Kaerumichi

Panji Pratama
Chapter #5

Bab 4 - Fragmen Negeri Hijau

Dangau tempat Mak Ebet menghabiskan sisa hidupnya begitu bersahaja. Ukuran bangunannya hanya 5 x 5 m2. Dinding bilik bersepuh apu. Gentengnya dari tanah liat yang sudah berlumut. Kecuali bagian dapur, atapnya masih memakai daun rumbia yang sudah lembab. Beberapa plafon dari triplek, sudah busuk oleh air rembesan hujan. Di ruang depan, terdapat dua tiang pancang dari kayu dowel yang hampir rapuh oleh rayap. Hanya, halaman rumah tertata dengan asri. Dua pohon nangka berdaun rimbun mengapit jalan masuk. Tepat di antara kedua batang pohon itu ada balok kayu untuk duduk-duduk. Pemandangan ke depan langsung terhampar sawah berundak. Belakang rumah langsung menghadap Gunung Salak.

Sudah hampir separuh usia, Mak Ebet tinggal sendirian. Suaminya tutup usia di ulang tahun perak pernikahan mereka. Demikian pula, pada saat Sulis dinikahi di perantauan, hari-harinya menjadi semakin sepi. Mak Ebet tahu, anak semata wayangnya tak mungkin bisa tiap lebaran mengunjunginya. Janda tua itu berharap tiap gigitan kelapa yang ia kunyah, saripatinya sampai ke jiwa anaknya. Baginya, Sulis adalah Dewi Pohaci, yang hadir di tiap mimpi-mimpi petani padi.

“Emak punya anak cantik. Ibu-ibu di kampung ini moal[1] bisa dibandingkan sama Sulis, anak Emak. Cantiknya itu seperti Dewi Sri,” Mak Ebet menyimpan sapu lidinya, lalu berjongkok, “Katanya mah dia juga sudah beranak, pasti cantik juga. Emak juga belum pernah lihat wajah cucu Emak. Tapi kamu pasti bogoh[2] sama cucu Emak.”

Dulu. Tiap sore di rumah, Emak Ebet memang sering bercerita panjang tentang sosok Sulis pada Yuga. Namun sudah tiga bulan ini, bocah tuna wicara itu tidak lagi tinggal bersama Mak Ebet. Meski demikian, remaja tanggung itu tetap mengunjungi Mak Ebet di senja hari. Dia datang untuk sekadar mengirim semangkuk Mie Ayam untuk makan malam janda tak bergaji itu. Tidak ada yang tahu percis, siapa dan keturunan mana anak bisu bernama Yuga itu. Kecuali Mak Ebet. Mak Ebet tahu riwayatnya, tetapi tidak pernah berani berbagi kepada siapapun di dusun.

Pageto[3], dia mau datang sama ibunya ke sini. Minggu kamari, Mang Agus, orang Cileungsir yang kerja sama anak Emak di Jakarta, bilang begitu. Kamu harus ke sini juga buat ketemu dia. Kamu ajak dia main nanti ya, biar dia betah di sini.”

Mak Ebet dipapah untuk berdiri. Badannya dilurus-luruskan. Nenek tua itu menyerahkan korek api pada Yuga. Selanjutnya, bocah lusuh itu yang melanjutkan pembakaran sampah kering yang tadi tidak selesai dikerjakan Mak Ebet.

Maka, baru sore itu Mak Ebet sumringah sekali. Senyum Mak Ebet lebih lebar dari tawa anak kampung yang kegirangan menemukan durian di sungai. Itu karena Mak Ebet bisa mengagulkan kecantikan cucu semata wayangnya kepada warga dusun. Lebih dari itu, mulai lusa pagi, Mak Ebet yakin tidak akan lagi kesepian di gubuk reyotnya. Puteri Sulis yang katanya berwajah sipit itu akan dijadikan ratu di hati Mak Ebet.

***

 

Matahari belum menyala, tapi tungku batu bata di dapur Mak Ebet sudah menyala-nyala. Air dari sumur timba belakang rumah sudah dua kali balikan dibawa ke ember bekas cat di dapur. Bagi wanita yang sudah memutih rambutnya, pekerjaan itu cukup membuat pinggangnya keram.

Dua hari sudah, cucunya menginap di jinem sederhana itu. Apa mau dikata, meski kebahagiaan menyeruak di dada Mak Ebet, namun gadis kota itu belum mau diajak bicara sama sang nenek. Meski begitu, Mak Ebet girang bukan kepalang, hari ini dia berencana mendaftarkan sendiri cucunya ke sekolah SD di ujung kampung.

Selesai bergolak, air di langseng itu dituang ke baskom plastik biru. Mak Ebet terlihat lucu waktu berjingkat-jingkat. Kedua kakinya serupa sedang menari karena kulit-kulit keriput di kakinya terciprat air panas. Selesai ember berisi air panas digusur ke wc belakang, Mak Ebet segera oleskan odol putih ke kulit kakinya yang melepuh.

Embun masih tebal di kaki Gunung Salak. Tapi cericit burung cabai mengabarkan mentari akan muncul. Seluruh persiapan hari besar cucunya Mak Ebet selesaikan sebelum pukul setengah enam pagi.

“Cu, ayo bangun. Ikut nenek daftar sekolah. Ayo mandi. Air hangatnya sudah siap tuh?” Seru Mak Ebet sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar belakang.

Sudah dua malam berselang, sejak Sulis kembali ke Jakarta. Sejak itu pula, Ismi enggan keluar kamar.

Lihat selengkapnya