Matahari pagi di Blang Gele muncul malu-malu di balik kabut tebal yang menyelimuti perkebunan kopi. Suasana pagi itu terasa sangat alami dan hidup bagi Amelia.
Sali sudah berada di kolong rumah, sibuk menurunkan keranjang anyaman bambu dari punggungnya yang penuh sesak oleh rumput gajah berembun—pakan segar untuk kawanan kambingnya yang kini jumlahnya kian bertambah di dalam kandang kolong rumah. Suara embikan riuh bersahutan menyambut kedatangan Sali. ‘Sarapan pagi’ yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Di dapur, Amelia duduk di lantai papan yang dilapisi tikar pandan.
Ia memperhatikan Mutia yang dengan telaten mengayunkan sutil kayu di atas belango tanoh, wajan tanah liat. Aroma sangrai biji kopi kering yang dicampur beras—sebagai indikator tingkat kematangan biji kopi—mulai memenuhi ruangan, bercampur dengan bau asap kayu bakar dahan pohon kopi yang khas.
"Tolong bantu aku mengaduknya sebentar, Amelia. Aku mau buang air dulu," ujar Mutia sambil tersenyum ramah. "Jangan sampai apinya terlalu menjilat, kita ingin matangnya merata."
Amelia mengambil alih sutil, merasakan panas yang stabil memancar dari pori-pori gerabah. Saat butiran beras mulai berubah warna menjadi cokelat gelap dan berminyak, itu tandanya biji kopi sudah matang. Aroma dapur berubah menjadi lebih hangat dan tajam, menusuk hidung dengan keharuman yang menenangkan.
Setelah matang, kopi rempah itu dipindahkan Mutia ke dalam lesung kayu yang sudah menunggu di sudut dapur.
Tuk…tuk… krak…srek!
Suara alu beradu dengan dasar lesung, menumbuk biji-biji panas itu hingga pecah dan perlahan berubah menjadi bubuk halus yang hitam pekat. Aroma yang sangat harum khas kopi Gayo, memenuhi ruang dapur. Sangat menyenangkan Amelia, untuk terlibat langsung dalam proses membuat kopi secara tradisional.
"Tunggu di sini, aku ke bawah sebentar," kata Mutia. Ia melangkah menuju pintu dapur dan menuruni tangga kayu menuju kolong rumah panggung tempat ternak biasa berteduh.
Di sana, Sali, suami Mutia, baru saja selesai memeras beberapa tetes susu dari kambing betina mereka. Tak lama, Mutia kembali ke dapur membawa satu batok kelapa berisi cairan putih hangat yang masih berbuih tipis.
"Kau beruntung, Sali baru saja memeras susu kambing yang kental," ucap Mutia sembari menuangkan susu segar itu ke dalam cangkir kaleng berisi seduhan kopi hitam pekat. "Di sini kami jarang meminum ini. Tapi karena kedatangan tamu jauh seperti kau, kupikir campuran ini bisa menghangatkan badan kau dari dinginnya kabut Blang Gele. Cobalah!"
Amelia menerima cangkir itu dengan ragu. Uap kopi rempah yang berpadu dengan aroma gurih khas susu kambing mentah menerpa hidungnya—sebuah sensasi rasa kuno yang terasa sangat asing sekaligus magis bagi lidahnya yang berasal dari abad modern.
Ia mengangguk antusias, memperhatikan uap susu yang mulai menyatu dengan harum kopi yang baru saja mereka tumbuk.
Wangi kopi Gayo yang diseduh Mutia memenuhi ruangan, namun aromanya sedikit berbeda dengan yang biasa ia sesap bersama Rangga di Jakarta. Rasanya lebih tebal, creamy, dan hangat di kerongkongan.
"Ini kopi terbaik yang pernah saya minum, Ine," bisik Amelia sambil menggigit ubi rebus yang masih berasap.
Mutia hanya tersenyum tipis, matanya masih menyimpan sisa kelelahan semalam, karena suaminya begitu bergairah di kamar—mungkin Sali mengenang momen keintimannya dulu bersama Kumala yang sekarang mewujud di Amelia.
Setelah sarapan yang bersahaja itu, Amelia memutuskan untuk bersiap. Ia mengganti baju kurung pinjaman itu dengan identitas aslinya: kaos oblong dan celana pendek Chino. Ia yakin, saat ia melangkah masuk ke titik koordinat di hutan nanti, ia harus dalam keadaan "Amelia tahun 2026".
Perpisahan dengan Mutia berlangsung haru. Mutia memeluknya erat, seolah sedang memeluk kembali bayangan adiknya, Kumala. "Hati-hati, Amelia. Ingatlah kami selalu di sini," pesannya lirih.
Amelia berharap secepatnya kembali ke rumahnya di Foresta BSD city. Ia tidak tega meninggalkan suaminya berlama-lama. Saat ini mungkin Rangga kebingungan mencari dirinya. Dan mungkin saja akan menjadi berita sensasional di media massa:
“Seorang Istri Meninggalkan Rumah Tanpa Jejak”
Namun, harapan Amelia runtuh perlahan. Selama berjam-jam ia dan Sali menyisir lereng hutan pinus, mencari aroma kopi sangrai yang magis atau kabut putih yang menariknya kemarin. Hasilnya nihil. Amelia mulai putus asa. Hutan itu hanya berisi tegakan pohon pinus yang bisu, pohon-pohon endemik besar dan tanah yang lembap. Jalan pulang itu tertutup rapat.