Kaerumichi

Panji Pratama
Chapter #3

Bab 2 - A Long Journey

Tol Ciawi, Awal November 2019

 

Perempuan ketika tidur adalah sosok sebenar-benarnya. Sejujurnya, begitu kata orang tua dahulu. Tanpa topeng kosmetik, tanpa keragu-raguan dalam melepas senyum di wajah, tanpa kehendak yang kuat untuk berbelanja, dan tanpa embel-embel emansipasi hak asasi. Polos. Ia seperti kembali pada kodratnya: cantik, lembut, bersahaja, dan kesepian. Begitupun Ismi, yang tampak segar, seperti jejukut di musim semi. Perempuan ketika tidur akan selalu dirindukan. Oleh setiap pangeran, yang ingin melancong ke dalam hatinya, lalu mengobati segala kesulitan hidupnya.

***

 

Dari spion mobil, sang sopir terus menatap wajah menakjubkan itu. Sayang, beberapa kali kedua alis yang hampir tertutup poni itu, mengeryit-ngernyit. Ada beban berat di benak gadis itu; sang sopir begitu yakin dengan hal itu. Tapi sungguh wajah gadis yang ditatap si pelayan setia, mengingatkan pengemudi itu pada sosok ibu majikannya. Dahulu.

Tidak ada suara-suara yang melankolis yang mengiringi perjalanannya. Meskipun lagu-lagu bernuansa lembut diperdengarkan di telinganya. Lagu itu tak cukup menyentuh hati Ismi. Kegundahan tidak bisa diterjemahkan oleh nada ataupun kata. Kegundahan yang berat hanya terobati oleh pucuk rindu. Seperti cahaya-cahaya lampu dari gedung-gedung tinggi yang kesepian di sesaknya Jakarta. Begitu pun ia; gundah dalam temaram.

Honda City melaju dengan tanpa hambatan. Sorot lampu dari kedua sisi depan, seolah membelah jalanan di keheningan malam. Jarum speedometer konsisten di angka 60 km per jam. Jika Bogor tidak macet, sedan berdestinasi Sukabumi ini, dapat sampai dalam hitungan tiga jam. Sang sopir menilik arlojinya sambil terus fokus di jalur tol Tanjung Priok-Bogor. Sudah pukul 03.21 pagi, waktu yang nyaman untuk terlelap. Tidak terkecuali Ismi, yang tidur dengan mendekap erat komputer tabletnya. Disandarkan bahunya ke kaca jendela. Dengan mata masih tertutup, dia betulkan jaket cardigans yang menutup kedua paha.

Dua jam lalu, handphone Agus, sang sopir pribadi, berdering berkali-kali percis seusai mencuci mobil. Baru saja mobil Honda City merah milik majikannya itu hendak dikandangkan, Agus harus menambah jam lembur untuk kembali duduk di belakang stir. Agus mengurungkan membuka garasi. Majikan yang sudah diikutinya sejak masih balita itu, memohon dengan tergesa.

“Mang Agus! Mang Agus jangan dulu istirahat ya? Emh Ano[1], Antarkan saya ke Sukabumi, ne[2]!.” Pinta Non Ismi, begitu dipanggilnya sejak kecil.

“Iya Non!” Tanpa banyak pertimbangan, Agus langsung bersiap kembali.

Tidak nampak sedikit pun rasa kecewa di mimik Agus. Pria enam puluh tahun itu tahu benar karakter majikannya. Begitupun malam itu; Agus tahu majikan mudanya sedang galau. Seperti pesan almarhum nyonya dahulu, saat menitipkan anaknya kepada Agus. Ismi adalah gadis yang keras, tetapi dalam hatinya dia terlalu rapuh dan masih butuh bimbingan seseorang yang dewasa. Hanya kepada Agus, ibunda Ismi percaya. Pria itu telah 35 tahun lebih mengabdikan diri di keluarga Shinjiru. Itulah mengapa sang bunda menganggap Agus sebagai bagian dari keluarga mereka.

“Bangun Non? AC-nya kegedean ya Non?” Tanya Agus dari pantulan spion tengah.

Ismi membuka mata dengan jemari mengelus sebelah mata.

“Nyampe mana ini, Mang?”

Ismi menguap kecil. Jemari kanannya mencari-cari kopi instan dalam kemasan botol dari kantong plastik yang tadi dibelinya dari minimarket. Bibirnya tidak langsung menyeruput cairan hitam kecoklatan itu. Sesekali dia dekatkan botol itu ke dekat lampu untuk melihat tanggal kadaluarsanya. Matanya menyipit, mengangguk kecil, lalu menghela nafas sambil membenamkan punggungnya.

Agus sedikit melirik. Dia tahu benar, seperti biasanya sifat Ismi sangat hati-hati dan selalu ingin terlihat sempurna. Akan tetapi, anak gadis itu kini sudah dewasa. Dan, Agus paham benar ada sesuatu dengan sang Nona yang berbeda dari biasanya.

“Setengah jam-an lagi nyampe Ciawi, Non!”

Ismi tidak melanjutkan perbincangan. Mulutnya terkatup sementara ujung botol masih menempel dengan cairan yang melumer di bibir. Pandangannya membias ke luar jendela mobil hingga menembus kegelapan langit. Terang lampu tepi jalan tol menuju Bogor tidak ikut menerangi hatinya yang kemayu.

“Dua puluh tahunan lalu, Non juga pernah ke Sukabumi kan? Sudah lama ya?”

Lihat selengkapnya