Kabut Tengger

Praboe Mas Publisher
Chapter #7

Bab VII Bertemu Kembali

Seorang pria tua berjalan ke arah tenda terpal. Umur pria itu sekitar 50 tahun. Pria tua itu berpakaian sederhana dan tidak memakai alas kaki. Di lehernya menggelantung seikat sarung yang warnanya sudah lusuh. Pria tua itu berhenti di samping tenda. Seorang anggota Mapala yang sedang menjemur sleeping bag tampak terkejut dengan kedatangan pria itu.

Pria tua itu menanyakan sesuatu.

“Mas Hilman sudah sampai, Dik?”

“Maksud bapak, orang yang barusan datang? Yang datang dari Juanda ?”

“Iya.”

Anggota Mapala itu kemudian berdiri.

“Orangnya sudah sampai, Pak. Mari saya antar!”

Anggota Mapala itu berjalan masuk ke dalam area tenda terpal. Ia mengajak pria tua itu menemui Hilman yang sedang asyik berbincang dengan Agus dan anggota Mapala lainnya. Begitu melihat pria tua itu, Hilman langsung mempersilahkannya duduk.

“Silahkan duduk, Pak Tumari?”

Pria tua itu duduk dan menyalami satu-persatu orang yang duduk di tempat itu. Setelah mengambil tempat duduk, pria tua itu disodori minuman kopi jahe.

“Tiba jam berapa, Mas?” tanya pria tua bernama Pak Tumari itu.

“Barusan,” jawab Hilman sambil melirik jam tangannya. Ia kemudian balik menanya, ”Sudah dipasang semua tendanya?”

“Sudah, Mas.”

Agus yang sepertinya tidak asing dengan wajah pria tua itu langsung bertanya, “Jadi bapak ini tim porternya Mas Hilman?”

“Iya,” jawab pria itu sambil mengangguk.

"Saya kira siapa,” ujar Agus sambil tersenyum. ”Saya tadi sempat curiga kok bapak bolak-balik mengitari tenda ini. Saya berpikir jangan-jangan seorang maling. Eh rupanya sedang menunggu Mas Hilman.”

Pria tua itu tertawa. Memang, sejak pagi ia berkali-kali mengitari tenda terpal untuk mengecek kedatangan Hilman.

“Maaf. Seharusnya saya tadi bertanya ndak celingak-celinguk seperti maling.”

“Tidak! Justru saya yang harusnya minta maaf...” kata Agus penuh penyesalan

Permintaan maaf yang disampaikan Agus kepada pria itu memang beralasan. Sebagai pendatang, para pendaki sudah sepantasnya menghormati penduduk lokal yang notabene sudah mendiami kawasan Tengger selama beratus-ratus tahun. Selain dikenal berjiwa terbuka, masyarakat Tengger juga terkenal dengan sikap hidupnya yang baik dan sederhana. Dalam sebuah laporan yang ditulis oleh penguasa kolonial, Tengger bahkan disebut sebagai kawasan yang bebas dari madat dan pencurian.

Hilman kemudian menanyakan rencana Pak Tumari selanjutnya,

“Sampeyan langsung pulang hari ini?”

“Iya,” jawab Pak Tumari sambil meneguk kopi jahenya.

“Balik ke sini tanggal berapa?”

“Sesuai rencana awal.”

“Maaf, Pak. Rencananya berubah. Kami memutuskan balik tanggal 17.”

“Tidak jadi tanggal 18?”

“Tidak.”

“Siang atau pagi?”

“Siang.”

Em...kalau begitu kami berangkat dari Ranupani pagi. Sampai sini kemungkinan besar jam 10 siang.”

“Oke.”

Hilman dan Rido kembali melanjutkan perbincangan mereka. Mereka berdiskusi tentang persiapan kegiatan upacara bendera di Puncak Mahameru. Hilman juga menanyakan kesiapan tim Ranukumbolo yang rencananya besok berangkat dari Malang. Sesekali, Pak Tumari ikut nimbrung dan memberi beberapa nasehat.

Setelah berbincang cukup lama Pak Tumari kemudian memberi kode kepada Hilman untuk pamit pulang.

“Saya antar ke tenda sekarang atau bagaimana?”

“Sekarang aja!” kata Hilman sambil meraih tasnya. ”Saya takut nanti sampeyan kemalaman di jalan.”

Hilman kemudian pamit kepada Agus dan Rido. Ditemani Pak Tumari, ia mengajak Bayu dan kedua rekannya untuk pindah ke tenda mereka.

Tenda mereka ternyata berdiri di dekat batu prasasti. Tenda yang didirikan ada tiga buah. Dua tenda berukuran besar sementara satu lagi ukurannya sedikit kecil. Ketiga tenda itu berjajar mengarah ke danau. Tenda paling kecil diletakkan di bagian tengah. Di depan ketiga tenda itu terpasang semacam teras yang di bawahnya sudah tersedia peralatan masak yang siap untuk digunakan. Dua kompor gas ukuran tanggung sedang menyala untuk memanaskan sayuran dan air hangat.

Ketika Hilman tiba, dua penduduk lokal menyambut mereka.

“Sudah lama sampainya, Mas,” tanya salah seorang di antara mereka.

“Barusan.”

Penduduk lokal itu kemudian menunjuk pada nesting yang ada di dekat kompor, “Nasinya sudah matang. Lauk-pauknya juga sudah kami goreng. Sayurnya juga sedikit lagi sudah matang. Semua logistik kami simpan di tenda paling kanan.”

“Terima kasih...” kata Hilman senang.

Tidak lama, Pak Tumari pamit pulang.

“Kalau begitu kami pamit dulu, Mas Hilman,” kata Pak Tumari sambil mengedipkan matanya kepada dua rekannya.

“Baik, Pak. Terima kasih banyak,” kata Hilman sambil menyalami Pak Tumari. Setelah semua bersalaman, ketiga penduduk lokal itu pergi.

Hilman langsung melakukan pembagian tenda. Marina kebagian tenda yang paling kecil sementara Fadri dan Bayu menempati tenda besar sebelah kiri. Hilman memilih tenda besar sebelah kanan. Setelah pembagian tenda selesai mereka langsung merebahkan dirinya di tenda masing-masing. Hanya Bayu yang tidak tidur. Selain tidak mengantuk ia juga sudah punya rencana untuk memasak ikan asin kesukaannya.

***

Jam lima sore Fadri terbangun. Tubuhnya diguncang-guncang seseorang. Begitu terbangun ia melihat Bayu sudah masuk ke dalam tenda. Ia memakai jaket tebal dan tangannya membawa 4 jerigen air. Sedikit malas, Fadri membuka sleeping bagnya.

“Mengganggu saja kamu, Yu!” ujarnya sewot.

“Mumpung belum gelap kita cari air, yuk!”

“Di mana?”

“Di sana. Dekat pinus,” ujar Bayu sambil menunjuk ke sebuah arah.

Sedikit malas Fadri mencoba untuk duduk. Ia merapikan pakaiannya. Bayu keluar tenda dan meninggalkan Fadri yang masih berupaya untuk melawan kantuknya. Dari luar Bayu memanggil namanya.

“Ayo... Dri!”

“Iya sabar, Monyet,” jawab Fadri kesal.

Dengan rasa malas ia kemudian keluar tenda. Udara dingin yang menyelimuti Ranukumbolo langsung menerjang tubuhnya.

Lihat selengkapnya