Kaerumichi

Panji Pratama
Chapter #2

Bab 1 - Suicidal Tendencies

Kami bertemu 20 tahun lalu. Aku juga kurang percaya dengan apa yang ada di genggamanku sekarang. Hati dan ingatanku sudah sebegitu lupa, sampai saat itu. Walaupun hanya sepucuk surat, kini aku mulai bisa mengingat kepingan-kepingan kenangan itu. Tentang waktu-waktuku di tempat itu, bersama seorang anak kampung yang hangat.

***

 

Ancol Mansion, Akhir September 2019

 

Panasnya gila, minta ampun. Padahal, penyiar ramalan cuaca di teve, sore kemarin bilang; suhu bisa saja jadi turun, akibat hujan besar semalaman. Yang ada, udara serasa berat dan lembab. Dulu kata orang, suhu seperti ini, tandanya mau datang hujan lebat. Nyatanya, sudah sampai jam setengah dua begini; gerimis pun sama sekali tidak turun.

Cuaca seperti ini, bukan lagi hal aneh di Kota Jakarta. Minimnya ruang terbuka hijau dan kurangnya cadangan pohon, sebagai filter polusi udara, menjadi sedikit dari jutaan alasan perubahan iklim ekstrem. Bukan salah para ahli BMKG meramal. Akhir-akhir ini, keadaan cuaca, bahkan siklus musim pun, sudah tidak lagi bisa diperkirakan. Malah, akhir September ini, langit masih belum mau membasuh kekeringan bumi.

Para ahli geofisika pernah berujar, “Kacaunya cuaca, degradasinya musim, dan labilnya alam disebabkan oleh efek rumah kaca”. Efek rumah kaca itu, katanya, akibat kadar gas buangan mesin-mesin dan kendaraan mengotori udara. Semakin lama, kadar zat negatif BPO[1] semakin tinggi, sehingga merusak ozon. Di lain sisi, hutan yang bertindak sebagai penetralisir udara kotor, seiring waktu semakin habis dibabat. Rusaknya ozon, membuat es abadi di lautan Antatika mencair dan arah angin berubah-ubah.

Apartemen lantai 22, di kawasan elit Ancol. Seorang wanita cantik duduk-duduk di tepian beranda. Telinga Ismi, begitu biasa dia dipanggil, serasa dibaluri balsam saja. Angin yang menampar-nampar wajahnya, seumpama berasal dari oven. Tubuhnya jadi penuh peluh. Padahal, kemarin siang, dia sudah pergi ke sauna, di sebuah salon eklusif bagi para member khusus eksekutif muda. Tetapi, keadaan di dalam sauna, dirasa lebih menyenangkan dibanding pelataran apartemen pribadinya sekarang. Agak sulit sepertinya, untuk duduk dengan nyaman. Apalagi, suasana hatinya, persis cuaca malam itu di ujung Jakarta.

Hati dan pikirannya sepakat untuk gusar. Tapi, koalisi kegusaran itu tidak pernah bisa bertemu di satu titik. Pernah suatu ketika, hatinya begitu mengeluh dengan kehidupan zaman milenium ini; bagaimana sikap masyarakat kota besar yang acuh, kejahatan di segala bidang, pun alam yang sering mengamuk. Namun, pikirnya; tak perlulah ia mengomentari keadaan itu. Hidupnya sudah terlalu rumit dengan semua permasalahan yang datang silih berganti. Meskipun ia sadar juga, pikirannya jadi rumit gara-gara terlalu memikirkan ketidakpedulian dirinya terhadap ketidakpedulian masyarakat kebanyakan. Jadi sebetulnya, walaupun hati dan pikirannya sering bekerja sama untuk resah, tidak pernah sekalipun, ia bisa mendamaikan perbedaan persepsi antara hati dan pikirannya itu sendiri.

Dagu perempuan berwajah oval itu terus-terusan tergelincir dari lututnya. Kedua tangannya yang halus terawat, menopang berat badannya ke belakang. Jemari kirinya dikepalkan, sambil terselip sepucuk kertas. Helaian-helaian kertas lain, banyak juga berserakan. Sebagian lain, meliuk-liuk di dalam kamar terbawa angin panas pancaroba.

Kedua matanya, ia tatapkan ke langit pekat yang tanpa hiasan rasi bintang. Sampai-sampai, ia tidak menyadari kawasan sekitar apartemen, sebetulnya tampak ceria. Dua panggung besar sedang ramai dikerubungi orang-orang yang menghabiskan malam summer party di pantai Ancol.

Ia gelisah bukan tanpa alasan. Pria yang tinggal bersama selama setahun ini, mencampakkannya tiga minggu lalu. Lelaki itu, pengusaha ritel asal Singapura. Seolah kumbang Janti di bunga melati; serangga elok yang kabur seusai menghisap madu. Mimpi buruk itu terjadi, di hari ulang tahunnya. Tepat di usia 32. Foto-foto sang kekasih yang mencumbui staf pribadinya, ditemukan di ponsel milik sang mantan kekasih. Berita itu menjadi kado terburuk selama hidup Ismi.

Lihat selengkapnya