amelia.

"Kalian... nggak cium bau yang aneh nggak dari lemari itu? Selain bau kayu tua?" tanya Amelia pelan.

"Bau apa? Gue cuma cium bau kopi Gayo buatan lo ini yang enak banget," jawab Shanaz enteng.

Amelia hanya tersenyum tipis, tidak ingin merusak suasana. Ia tidak menceritakan bahwa sesaat setelah Rangga berangkat lembur tadi, sebelum teman-temannya datang, aroma kopi sangrai yang pekat sempat keluar lagi dari lemari itu. Begitu kuat, hingga ia hampir merasa ada seseorang yang sedang memasak kopi di dalamnya.

"Mungkin cuma perasaan gue aja kali ya, karna belum mandi pagi," kilah Amelia.

“Pantesan, gue nyium kopi tapi kok kayak ada asem-asemnya dikit,” Utami meledek, disambut tawa kedua temannya. “Udah, urusan taman biar gue yang siram nanti, sekarang Lo mandi deh, abis itu kita ke pasar.

Tidak sampai satu jam, mereka kembali dengan berbagai bahan masakan dari pasar modern BSD City.

“Ayo, langsung aja kita eksekusi dapur lo!" Utami menyingsingkan lengan blusnya, matanya sudah berbinar melihat deretan belanjaan yang tadi ia bawa dari pasar.

Dapur minimalis di rumah Foresta itu mendadak jadi medan perang yang seru. Tidak ada lagi suasana kaku seperti di dapur Tebet yang serba diukur gerakannya.

Di sini, Amelia adalah konduktornya. Suara ulekan yang beradu dengan cobek batu, desis minyak panas, dan tawa mereka bertiga memenuhi ruangan yang biasanya sepi itu.

"Mel, ini cabe gendotnya gue masukin semua ya? Biar oseng jambal rotinya beneran bikin Mas Rangga 'melek' pas pulang lembur!" seru Shanaz sambil mengiris cabai hijau yang gemuk-gemuk itu dengan semangat.

Lihat selengkapnya