KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #27

PERJALANAN KE MASA LAMPAU

Pagi itu, Rangga sudah bersiap berangkat ke kantornya. Sebagai software engineer senior yang sedang menangani integrasi MyBCA, jadwalnya sedang sangat padat.

"Hati-hati di jalan, Mas," ucap Amelia sambil mencium tangan suaminya di depan carport.

"Iya, Sayang. Hari ini ada deployment besar, ada fitur baru siap rilis. Mungkin aku pulang agak malam dan kayaknya gak makan di rumah." Rangga mengecup kening Amelia, lalu meluncur dengan mobilnya, meninggalkan kesunyian yang segera menyergap rumah baru mereka.

Amelia masuk kembali, menutup pintu rapat-rapat. Ia menghela napas panjang. Inilah kemerdekaan yang ia impikan; tidak ada suara mertua yang menggurui, tidak ada instruksi cara menyeduh kopi atau cara mengulek bumbu yang benar. Namun, kesunyian ini mendadak terasa berat saat ia melangkah ke beranda belakang. Amelia merasa ada yang ganjil.

Aroma itu muncul lagi. Bukan aroma parfum ruangan yang dipasang Rangga, melainkan aroma biji kopi sangrai yang harum. Baunya seolah merembes keluar dari pori-pori kayu jati lemari antik yang baru ia beli. Amelia mendekat, jemarinya menyentuh permukaan kayu yang terasa sangat dingin—terlalu dingin untuk suhu ruangan Tangerang yang terik.

"Kok baunya makin tajam ya?" gumamnya sendiri.

Ia mengambil selembar kain mikrofiber dan sebotol cairan pembersih kayu. Ia berniat membersihkan bagian dalam lemari itu sebelum menyusun baju-baju kerjanya yang sudah tidak terpakai lagi setelah resign. Saat pintunya perlahan dibuka, suara derit kayu yang berat terdengar nyaring, seolah-olah lemari itu sudah lama sekali tidak dibuka.

Begitu pintu dibuka seluruhnya, bau kopi yang beraroma buah segar bercampur rempah yang kuat, kompleks dan tajam, langsung menyergap. Aromanya menyenangkan dan menggugah selera.

Di bagian dalam yang paling gelap, ia melihat sesuatu yang mustahil. Tidak ada rak kayu, tidak ada gantungan baju. Yang ada hanyalah kabut putih yang tebal dan dingin, yang mulai merangkak keluar.

Amelia terpaku. Instingnya menyuruhnya menutup pintu itu, namun rasa ingin tahu yang besar—seperti tarikan tangan yang tak terlihat—membuatnya justru melangkah maju. Ia ingin tahu dari mana asal kabut ini.

Saat kakinya melintasi ambang pintu lemari, ia merasa gravitasi di sekitarnya menghilang. Suara mesin pompa air yang mendengung di pojok beranda berganti menjadi suara desir angin yang aneh. Ia melangkah masuk ke dalam kabut putih itu, tanpa menyadari bahwa ia tidak lagi menginjak lantai granit rumahnya di BSD, melainkan tumpukan daun pinus yang kering.

Amelia terus berjalan, hingga kabut di depannya menipis, dan ia menemukan dirinya berdiri di tengah hutan pinus yang sunyi. Matahari di atas sana tampak berbeda, suasananya terasa kuno.

Di kejauhan, ia melihat seorang pria muda berpakaian tidak lazim, seperti dari masa lampau, sedang bersama seorang anak laki-laki. Yang menarik, Pria itu berwajah pribumi yang tegas, berkulit coklat dan gagah. Sementara wajah si anak seperti perpaduan pribumi dan Eropa yang sangat menonjol.

Amelia tidak mengetahui, bahwa ia baru saja melintasi waktu sepanjang delapan puluh empat tahun. Ia telah tiba di Blang Gele.

Wanita muda itu mengerjap. Kakinya yang hanya beralas sandal rumah empuk berbahan kain berbulu tebal dengan hiasan kepala kelinci kartun di ujungnya, kini menginjak hamparan jarum pinus yang kering dan tajam. Hawa dingin yang menusuk bukan lagi berasal dari AC rumahnya, melainkan dari kabut gunung yang merayap di sela-sela batang pohon pinus yang menjulang.

Di hadapan Amelia, di balik keremangan batang pinus dan semak-semak, pria muda dengan guratan wajah yang tegas namun tenang sedang sibuk mengikat potongan kayu bakar. Ia mengenakan celana panjang longgar menggantung di atas mata kaki berwarna coklat gelap, senada dengan baju kasarnya yang hanya berkancing dua di bagian dada. Jika dicermati, kancing itu terbuat dari batok kelapa, jauh dari kesan kerani perkebunan yang pernah ia sandang sebelas tahun silam.

Di sampingnya, anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun juga terlihat sibuk mengumpulkan ranting kering.

"Ama, engon so ara jema!" Hasan—si anak, menunjuk ke arah Amelia dengan mata membulat.

Sali, pria muda itu, menghentikan gerakannya. Ia menegakkan punggung, tangan kanannya refleks meraba hulu sewah, belati Gayo yang terselip di pinggangnya—naluri perlindungan yang tajam di masa perang yang tak menentu. Ia menatap sosok Amelia yang berdiri mematung.

Amelia gemetar. Ia melihat pria itu, lalu melihat anak kecil di sampingnya. Pakaian mereka, suasana hutannya, hingga aroma getah pinus yang segar, bersih dan menenangkan, semuanya terasa terlalu nyata untuk sebuah mimpi.

"Siapa kau, Nona?" Sali bertanya dalam bahasa Melayu yang kaku namun sopan. Matanya menyipit, menatap lekat wajah Amelia yang memiliki sedikit guratan Indo, namun ada sesuatu di mata wanita itu yang membuatnya teringat pada seseorang yang telah lama terkubur. "Bagaimana bisa kau berpakaian seperti itu di tengah hutan?"

Amelia hanya bisa terdiam, mulutnya kaku. Ia ingin menjawab bahwa ia baru saja sedang membersihkan lemari di kamarnya, tapi ia tahu itu akan terdengar gila. Ia menunduk, melihat sandalnya yang kini kotor oleh tanah merah, lalu kembali menatap Sali.

"Saya... saya tersesat," bisik Amelia lirih, suaranya hilang ditelan desis angin di pucuk-pucuk pinus. “Saya… ada dimana ini?”

Sali menurunkan tangannya dari hulu sewahnya. Rasa iba muncul di wajahnya yang keras.

“Nona ada di Blang Gele, tanah Gayo.”

“Tanah Gayo?” Amelia tersentak. Lututnya terasa lemas. Yang ia tahu tentang Gayo adalah penghasil kopi berkualitas tinggi.

”Di sini berbahaya, Nona. Tentara sedang berkeliaran di bawah sana. Mari, ikutlah dengan kami ke rumah, sebelum hari gelap!"

“Tidak, Pak! Saya mau kembali lagi ke tempat dimana tadi saya datang.”

Amelia menolak. Pikirannya kacau. Bagaimana bisa, baru saja pagi ini dia melepas suaminya berangkat kerja, kenapa sekarang hari sudah menjelang senja? Ia meraba kantung celana chino pendeknya.

‘Untung Hp aku kantongin!’ batinnya. Ia lalu mengeluarkan ponsel, mengetuk layarnya dua kali. Hutan pinus yang remang dan sunyi, tiba-tiba diterangi cahaya LED yang menyilaukan.

Amelia menempelkan HP ke telinganya, “Halo sayang! Angkat doong!” teriaknya panik. Ia mencoba menghubungi suaminya berkali-kali tanpa ada sambungan.

Sali terkejut bukan kepalang, rasa takutnya kini muncul. Apalagi saat ia mendengar wanita asing itu berbicara pada kotak hitam yang telah mengeluarkan cahaya. Apakah ia seorang penyihir? Jangan-jangan ingin menculik Hasan? Atau kotak hitam itu benda mistis yang bisa mencelakai putranya.

Sali takut bukan karena bodoh, tapi ia tahu kemajuan teknologi Belanda tidak sehebat itu. Ditengah ketakutan Sali, Amelia mungkin tidak sadar betapa konyolnya ia mencari sinyal di tahun 1942.

Dengan lunglai, Amelia mencoba berjalan kembali ke tempat yang ia kira dari situlah ia berasal. Tapi yang dilihatnya hanya kabut menyelimuti hamparan hutan pinus, pohon-pohon endemik dan semak belukar setinggi pinggang orang dewasa.

“Nona, tahan! Maaf, berterus-teranglah, darimana Nona berasal?” Sali menyusul langkah Amelia.

“Saya… saya dari Jakarta, Bapak.”

“Jakarta?”

“Iya.”

“Dimana itu?”

“Pulau Jawa.”

“Pulau Jawa…? Jogjakarta?”

“Bukan, Pak! Ja-kar-ta.”

“Oooh, maaf, saya cuma tahu kota Jogjakarta dan Batavia.”

Lihat selengkapnya