Kabut dingin pegunungan Gayo yang paling pekat menyusup bebas melalui celah-celah dinding papan rumah panggung, membangunkan Amelia sebelum ayam jantan sempat berkokok untuk pertama kali.
Di dalam bilik yang remang, kesibukan pagi keluarga Sali sebenarnya sudah dimulai tanpa suara. Dari balik pintu, Amelia bisa mendengar gesekan halus sapu lidi Mutia yang sedang merapikan abu tungku dapur, bersanding dengan bau wangi dahan kopi yang dibakar untuk menjerang air.
Amelia duduk termenung di atas ranjang, menatap baju kurung peninggalan Kumala yang masih melekat di tubuhnya. Kamar itu begitu sunyi.
Di pojok kamar, Hasan kecil masih terbaring lemah. Pelipisnya yang bengkak merah keunguan tertutup kompresan daun-daunan tumbuk yang semalam ditempelkan Mutia. Napas bocah sepuluh tahun itu terdengar teratur, sesekali tubuhnya bergerak kecil menahan sisa gigilan dingin sungai kemarin.
Amelia berlutut perlahan di samping tempat tidur kakek buyutnya. Ia menatap lekat-lekat fitur wajah Indo-Eropa Hasan dalam keremangan fajar—garis hidungnya yang tegas dan kulitnya yang bersih. Dengan jemari bergetar, Amelia mengusap puncak kepala Hasan dengan sangat lembut, sebuah pamitan tanpa kata dari seorang cicit yang tahu, bahwa dia harus segera pergi demi menjaga agar anak ini tetap hidup sampai masa depan tiba.
Setelah sarapan bersahaja berupa ubi rebus hangat dan sesapan terakhir kopi yang disuguhkan Mutia di dekat tungku dapur, keheningan yang berat mulai mengurung mereka. Waktu Amelia sudah habis.
Wanita itu melangkah kembali ke dalam kamar untuk melepas seluruh identitas masa lalunya. Baju kurung dan kain sarung kesukaan mendiang Kumala itu ia lipat dengan sangat rapi di atas ranjang, lalu ia menggantinya dengan pakaian aslinya—kaos oblong dan celana pendek chino tahun 2026.
Saat ia melangkah keluar dari kamar, Mutia yang sedang memegang wadah anyaman langsung terperangah. Matanya menatap lekat-lekat betis mulus Amelia yang terbuka bebas. Ia merasa risih menyaksikan busana tabu tersebut.
Namun, alih-alih menegur, Mutia justru berbalik ke arah lemari, mengambil selembar upuh ulen-ulen bermotif kerawang Gayo peninggalan Kumala, lalu menyampirkannya dengan lembut di bahu Amelia.
"Pakai kain ini untuk menutupi aurat, Ipak! Biar hangat tubuh kau, dan doa-doa kami terus menyertai kau sampai ke masa depan," bisik Mutia dengan mata berkaca-kaca, memeluk Amelia untuk terakhir kali di ambang pintu rumah.
Di dekat tangga kayu, Sali sudah menunggu dalam diam. Jembolang, penutup kepalanya terpasang rapi. Dan tangannya menggenggam erat hulu sewah, belati Gayo pendek di pinggangnya, bersiap mengawal Amelia mendaki kembali lereng bukit Blang Gele menuju kepungan kabut hutan pinus demi menunggu aroma kopi itu muncul kembali.
“Sali, jaga Ipak sebagaimana kau menjaga Hasan!” ujar Mutia tegas— sebuah pernyataan tersirat agar Sali memandang Amelia sebagai keturunannya juga, bukan lawan jenis.
Sali tertegun di anak tangga pertama. Rahangnya yang mengeras tampak bergetar lembut. Tanpa menoleh, ia mengangguk sekali—sebuah janji bisu yang berat—sebelum melangkah turun memimpin jalan. Amelia membetulkan posisi upuh ulen-ulen di bahunya, melempar senyum perpisahan terakhir pada Mutia, lalu bergegas mengekor di belakang Sali.
Begitu kaki mereka menyentuh tanah pekarangan, atmosfer dunia luar seakan langsung menelan mereka dalam kesunyian yang magis. Pagi itu, Blang Gele sepenuhnya dikepung oleh kabut tebal putih yang berarak rendah, membuat jarak pandang tak lebih dari lima langkah kaki ke depan.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah perkebunan kopi rakyat. Amelia melangkah dengan sangat hati-hati. Tanah pebukitan yang lembap dan basah oleh embun semalam terasa dingin di bawah kakinya, namun selendang kerawang Gayo peninggalan Kumala yang membungkus tubuhnya memberikan kehangatan yang aneh.
Tidak ada obrolan di antara mereka. Perjalanan yang kaku seirama dengan detak jantung Amelia yang kian berdegup cemas.
Di kanan dan kiri mereka, siluet pohon-pohon kopi tua berdiri kaku seperti pilar-pilar hitam yang diselimuti kabut. Sesekali, dedaunan kopi yang sarat beban air embun meliuk pelan, menjatuhkan tetesan air yang terdengar jernih menyentuh tanah basah.
Sali berjalan dengan langkah teratur. Tangan kanannya tak pernah lepas melekat pada hulu belati Gayo pendek di pinggangnya, namun matanya tajam terus bergerak waspada memindai kelokan jalan di balik tirai kabut putih yang tebal.
Sementara itu, di atas rumah panggung yang dibungkus sepi, keheningan kamar pecah oleh erangan kecil. Hasan menggerakkan badannya dengan kaku, kelopak matanya terbuka perlahan menahan denyut nyeri di pelipis yang tertutup perban sobekan kain bersih.
Hawa fajar yang dingin membuat bocah sepuluh tahun itu refleks merapatkan upuh jebelnya. Matanya yang kebiruan bergerak memindai sudut kamar yang kosong, lalu beralih ke arah pembaringan tempat biasanya tamu asing mereka beristirahat. Kosong. Hanya ada kebulan sisa asap kayu kopi dari arah tungku dapur yang menyelinap masuk lewat celah pintu geser.