Sukabumi, Oktober 1999
“Okachan, koko wa dokodesuka?[1]”
“Kore wa chiisai toki ni okachan no ie no kaeru michi desu![2]”
“Kok, tidak pakai mobil otousan?”
“Sebentar lagi kita sampai. Sabar ya. Mang Agus sedang mengurus chichi di rumah sakit,” Sulis menghela nafas berat.
Wanita itu masih cukup muda, baru 34 tahun. Tidak suka bersolek. Tidak juga memakai emas berlebih. Itulah yang membuat majikannya jatuh hati padanya dulu. Kesederhanaan.
Hingga pernikahan dua latar belakang berbeda itu terjadi. Koki Jepang yang melajang hingga usia 47, menyunting seorang cinderella pribumi yang masih belia. Kini, enam belas tahun berselang. Tanaka harus kembali ke Jepang. Penyakit Tanaka kian parah. Rumah sakit di Jakarta belum bisa mengobati pasien Peripheral Arterial Deasease[3]. Penyakit yang menyerang pembuluh darah ke otak, seperti yang dialami Tanaka.
Sejak Soeharto mundur beberapa tahun lalu, Tanaka ikut-ikutan merasa hancur. Kesehatannya, entah mengapa, seperti terkena virus latah. Tanaka mulai bolak-balik rumah sakit. Tanaka tidak pernah mengatakan pikiran apa yang mengganggunya hingga memicu berbagai penyakit. Tanaka hanya pernah bilang pada sang istri bahwa restoran Jepang yang dibangunnya dengan keringat dan darah itu akan ikut kolaps seiring bencana moneter di Indonesia.
Tidak ada jalan lain bagi Sulis untuk mengambil keputusan. Mantan pelayan restoran itu berinisiatif pergi untuk menitipkan puteri semata wayangnya ke Cileungsir. Sebuah kampung kecil di kaki Gunung Salak. Di sanalah, Siti Sulistiawati lahir. Perempuan ini merantau ke Jakarta, setamat SMA, sebulan setelah Galunggung meletus pada tahun 1982. Kini, dia kembali pulang bersama Ismi, anaknya.
Bus Jakarta – Sukabumi telah tuntas mengantarkan keduanya di terminal transit. Sulis bergegas menggandeng puterinya menuju toilet umum. Dia berpesan agar Ismi tidak terlalu lama di sana karena kendaraan umum menuju Cileungsir akan segera berangkat dari terminal Parungkuda.
“Ismi mau tidak mau harus dititip Emak di desa. Atashi harus ikut ke Jepang dengan otousan.” Ujar Sulis pada Tanaka yang terbaring lemah beberapa minggu lalu.
Tanaka melepas selang oksigennya. Mulutnya berkeras melafalkan kata.
“Demo. Okaasan..[4]”
“Onegai..[5].” Sulis mengembalikan tangkup oksigen itu pada mulut suaminya. Tanaka rebah. Kedua matanya menatap pria di belakang sang istri.
“Mang Agus. Besok urus surat-surat kepindahan sekolah Ismi ya? Kalau sudah selesai, segera bikin kelengkapan untuk paspor. Bapak pergi sama Mang Agus dulu ke Jepang. Di sana, sudah ada saudara Bapak yang akan menjemput. Usahakan Bapak dapat fasilitas pengobatannya dengan baik. Biar Ibu yang membawa Ismi ke kampung.”
“Siap, Bu.” Seru Mang Agus dengan anggukan tegas.
***
Awan membentang panjang. Lukisan putih di luar jendela itu terlihat kenyal. Ismi mendongak dari jendela penumpang mobil L-300. Angkutan desa ini beroperasi hanya empat armada saja. Awal tahun 1995 lalu, angkutan penghubung desa Kabandungan-Parungkuda ini masih tiga buah. Baru Agustus 1999 kemarin, Juragan Djaebandi, bos angdes[6] trayek ini, menambah satu armada lagi. Banyaknya warga yang menjual hasil tani ke pasar Parungkuda, menjadi keuntungan bagi Djaebandi, satu-satunya pengusaha angkutan umum pada waktu itu. Namun, tetap saja, keempat armada angkut ini masih terasa kurang. Sesuai jadwal, hanya dua mobil saja yang menarik penumpang untuk satu arah. Sementara dua mobil lain menarik penumpang ke arah berlawanan. Jadinya, penumpang ke Kabandungan, harus menunggu mobil ngetem selama lima jam. Selama itu pula, tidak akan ada lagi mobil lain yang berangkat.
Oktober 1999, penduduk desa masih menaati anjuran pemerintah era baru untuk mengikuti KB. Maka, jumlah rumah penduduk bisa dihitung jari, di sepanjang perjalanan Terminal Parungkuda menuju Desa Kabandungan. Akses pembangunan masih jauh dari gaung Repelita yang pernah akbar selama puluhan tahun. Aspal berlubang di tengah jalan raya membuat kendaraan bermesin 2500 cc ini menghentak-hentak. Kedua sisi per keong berkarat, seakan tak kuasa menahan kargo dalam jumlah besar. Penumpang berjejalan dengan berbagai hasil tani dan ternak yang gagal terjual di pasar. Galon bensin di atas kap menambah kesan ramai. Seperti mobil pawai rakyat. Bertolak belakang dengan jalur sepanjang kanan-kiri jalan yang sepi. Sopir angkot dan warga sepakat kendaraan umum hanya berlaku hingga pukul empat sore. Warisan lokal cerita-cerita seram Gunung Salak, dijadikan alasan keterbatasan ini.
Parungkuda sendiri berjarak 30 KM dari Kota Sukabumi. Sedangkan, jarak Parungkuda hingga ujung jalan aspal Kabandungan mencapai 40 KM. Kanan kiri jalan, masih rimbun dengan pepohonan dari abad lampau. Aura kesejukan melegakan hidung penumpang. Terlebih saat mobil membelah tebing Gunung Salak. Gunung besar ini masih asri, karena kearifan lokal yang menyertainya. Begitupun saat warga Kabandungan dengan sopan meminta perusahaan asing PT. Unocal untuk tidak beroperasi di wilayah mereka. Sayang, keinginan pemerintah saat itu tidak sejalan dengan harapan masyarakat sekitar. Dengan pongah, perusahaan penambang gas bumi ini, menancapkan sauhnya di kilometer 20, kaki gunung Salak.
“Terminal abis!” Teriak kondektur.
Sebetulnya, bukan sebuah terminal. Hanya lapangan parkir dari sebuah bengkel kecil di ujung kampung.