Makan malam itu berlangsung dalam keheningan yang janggal namun hangat. Amelia menyuap nasi dan ikan depik asam jing dengan berselera. Rasa asam dari jeruk nipis, andaliman dan pedasnya cabai rawit gunung itu membakar kerinduan Amelia pada masakan rumah di Jakarta.
Diterangi lampu teplok yang nyaris kehabisan minyak, Sali duduk bersila dengan tenang. Namun, matanya tidak bisa berbohong. Setiap kali Amelia bergerak, bayangan Kumala begitu kuat terpancar dari baju kurung yang ia kenakan. Dan entah bagaimana, baju itu bisa terasa pas di badan wanita ini.
Mutia, yang duduk di seberang, menyadari setiap lirikan suaminya. Ia meletakkan cangkir kalengnya dengan bunyi taakk yang cukup keras. Hatinya mencelos. Ia tidak marah pada Amelia, tapi ia merasa seperti sedang bersaing dengan kenangan adiknya sendiri yang kini mewujud kembali.
"Nona," tegur Mutia lembut namun tegas, “Maaf! Disini makan ala kadarnya. Tidak ada makanan mewah seperti di tempatmu."
“Ah, sama saja Ine. Rasa makanan ini sangat sedap! Asam pedas yang segar,” Amelia memuji dengan tulus. “Ini ikan apa, Ine? Gurih sekali.”
“Itu ikan depik. Ikan khas Danau Lut Tawar.”
“Oh, ikan danau. Kalau nama masakannya apa?”
“Ikan Depik Asam Jing.”
“Ikan depik asam pedas ya artinya, Ine?”
“Betul sekali Nona!”
Selesai makan, Amelia merasa kepalanya mau pecah karena tekanan situasi yang membingungkan ini. Ia butuh sesuatu yang akrab dengan kesehariannya.
Di serambi depan, ia mengeluarkan ponselnya. Saat layar OLED itu menyala terang, membiaskan cahaya biru ke wajah Amelia, Hasan yang sedang duduk di dekatnya langsung melompat mundur hingga hampir jatuh dari tangga.
"Ama! Ama! Kotak hitam itu keluar cahaya lagi!" teriak Hasan ketakutan.
Sali datang mendekat, ia menyipitkan mata. ”Nona, apakah ini berbahaya?”
Alih-alih takut, ia justru mengamati benda itu dengan dahi berkerut.
Amelia tersenyum tipis. "Tidak, Ama. Ini ponsel. Dari masa depan."
“Apa itu ponsel?”
“Telepon seluler. Telepon tanpa kabel.”
Sali terdiam, menggaruk kepalanya. Ia tampaknya sulit mencerna penjelasan Amelia. Setahunya, telepon itu pakai kabel. Pakai engkol yang diputar kencang.
Amelia kemudian memutar lagu Raisa. Suara musik yang jernih keluar dari speaker kecil itu—Cukup sekali saja, aku pernah merasa… Betapa menyiksanya kehilanganmu… Kau tak terganti, kau yang selalu ku nanti… Takkan kulepas lagi…
Begitu beberapa lagu selesai diputar, Hasan dengan kepolosan bocah sepuluh tahun, langsung merangkak ke tepian lantai kayu. Ia mencoba mengintip ke bawah kolong rumah.
"Ama! Apakah ada penyanyi sedang bersembunyi di bawah lantai kita? Suaranya dekat sekali!" ucap Hasan berbisik ngeri.
Sali tertawa kecil, berusaha menunjukkan wibawanya sebagai mantan kerani.
"Hasan, jangan bikin malu Ama! Itu namanya rekaman. Seperti piringan hitam di kantor Tuan Administrateur, hanya saja ini lebih kecil. Tidak ada orang di bawah sana, itu hanya... tenaga listrik yang berubah jadi suara," Sali menoleh pada Amelia, matanya berkilat ingin tahu. "Benar kan, Nona?”
Amelia tidak menjawab, ia justru mengarahkan kamera ke arah mereka.
"Ayo Hasan, Ama, Ine... kita berfoto."
Cekrekk! Kilatan cahaya menyambar.
Mutia menjerit tertahan, menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Astagfirullah! Mataku! Nona, kau mencuri bayanganku dengan petir itu?"
"Tidak, Ine. Lihat ini," Amelia menunjukkan layar ponselnya.
Seketika, suasana serambi itu berubah. Mutia yang tadinya ketakutan, kini merapat ke arah Amelia hingga bahu mereka bersentuhan. Ia menatap bayangan dirinya dengan begitu tajam, jauh lebih jelas daripada cermin buram yang ia punya.
"Ini... ini aku?" Mutia menyentuh layar dengan ujung jari yang gemetar. "Wajahku terlihat sangat nyata. Lihat, Sali! Kerut di mataku pun nampak. Tapi aku terlihat cantik ya!”
“Iya, Ine terlihat cantik. Fotegenik,” puji Amelia, tulus.