Pagi hari di tanggal 17, suasana di Ranukumbolo tampak berbeda. Para pendaki yang biasanya beraktivitas di tenda masing-masing kini telah berkumpul di kaki bukit Tanjakan Cinta. Mereka membentuk barisan dengan format melingkar. Di tengah-tengah mereka sebuah tiang telah berdiri. Tiang itu tingginya sekitar 10 meter dan terbuat dari tujuh batang pipa besi. Pipa-pipa itu disambung menjadi satu dan dikuatkan dengan empat ikatan webbing yang menahan tiang di empat penjuru mata angin.
Sejak pagi, anggota Himakpa sudah berkeliling untuk menyampaikan surat undangan kegiatan upacara bendera. Mereka menemui satu-persatu para penghuni tenda. Jam tujuh tepat semua undangan telah hadir dan bersiap mengikuti kegiatan upacara bendera.
Yang bertugas sebagai pembina upacara adalah Pak Sobri. Bayu didaulat sebagai pemimpin upacara sementara Hilman bertugas sebagai pembaca doa. Petugas lain dipilih dari kalangan pendaki yang bersedia secara sukarela.
Awalnya, Bayu menolak penunjukan itu. Dia menganggap dirinya terlalu tua untuk menjadi seorang pemimpin upacara. Dia kemudian menyarankan agar mereka memilih pemimpin dari kalangan Mapala. Pak Sobri justru menolak usulannya. Dia menginginkan pemimpin upacara dari kalangan non Mapala.
“Ayolah...! Jangan malu untuk menjadi seorang pemimpin. Sekali-kali kamu harus bisa menjadi pemimpin,” rayu Pak Sobri.
Hilman menyela,
“Bapak salah. Dulu dia pemimpin senat. Dia orator ulung yang orasinya selalu didengarkan mahasiswa.”
Pak Sobri terkejut.
“Benarkah...?” ujarnya sambil membelalakkan mata. ”Kalau begitu kamu lebih pantas jadi pembina upacara.”
“Jangan, Pak!” tolak Bayu serius. ”Saya memilih jadi peserta upacara saja. Saya tidak pantas menjadi pemimpin upacara apalagi menjadi pembina.”
“Kalau kamu tidak mau, upacaranya tidak selesai-selesai. Bisa-bisa upacaranya diundur sampai besok,” kata Pak Sobri ngarang.
Hilman tersenyum geli.
Panitia upacara sebenarnya sudah menunjuk Agus sebagai pemimpin upacara. Namun, atas usulan Pak Sobri mereka akhirnya sepakat mengusung Bayu sebagai pemimpin upacara. Kesepakatan itu mereka rahasiakan sampai kegiatan upacara dilaksanakan.
Setelah dirayu-rayu, Bayu dengan berat hati akhirnya menerima penunjukan itu. Dengan mengerahkan segala kekuatan ia kemudian mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk tampil di muka umum.
Sudah bisa diduga. Mantan ketua senat itu memang mempunyai leadership yang bagus. Sebagai pemimpin upacara, Bayu menampilkan performa maksimal. Layaknya komandan militer dia berhasil menyihir peserta upacara dengan suaranya yang maskulin. Upacara bendera berlangsung dengan khidmat.
Marina sangat gembira. Ia tidak menyangka, kekasihnya tampak gagah ketika sedang bertugas. Selama ini, ia tidak tahu kalau Bayu memiliki bakat kepemimpinan yang bagus.
Selesai upacara semua peserta saling bersalaman dan kembali ke tendanya masing-masing. Fadri dan Marina termasuk diantaranya.
Petugas upacara belum diperbolehkan untuk balik ke tenda. Oleh tim dokumenter, para petugas itu direkam dan diwawancarai. Bayu termasuk orang yang di wawancarai. Ia membuat sebuah testimoni.
Selesai acara perekaman, ia bercakap-cakap dengan Pak Sobri dan Hilman.
“Tak kusangka kamu mempunyai bakat kemiliteran. Suaramu mirip komandan militer ketimbang seorang pendaki dari kalangan sipil.”
“Bayu dulu adalah ketua senat. Waktu kampanye dia berpidato dengan gaya yang berapi-api. Mirip Bung Karno dan Bung Tomo,” kata Hilman
Bayu sedikit tersipu.
“Kamu jangan membesar-besarkan, Man!” kata Bayu sedikit malu.
“Tapi itu fakta! Kamu sebenarnya cocok masuk militer. Badan kamu proporsional. Kenapa dulu tidak masuk militer saja?” tanya Pak Sobri serius.
“Saya dulu punya pemikiran lain, Pak.”
“Maksud kamu?” tanya Pak Sobri tidak mengerti.
“Dulu, dia paling benci pada tentara” ujar Hilman.
“Kenapa?”
Bayu menggaruk-garuk kepalanya.
“Dulu saya menganggap tentara adalah kaki tangan Pak Harto,” jawab Bayu jujur.
Pak Sobri kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Hilman.
“Jadi dia dulu anti orde baru?”
“Tepat sekali,” kata Hilman sambil melirik Bayu yang terlihat cengegesan.
“Kira-kira setelah orde baru runtuh bagaimana rasanya? Apakah kita mengalami perubahan?” tanya Pak Sobri
“Tidak beda jauh. Korupsi makin menjadi. Kolusi tidak berhenti. Nepotisme menjadi makanan sehari-hari,” jawab Bayu.
“Saya bukannya membela Suharto. Tetapi jika kita mau jujur, reformasi tidak pernah membuat Indonesia berubah. Reformasi hanya mengganti kekuasaan. Karakter kekuasaan tetap sama dari masa ke masa. Suharto adalah orang hebat. Demikian juga dengan Sukarno. Sayang, kekuasaan yang terlalu lama membuat keduanya menjadi berubah. Kita tidak usah menyalahkan mereka karena keduanya sudah menerima karma.”
“Bapak benar.” Bayu mengangguk setuju.
“Saya selalu berpesan kepada generasi muda seperti kalian. Pemerintah tidak identik dengan bangsa. Pemerintah bisa jatuh sementara bangsa akan terus ada selamanya. Kalau kita tidak mau berjuang demi pemerintah paling tidak kita mau berjuang demi bangsa. Dengan cara itu kita bisa terus berjuang walau rezimnya berganti-ganti.
Bayu mendengar nasehat-nasehat Pak Sobri dengan penuh perhatian. Apa yang dikatakan oleh petugas TNBTS itu ada benarnya. Sebagai generasi muda ia harus terus berjuang demi kejayaan bangsa. Generasi muda seperti dirinya wajib menggali potensi diri tanpa harus mempunyai perasaan benci pada rezim atau sistem pemerintahan. Jatuhnya dua kepemimpinan baik di era Sukarno maupun Suharto sudah cukup membuktikan bahwa politik tidak abadi. Kekuasaan silih berganti.
Bayu merasa beruntung. Pada masa mudanya ia tidak terjerumus dalam pertentangan politik. Walaupun ia tidak pernah absen di setiap aksi unjuk rasa, Bayu tetap memposisikan diri sebagai seorang partisipan. Ketika masih aktif menjadi ketua senat, ia bahkan didekati fungsionaris partai. Ia pernah ditawari jabatan di kepartaian dengan kontrak-kontrak politik tertentu. Dengan tegas ia menolak. Meskipun menyukai politik, Bayu tetap pada idealismenya untuk berjuang di luar jalur kepartaian.
Sayang, tragedi salah tangkap dan peristiwa kehilangan kekasih telah membuat dirinya sedikit apatis. Ia merasa trauma sekaligus kecewa.
Pak Sobri orangnya memang menyenangkan. Selain bercanda petugas TNBTS itu ternyata juga bisa diajak serius. Dalam bidang politik, pengetahuan orang itu sangat luas.
Entah kenapa...Bayu kembali teringat pada Dian.
***
Jam 10 siang, Pak Tumari tiba di Ranukumbolo. Dia datang bersama dua rekannya. Begitu tiba, porter itu langsung disuruh oleh Hilman untuk mengepak semua barang-barang mereka ke dalam tas carrier. Dengan sigap, Pak Tumari dan kedua rekannya langsung mengeluarkan isi tenda dan membongkarnya. Mereka dibantu oleh Fadri dan Bayu. Hilman dan Marina mempunyai kesibukan lain. Keduanya sibuk menyiapkan makan siang.
Sejam kemudian semua barang kecuali peralatan makan telah dimasukkan. Mereka kemudian duduk melingkar dan menghabiskan makan siang. Setelah makan siang mereka kembali berbagi tugas. Pak Tumari dan kedua rekannya mengumpulkan sampah sementara yang lain membersihkan peralatan makan dan mengepaknya.
Jam 12 tepat mereka telah bersiap. Setelah berpamitan pada Pak Sobri dan Agus, Hilman mengajak rombongan itu untuk meninggalkan Ranukumbolo.
Marina memandangi Ranukumbolo.
“Sayang sekali. Kita harus meninggalkan tempat ini. Padahal...tempat ini sangat indah dan damai.”
“Kamu mau tinggal?” tanya Fadri pura-pura serius.
“Ya enggak, lah,” kata Marina sambil melangkahkan kaki.
“Kalau kamu mau, nanti kubuatkan rumah kayu di seberang danau.”
“Ogah.”
Bayu menghampiri Fadri yang sedang berteriak kepada Marina.
“Ayo berangkat!” ujarnya.
“Aku kok sepertinya malas.” Fadri menyeret kakinya pelan.
“Kamu mau tinggal di sini?”