Kabut Tengger

Praboe Mas Publisher
Chapter #6

Bab VI Ranu Kumbolo

Dari Kantor TNBTS mereka mulai melakukan pendakian. Sebelum berangkat, Hilman menyuruh ketiga rekannya untuk membeli air mineral. Setelah membeli air minum dan berdoa di depan warung, mereka kemudian bergegas meninggalkan kawasan kantor perizinan. Mereka berjalan kaki ke arah Lumajang.

Hari belum begitu siang. Sinar mentari masih terhalang gunung dan perbukitan. Hawa dingin menyelimuti desa sementara kabut tipis masih berjejalan memenuhi ladang.

Di balik bukit samar-samar terlihat sebuah gunung. Gunung itu tampak gagah. Ia berdiri tinggi dengan puncak runcingnya yang seakan-akan menyangga langit. Gunung itu berwarna hijau ke abu-abuan. Di bagian puncak, gunung itu mengeluarkan asap tebal.

Hilman menunjuk ke arah gunung itu.

“Itu Gunung Semeru, Rin. Gunung itu memiliki ketinggian 3676 mdpl dan merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa,” ujar Hilman.

Marina mengikuti arah yang ditunjuk Hilman.

“Mas Hilman pernah sampai di puncaknya?”

“Sering.” Hilman menganggukkan kepala. ”Dulu ketika masih aktif menjadi pengurus harian aku bahkan pernah memimpin kegiatan upacara di puncak.”

“Emang muat, Mas?’

“Jangan salah. Di atas, tempatnya cukup luas dan mirip lapangan.”

“Dingin, nggak?”

“Dingin. Lebih dingin dari hawa saat ini.”

“Berapa jam ke puncak, Mas?”

“Kalau dari Camp Arcapada, perjalanan ke puncak menghabiskan waktu 5 sampai 6 jam perjalanan. Kalau dari Kalimati lebih lama.”

Fadri yang berjalan di belakang Marina kemudian memotong.

“Nyampe Ranukumbolo kira-kira jam berapa?”

Bayu yang berjalan di belakangnya mencibir.

“Belum apa-apa sudah nanya nyampe jam berapa. Ini masih belum seberapa, Dri.”

“Diam monyet! Aku tidak berbicara denganmu” kata Fadri bersungut-sungut.

Marina dan Hilman hanya bisa tersenyum melihat kelakuan dua sahabat itu.

“Kalau cepat kita bisa sampai di Ranukumbolo sebelum Ashar,” kata Hilman sambil melirik jam tangannya.

Dari arah belakang tiba-tiba sebuah truk berlari cepat. Truk yang membawa aneka sayuran melaju dan membunyikan klaksonnya. Keempat pendaki itu langsung terkejut dan berhenti. Mereka kemudian menepi di pinggir jalan. Truk itu melintas di depan mereka dengan meninggalkan bau asap yang menyengat. Keempat orang itu langsung menutup rapat-rapat hidungnya. Seorang pria bersarung yang duduk di bak truk melambaikan tangannya kepada mereka. Hilman membalas lambaian itu dengan mengangkat telapak tangannya.

Setelah truk itu menghilang di tikungan mereka kemudian melanjutkan pendakiannya kembali. Setelah sampai di gapura ujung desa, mereka kemudian berbelok dan mulai menapaki jalur setapak yang lebarnya kurang lebih satu meter. Karena masih setapak, jalannya sedikit berdebu. Hilman kemudian menyuruh ketiga rekannya untuk mulai memakai penutup hidung. Marina langsung memakai maskernya sementara Fadri dan Bayu menutupi hidungnya dengan slayer yang sedari kemarin menggantung di leher mereka masing-masing.

“Jalannya mulai menanjak ya, Mas?” tanya Marina.

“Nggak.” Hilman menggelengkan kepala. ”Dari sini jalannya lumayan datar. Kalau ada naiknya tidak terlalu curam.”

“Jalur yang satunya, apa namanya?” tanya Fadri

“Ayak-ayak.”

“Kalau jalur itu lebih dekat atau malah lebih jauh?”

“Lebih dekat. Cuma jalurnya dari Ranupani lumayan menanjak. Kita nanti lewat situ kalau pas turun. Pemandangannya lebih asyik.”

Jalan setapak itu adalah jalur peladang yang menghubungkan satu ladang dengan ladang lainnya di kawasan itu. Karena sempit, hanya kendaraan roda dua yang bisa masuk. Roda empat bisa masuk namun akan mengalami sedikit kesulitan.

Mereka tidak lama melewati jalur peladang itu. Lima menit dari gapura mereka kemudian menyimpang ke kiri dan mulai memasuki jalur pendakian. Sebuah plang tertancap di batang pinus membantu mereka menemukan jalan.

“Kalau jalan, lihat depan belakang, ya! Kalau sekiranya di depan atau di belakangnya tidak ada orang harap berteriak. Jangan sampai berjalan sendirian dan rombongan ini terputus,” kata Hilman memberi arahan.

“Siap!” Bayu dan Fadri menjawab hampir bersamaan.

Mereka kemudian berjalan melewati hutan belantara yang semakin lama semakin rimbun. Berbagai tanaman tumbuh mulai yang seukuran manusia hingga yang memiliki tinggi hingga puluhan meter. Suara hewan-hewan liar mulai terdengar sementara suara peladang dan kendaraan bermotor perlahan lenyap bersama lebat hutan yang kian mencekam.

Karena merasa takut, Marina kemudian meminta Fadri untuk berjalan di depannya. Ia sendiri memilih berjalan di depan Bayu dan meminta tunangannya itu untuk selalu menemaninya. Bayu menurut. Ia kemudian mengatur langkahnya agar seirama dengan langkah Marina. Jika Marina berjalan cepat ia ikut berjalan cepat. Ketika tunangannya itu berjalan lambat ia ikut melambatkan langkahnya.

Medan yang mereka lewati memang tidak terlalu menanjak. Jalur setapak itu lumayan datar diselingi dengan beberapa tanjakan yang tidak terlalu curam. Walau begitu, jalur pendakian dipenuhi dengan beberapa rintangan seperti pohon tumbang. Karena pohon-pohon itu merintangi jalan, mereka terpaksa merangkak-rangkak di bawahnya. Kalau pohon-pohon itu melintang rendah mereka harus menaiki dan berjalan di atasnya. Yang paling merasa kesulitan tentu Marina. Wanita berkulit putih itu sesekali meminta Bayu membantunya menaiki batang pohon yang ukurannya seukuran dua tubuh orang dewasa.

Setelah berjalan selama kurang lebih dua jam mereka mulai merasakan kepayahan. Yang nampak lelah adalah Fadri. Wajah lelaki bertubuh sedikit gemuk itu tampak basah bermandikan peluh. Pakaian yang ia kenakan tidak kalah basah. Sambil terseok-seok ia melangkah menyusuri jalan setapak yang semakin senyap itu. Berkali-kali ia menghentikan langkahnya dan mengambil air mineral yang ia simpan di dalam tas ransel. Ia meneguk air minum itu sedikit demi sedikit sambil mengatur nafas sebelum melanjutkan perjalanannya kembali.

Untunglah, Taman Nasional sudah menyediakan tempat istirahat berbentuk selter di sepanjang jalan. Selter-selter itu dibangun dengan dilengkapi tempat duduk dan atap sederhana. Walau tidak terlalu mewah keberadaannya cukup membantu para pendaki yang kelelahan dan ingin beristirahat. Agar rombongannya tidak terlampau kelelahan, Hilman memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di setiap selter yang mereka temui.

Jam 12 siang mereka akhirnya sampai di Pos 3. Di pos ini Hilman menyuruh ketiga rekannya untuk mempersiapkan diri melewati jalur pendakian yang cukup menanjak. Di samping selter, penduduk lokal mendirikan lapak dan menjual aneka gorengan. Sambil istirahat mereka membeli gorengan dan kopi susu panas.

“Dulu, gunung ini belum ada selternya. Semua tampak alami. Sekarang di setiap pemberhentian sudah ada pos dan tempat berteduhnya. Bahkan sudah ada penjual gorengannya,” kata Bayu sambil melirik penjual gorengan yang mengangguk-angguk membenarkan pernyataannya.

“Paling susah kalau sedang istirahat, eh tidak tahunya turun hujan,” timpal Hilman.

Fadri mengunyah pisang gorengnya.

“Wah...tidak bisa kubayangkan jika sepanjang perjalanan tidak ada gorengannya.”

Marina membuka ranselnya dan mengambil botol air minum. Ia kemudian meneguk habis air mineral di dalamnya. Wanita berkulit putih itu lalu memasukkan botol yang sudah kosong itu kembali ke dalam ranselnya.

“Pernah ada kejadian pendaki hilang nggak di gunung ini, Mas?” tanyanya kepada Hilman.

“Sudah tidak terhitung, Rin.”

“Hah...!” seru Marina sedikit kaget. ”Jadi sudah banyak pendaki yang hilang di gunung ini?”

"Baik yang hilang maupun meninggal di gunung ini sudah tidak terhitung. Yang meninggal biasanya terkena hipotermia. Yang hilang biasanya berjalan menyimpang ketika sedang turun.”

Kening Marina berkerut.

“Menyimpang?”

“Ketika turun dari puncak, kita akan dipandu oleh pohon besar di atas Arcapada. Pohon ini bernama Cemorotunggal. Setiap pendaki harus tahu pohon ini karena menjadi semacam penunjuk yang mengarahkan para pendaki untuk menuruni jalur yang tepat. Menyimpang sedikit saja, para pendaki bisa tersesat ke area kematian yaitu Blank 75. Blank 75 adalah sebuah jurang yang dalamnya mencapai 75 meter. Banyak pendaki yang terperosok di tempat ini dan tidak pernah kembali.”

“Hiih...ngeri!” ujar Marina sambil bergidik.

Lihat selengkapnya