Kabut Tengger

Praboe Mas Publisher
Chapter #10

Bab X Sumbermani

Pagi hari Hilman mengumpulkan semua tim pencari di Kalimati. Mereka kemudian di briefing sebelum memulai pencarian. Tim yang berjumlah 40 orang itu dibagi menjadi dua tim. Sepuluh tim ditugaskan untuk menyisir wilayah 1. Mereka disebut sebagai Tim Satu. Lainnya diberi tugas wilayah 2. Mereka disebut sebagai Tim Dua. Batas waktu penyisiran diputuskan hingga jam 5 sore.

Setelah briefing selesai, masing-masing tim berpencar dan memulai pencarian. Tim Satu dipimpin oleh salah satu petugas TNBTS sementara Tim Dua dipimpin oleh Rido. Bayu yang bergabung dengan Tim Dua kemudian mengikuti pencarian dengan titik awal Sumbermani.

Area pencarian di wilayah Sumbermani memiliki medan yang lumayan berat. Banyak ceruk-ceruk kecil di sepanjang jalur pencarian. Ceruk-ceruk itu sangat berbahaya jika tim pencari tidak hati-hati. Rido memerintahkan tim pencari untuk fokus pada jejak dan tinggalan survivor di sepanjang jalur. Lima orang sebagai tim pionir kemudian membuka jalur dan berjalan paling depan. Tim yang terdiri dari petugas TNBTS dan penduduk lokal itu menggunakan parang untuk membuka jalur penyisiran. Jam 12 siang tim pioneer menemukan jejak mencurigakan. Di sebuah lembah mereka menemukan ranting-ranting patah dan jejak kaki. Karena hari sudah beranjak siang dan mereka merasa kelelahan, Rido akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Mereka kemudian membuka perbekalan.

Untungnya Hilman sudah menyiapkan semua perlengkapan memasak sejak dari Ranupani. Ketika hendak berangkat, Hilman menyuruh Pak Tumari membawa panci besar. Panci besar itu ternyata ada gunanya. Mereka menggunakan panci besar itu untuk memasak nasi dalam jumlah banyak. Nasi-nasi yang sudak masak kemudian dibawa oleh tim pencari. Di lapangan, tim pencari cukup memasak sarden atau kornet sehingga bisa menghemat air.

Bayu meluruskan kakinya. Ia tampak lelah. Wajahnya bermandikan peluh.

Rido membuka perbekalannya.

“Nggak makan, Mas?”

“Aku tidak selera makan.”

“Mas Bayu harus makan agar tidak sakit.”

“Iya...sih. Tetapi sumpah aku sedang tidak berselera. Mungkin nanti di Kalimati aku akan makan.”

“Kalau begitu makan biskuit ini saja,” kata Rido sambil menawarkan sebungkus biskuit. ”Lumayan untuk tambah tenaga. Daripada perut kosong. Bisa masuk angin.”

Dengan rasa malas Bayu mengambil biskuit itu dan memakannya. Walau biskuit itu terasa manis, ia justru mengira rasanya sangat pahit. Takut masuk angin, ia kemudian memaksa biskuit itu agar masuk ke dalam perutnya.

Jam 1 siang tim pencari memulai penyisiran lagi. Mereka kini memusatkan perhatiannya di daerah yang sebelumnya dicurigai. Bayu ikut menyisir di tempat itu dan melihat sebuah jejak kaki.

“Jalur ini tidak pernah dilalui oleh pendaki. Tidak mustahil ini adalah jejak survivor,” kata salah satu tim pioner yang juga petugas TNBTS.

Mereka kembali mengamati jejak itu. Dari ukurannya jejak itu cukup besar untuk kaki seorang wanita.

“Tetapi jejak ini terlalu besar dan dalam,” kata Rido sangsi. ”Jejak ini lebih mirip jejak seorang pria ketimbang wanita.”

“Kalau bukan jejak survivor lantas jejak siapa?” tanya petugas TNBTS itu.

“Kira-kira dalam setahun ini ada nggak pendaki yang pernah hilang di daerah ini?”

Petugas itu mencoba mengingat-ingat.

“Seingatku tidak ada pendaki yang hilang di tempat ini. Kalau kejadian hilang di blank 75 memang pernah ada.”

Bayu sependapat dengan Rido. Medina memiliki kaki yang lumayan kecil. Dia bahkan ingat ketika dulu membelikannya sepatu. Bayu salah ukuran sehingga sepatu yang dibelinya kebesaran. Bayu iseng-iseng menapakkan sepatunya di jejak itu. Dia sedikit kaget karena ukuran jejak itu sangat pas dengan ukuran sepatunya. Bayu kemudian mencoba membuat jejak di sampingnya dan ternyata sangat mirip.

“Kenapa Mas?” tanya Rido

Enggak...tidak ada apa-apa,” kata Bayu. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.

Mereka kemudian meneliti ranting-ranting patah yang berserakan di tempat itu. Dari tata letaknya ranting-ranting itu cukup teratur. Kecurigaan itu semakin kentara dengan area sekitar yang lumayan bersih.

Siang itu mereka melakukan penyisiran di kawasan itu untuk mencari jejak-jejak lain yang mencurigakan. Sampai sore hari jejak-jejak lain belum ditemukan. Jam setengah lima sore, tim pioneer sudah kembali. Mereka melaporkan jejak mencurigakan di sekitar jurang. Karena hari sudah mulai gelap Tim Dua memutuskan berhenti. Mereka kemudian kembali ke Kalimati untuk mengatur strategi.

***

Malam hari mereka mendapatkan bantuan personil. 50 personil tiba di Kalimati untuk ikut dalam misi pencarian. Di antara mereka ikut serta tiga pendaki asal Jogja yang bertemu dengan Hilman di Ranupani. Mereka adalah Irfan, Danu dan Damar.

“Kupikir kalian sudah balik,” kata Hilman dengan perasaan senang.

“Turun dari Semeru kami melanjutkan pendakian ke Gunung Arjuno. Dari Arjuno kami mendengar kabar SAR dari teman-teman Mapala di Malang. Kami akhirnya memutuskan untuk bergabung,” kata Irfan.

“Kudengar survivor terakhir terlihat di Sumbermani” kata Danu.

“Benar,” ujar Hilman.

Danu memandangi dua rekannya satu-persatu.

“Aku bilang apa. Ada yang aneh di Sumbermani.”

“Tetapi jejak yang kita temukan bukan milik Harimau Jawa. Binatang itu sudah punah. Kalau macan kumbang mungkin iya tetapi hewan itu tidak terlalu berani kepada manusia,” kata Irfan.

“Bukan itu maksudku.”

“Lantas.”

“Maksudku bukan harimau beneran.”

“Kalau bukan harimau beneran terus apa?” tanya Damar.

“Harimau jadi-jadian”

Irfan mendengus.

“Kamu makin aneh saja. Mana ada makhluk jadi-jadian di tempat ini.”

Tiba-tiba dari arah belakang, Pak Tumari menyahut.

“Kami memanggilnya, Simbah....”

Para pendaki yang duduk-duduk di depan api unggun sontak menoleh ke belakang.

“Simbah itu siapa, Pak?” tanya Danu

“Simbah adalah penunggu gunung ini. Dia Harimau Jawa terakhir di Pegunungan Tengger. Menurut orang-orang tua, Simbah terakhir terlihat di kawasan Kalimati ini”

“Tahun berapa itu, Pak?” tanya Irfan.

“Kalau tidak salah tahun 1945.”

“Wah sudah lama sekali.” Irfan semakin tertarik.

“Memang sudah sangat lama namun bukan berarti Simbah sudah tiada. Walau jasadnya sudah hancur rohnya tetap bergentayangan di gunung ini. Tidak semua orang bisa melihat keberadaannya. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya.”

“Kenapa bisa begitu, Pak?”tanya Irfan lagi.

“Karena Simbah bukanlah harimau biasa. Sebagai satu-satunya penguasa hutan di kawasan ini, Simbah adalah simbol penjaga hutan dan keseimbangan alam. Ketika makhluk seperti Simbah diburu maka alam menjadi tidak seimbang.”

“Saya tidak mengerti, Pak,” ujar Damar.

Seorang petugas TNBTS yang duduk di samping Pak Tumari kemudian menjelaskan maksud kata-kata orang tua itu.

“Maksud Pak Tumari adalah, bahwa alam manusia dan alam hewan sama-sama memiliki penguasa. Selama penguasa di masing-masing alam itu ada maka dunia akan seimbang. Artinya baik manusia maupun hewan bisa berbagi kehidupan dan rezeki di bumi ini. Ketika salah satu penguasa tiada maka penguasa lain tidak lagi berfungsi sebagai penjaga keseimbangan. Yang tersisa darinya adalah simbol nafsu dan keserakahan yang menjadi awal hancurnya kehidupan damai di bumi.”

“Tetapi apa mungkin jejak yang saya lihat itu adalah milik Simbah, Pak?” tanya Danu

“Bisa iya, bisa tidak.”

***

Hari kedua pencarian.

Hilman membagi Tim Dua menjadi dua bagian. Tim 2A yang berjumlah 30 orang diberi tugas melakukan penyisiran dengan target bertemu dengan tim di wilayah tiga yang start dari kawasan Poncokusumo. Tim ini dipimpin oleh Irfan dari Jogja. Sementara itu Tim 2B ditambah 10 personil ditugaskan untuk memusatkan pencarian di sekitar Sumbermani. Tim 1 bertambah personil 10 orang. Mereka ditugaskan untuk menyisir daerah Cemorokandang.

Bayu masih tergabung dengan Tim 2B yang dipimpin oleh Rido. Tim ini melanjutkan penyisiran kemarin dengan menjelajahi area jurang. Di tempat itu mereka menemukan bekas perapian.

Lihat selengkapnya