Kabut Tengger

Praboe Mas Publisher
Chapter #8

Bab VIII Menikmati Liburan

Pagi hari, udara di Ranukumbolo terasa sangat dingin. Bunga es terlihat menempel di mana-mana. Tidak hanya di rerumputan, butiran halus berwarna putih itu juga menempel di cover-cover tenda.

Suasana masih sangat sepi.

Di depan tenda, Hilman masih terpekur. Ia duduk di atas sajadah yang warnanya sudah mulai menua. Mulutnya berkomat-kamit sementara matanya terpejam. Sudah sejam lebih ia duduk di tempat itu. Seolah mengabaikan tusukan hawa dingin, laki-laki berjenggot lebat itu tampak syahdu menikmati ketenangan Ranukumbolo.

Sebuah jaket tebal telah membalut tubuhnya. Ia juga melindungi kakinya dengan kaus kaki. Hanya tangannya yang tampak gemetar menahan kebekuan kabut di danau itu.

Sementara ia masih berzikir, Bayu terbangun dari tidurnya. Tangannya meraba-raba resleting yang menutup sleeping bagnya. Ia membuka resleting itu perlahan. Begitu sleeping bagnya terbuka ia mencoba bangkit dari tidurnya. Ditengoknya Fadri sebentar. Laki-laki sedikit gemuk itu masih tertidur. Ia kemudian menyembulkan kepalanya keluar tenda.

Hilman membuka matanya.

Kepala Bayu dilihatnya sudah menyembul dari balik tenda. Perlahan ia bangkit dan membereskan peralatan sembahyangnya. Setelah menyimpan sajadah dan matrasnya, Hilman kemudian menghidupkan kompor.

Ia memasak air minum.

“Sudah bangun rupanya, engkau” ujarnya kepada Bayu.

“Dingin sekali. Berapa suhu pagi ini?” tanya Bayu seraya menggigil.

Hilman melirik jam tangannya. Matanya kemudian tertumbuk pada indikator pengukur suhu.

“Minus lima.”

“Haahh...!” ujar Bayu terperangah. ”Pantas hawanya sangat dingin.”

Hilman mengambil dua cangkir logam. Cangkir itu kemudian ia isi dengan kopi dan gula. Setelah air di atas kompor sudah mendidih. Ia kemudian menuang air panas itu ke dalam cangkir yang sudah disiapkan.

Ia memberikan salah satu cangkir itu kepada Bayu.

“Kamu ikut nggak?”

“Ke mana?” tanya Bayu.

“Mengisi air.”

Bayu menolehkan kepalanya dan melihat ke arah samping tenda. Jerigen-jerigen yang kemarin ia isi kini sudah kosong. Hanya tersisa satu jerigen saja yang berisi air bersih.

“Sebentar...aku memakai jaket dobel dulu,” ujarnya sambil memasukkan kepalanya kembali ke dalam tenda.

Bayu memakai jaketnya.

Setelah memakai jaket dobel, ia kemudian keluar tenda. Ia mengikuti langkah Hilman yang berjalan menyusuri bibir danau. Tujuan mereka adalah sisi selatan Ranukumbolo. Lokasinya berdekatan dengan tempat ia kemarin mengambil air. Di tempat itu mereka bergantian mengisi air. Begitu air jerigen sudah penuh mereka duduk-duduk sambil menikmati pemandangan danau yang sangat indah.

Bayu menyeruput kopinya.

“Tak kusangka. Medina ada di sini,” ujarnya kepada Hilman.

“Kamu sudah bertemu dengannya?”

“Sudah”

“Bagus, memang itu yang kuharapkan.”

Bayu sedikit terkejut.

“Jadi kamu tahu kalau Medina ikut pendakian ini?”

“Tentu.”

“Kenapa tidak memberitahuku terlebih dahulu. Seharusnya kamu memberitahuku kalau Medina ikut acara ini. Andai kamu mengatakan lebih awal mungkin aku akan memutuskan untuk tidak ikut pendakian ini.”

“Justru itu. Kalian harus bertemu di tempat ini.”

“Untuk apa, Man?” ujar Bayu sedikit keras. Tensinya sedikit naik. ”Aku sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Aku sudah tidak mungkin bersamanya lagi.”

“Pertemuan ini bukan untukmu.”

“Lalu?”

“Pertemuan ini kurancang untuknya.”

“Aku tidak mengerti.”

“Medina wanita lugu, Yu. Selama ini, ia tidak bisa melepaskanmu. Dia terus memikirkanmu walau kamu sudah bersama dengan yang lain. Ini sangat berbahaya baginya. Aku hanya ingin dia mengerti dan sadar bahwa kamu bukan jodohnya.”

“Tetapi kan bisa dengan cara lain.”

“Dengan cara apa?” tanya Hilman tegas. ”Dengan sambungan telepon? Aku tidak pernah berfikir bahwa usaha itu akan berhasil. Aku hanya percaya bahwa dengan pertemuan ini hubungan kalian akan resmi berakhir. Kamu sudah tidak punya hak atas dirinya. Dia sudah tidak lagi berharap padamu.”

Bayu bungkam.

Kata-kata Hilman itu ada benarnya. Selama ini hubungan mereka tidak jelas. Terakhir bertemu, keduanya hanya berikrar untuk berpisah. Kata putus faktanya belum terucap.

“Terus apa yang harus aku lakukan?”

“Kamu sendiri yang tahu caranya. Yang pasti setelah pertemuan ini dia harus bisa melupakanmu”

Bayu menerawangkan matanya ke puncak bukit. Dia teringat pengkhianatannya tujuh tahun yang lalu.

Ia merasa bersalah.

“Kasihan Medina...”

“Selama ini aku sudah berusaha menjodohkannya dengan beberapa kenalan. Sayang ia sepertinya masih belum bisa move on

“Kamu masih sering kontak dengannya?”

“Sering. Studionya bahkan dekat rumahku.”

“Terus, bagaimana ceritanya ia bisa ikut diundang?”

“Dua bulan yang lalu pengurus Mapala datang ke rumah. Mereka meminta kontak personil orang yang bisa membuat dokumentasi acara. Konsepnya adalah dokumenter semi sinematik. Aku mengirimkan beberapa portofolio dan ternyata mereka memilih studionya Medina.”

“Pantesan dia ikut ke puncak.”

“Dia dan timnya akan mengkoordinir pengambilan gambar sekaligus mengatur teknis wawancara dan testimoni di kawasan Kalimati.”

***

Jam sudah menunjuk angka 6 pagi. Suasana Ranukumbolo mulai ramai. Para pendaki sudah banyak yang bangun dan memulai aktivitasnya. Hilman dan Bayu masih bertahan di tempat itu. Dari arah camping ground, Rido datang bersama beberapa anggota Mapala. Mereka datang sambil membawa jerigen air. Begitu melihat Hilman ia langsung menyapa.

“Pagi, Mas!”

“Pagi. Mau ngisi air, Do?” tanya Hilman.

“Iya.”

“Anggotanya sudah siap?”

“Sudah,” jawab Rido kepada Hilman.

“Anak fotografi juga sudah siap?” tanya Bayu.

“Mereka sekarang stand by di Base Camp, Mas.”

Lihat selengkapnya