KABUT GELAP DARI BLANG GELE

Heru Sanjaya
Chapter #30

MEMANCING IKAN DI SUNGAI

Matahari pagi menyusup dari sela-sela daun kopi yang masih basah saat Amelia mulai bersiap dengan kaos dan celana chino-nya. Hatinya tidak tenang. Bayangan Rangga yang panik, mungkin sedang menangis di depan lemari jati itu, terus menghantuinya.

"Ama, Ine, saya harus mencoba sekali lagi ke hutan itu," ucap Amelia dengan suara yang sedikit bergetar. "Saya takut Rangga kebingungan karena saya hilang.

Sali mengangguk maklum, namun Hasan tiba-tiba menarik ujung kaos Amelia. Bocah itu mendongak, matanya yang berwarna kebiruan—warisan Adriaan Van der Vlies —menatap Amelia dengan permohonan yang sulit ditolak.

"Aka... Nona Aka... satu hari saja lagi," rengek Hasan. Ia sudah mulai berani memanggil Amelia dengan sebutan yang lebih akrab. "Hasan mau ajak Aka ke sungai bawah bukit. Hasan mau tangkap ikan pedih untuk Aka."

Amelia tertegun. Kakek buyutnya memanggil dia kakak? Percuma baginya memberitahu Hasan, bahwa ia keturunannya kelak di masa depan.

"Ikan pedih itu lincah sekali, Nona," sela Sali sambil mengolesi minyak kelapa pada bilah parangnya.

Matanya sengaja dilemparkan ke bilah besi itu guna menghindari tatapan langsung pada bibir Amelia yang mengingatkannya pada Kumala. Sulit baginya mengikuti Mutia dengan memanggil Amelia—Ipak.

"Biasanya Hasan hanya berhasil dapat kalau hatinya sedang senang. Dia ingin memberikan perpisahan yang baik untuk kau sebelum kau pulang ke masa depan."

Mutia yang sedang menjemur kain di serambi juga ikut menoleh.

"Tinggallah sehari lagi, Ipak! Biar Hasan senang,” Mutia sudah benar-benar merasa sayang pada Amelia, hingga ia tidak canggung lagi memanggilnya dengan sebutan ipak.

“Lagipula, tenaga kau butuh istirahat sebelum mencoba menembus kabut itu lagi. Hutan sedang sangat lembap pagi ini, biasanya jalan sering tertutup kabut tebal," lanjut Mutia.

Amelia menatap Hasan, lalu membayangkan wajah Rangga. Rasa bersalah dan rasa sayang beradu di dadanya. Akhirnya, ia berlutut menyamai tinggi Hasan dan mencubit pipi bocah itu pelan.

"Baiklah, satu hari lagi ya? Kita memancing ikan pedih," jawab Amelia akhirnya.

Hasan melompat kegirangan, tawanya memenuhi rumah panggung itu.

Bocah sepuluh tahun itu langsung berlari ke serambi, menuruni anak tangga hingga kaki lincahnya menuju kolong rumah. Ia menyambar wadah anyaman tempat menyimpan kail dan perlengkapan memancingnya.

Sali hanya menatap keberangkatan mereka dari ambang pintu, tangannya kembali tekun menggosokkan minyak kelapa pada parang, menyembunyikan pergolakan batin yang tak kunjung padam.

Sementara Mutia melepas kepergian Amelia dan putranya dengan lambaian tangan hangat, menyisakan keheningan yang mendadak terasa berat di atas rumah panggung, ketika langkah kaki kedua anak manusia berbeda zaman itu mulai menjauh melintasi rimbunnya kebun kopi Blang Gele menuju sungai bawah bukit.

Suasana mendadak menjadi begitu lengang. Hanya ada suara desis angin pagi yang menerpa atap ijuk, Kokok ayam, dan embikan kambing-kambing di kolong rumah.

Mutia mematung di serambi, jemarinya masih memegang ujung kain sarung yang baru selesai ia jemur. Matanya menatap lurus ke jalan setapak yang kini kosong. Di kepalanya, bayangan Amelia yang berjalan menjauh bersanding dengan kenangan belasan tahun lalu—saat Kumala masih sering berlari di jalan yang sama.

Wanita itu membalikkan badan, melangkah perlahan memasuki ruang tengah yang sunyi. Ia berdiri di dekat tiang, menatap suaminya yang masih fokus mengolesi gagang parang dengan buah kemiri tanpa mendongak sedikitpun.

"Kau melihatnya juga, kan, Sali?" tanya Mutia, suaranya parau memecah kesunyian.

Gerakan tangan Sali terhenti. Bilah parang itu tertahan di atas lantai papan. Ia tidak menjawab, namun rahangnya yang mengeras sudah cukup menjadi jawaban bagi Mutia.

"Baju kurung itu... pas sekali di tubuhnya," lanjut Mutia, melangkah mendekat hingga bayangannya jatuh menutupi badan Sali. "Semalam di atas tikar pandan, mata kau tidak bisa berbohong. Sepuluh tahun aku mendampingi kau setelah malam pertama kita di bawah hujan itu, Sali. Aku tahu kapan suamiku sedang menatapku, dan kapan suamiku sedang memeluk ‘hantu’ masa lalu."

Sali menghela napas berat. Ia meletakkan parangnya, menatap lantai papan kayu dengan rasa bersalah yang teramat dalam. "Dia... dia tamu dari masa depan, Mutia. Kau tahu sendiri dia cicit dari Hasan."

"Aku tahu!" potong Mutia lirih, setetes air mata jatuh di pipinya yang mulai dihiasi kerutan halus kelelahan. "Tapi dia membawa wajah adikku. Dan setiap kali kau memanggilnya 'Nona' dengan lidah yang kaku itu, aku tahu kau sedang memasang dinding agar hasratmu tidak runtuh, Sali.”

Sali terdiam. Bibirnya mengatup rapat. Ia telah merasa berdosa pada istrinya. Perlahan kepalanya mendongak, menatap matahari yang sudah meninggi.

Lihat selengkapnya