Star Energy, Sukabumi, 2019
“Arigatou.[1]”
Ismi meraih sepiring penganan ringan yang ditawarkan kepadanya.
Satu cup plastik bening berisi kopi panas juga diambilnya. Kedua sarapan itu diletakkan di samping posisi duduk Ismi. Sementara, pandangannya masih bertaburan ke seluruh pemandangan gunung di depannya.
“Keindahan ini masih sama. Sedap angin. Bebukit hijau. Kicau Burung Gereja. Tapi, ....” Penyataan Ismi tertahan.
Paras ayunya kembali murung. Kedua kakinya dilipat. Dia membiarkan belakang celananya kecokelatan oleh debu tanah.
Tangan mungilnya tidak lagi menyentuh sarapan. Wajahnya ditatapkan ke sebuah pohon yang menempati tempat duduknya. Kemudian, kelima jemarinya ditempelkan pada batang pohon rindang itu.
Pohon itu menjulang sendiri. Percis di tepian tebing. Batangnya sebesar paha gajah dewasa dan dicat warna abu-abu. Dulu, pohon itu belum ada. Mungkin pihak PT, selaku pemilik tanah, sengaja menanam pohon buraksa itu.
“Tapi apa Non?” Ujar Mang Agus pendek.
Mobil Honda City yang dibawa sang sopir semenjak enam jam lalu, diparkir di tengah lapangan yang datar. Tepat di sebuah lingkaran besar dari cat putih. Keempat ban mobil menutupi tulisan huruf ‘H’ besar di bawahnya. Kini, tebing itu telah disulap menjadi landasan helikopter perusahaan. Helipad ini dibuat oleh perusahaan Star Energy[2], sebuah perusahaan penambangan gas alam. Star Energy sendiri mengakuisisi perusahaan Chevron, yang dulu dikenal dengan nama Unocal. Perusahaan ini menjangkarkan mesin tambang mereka hingga hampir menghabiskan separuh Gunung Salak.
Maka, tebing kenangan pertemuan pertama kali Ismi dan Yuga telah termasuk wilayah terbatas perusahaan Star Energy.
“Apa karena kini terlalu banyak perubahan di sini?” Tanya sang sopir.
“Mungkin! Aku ingin tahu bagaimana sikap lelaki itu melihat keadaan ini semua!” ujar Ismi mengeluh, “Sama seperti betapa aku ingin bertemu dengan dirimu segera. Adakah kau mengingatku, duhai Yuga?” Tambahnya setengah berbisik.
***
Dusun Cileungsir, Sukabumi
20 tahun lalu
“Aku mau ikut obaasan ke sekolah besok.” Cetus Ismi seketika itu. Ucapannya masih terbata.
Telah empat hari sudah, Ismi menginjakkan kaki di kampung ibunya. Baru malam itu, Ismi mau berbicara langsung dengan sang nenek. Nenek yang baru dilihatnya semenjak lahir itu tersungging sumringah. Kerutan-kerutan kecil menekuk di kedua bibir Mak Ebet yang kusut.
Sejak empat hari lalu, tiap pagi, wanita renta itu meletakkan sebaki sarapan di depan pintu kamar. Semoga harum telur dadar dan aroma susu hangat menggoda cucu semata wayang.
Percuma. Begitu pun makan siang dan makan malam. Semua masakan nenek, yang baru ditemuinya tiga hari lalu itu, tak pernah disantap. Padahal Mak Ebet susah payah menyiapkannya.
Bagi penduduk kampung, telur dan susu di pagi hari adalah sarapan termewah. Apalagi, Mak Ebet sudah berusia lebih dari delapan windu. Untuk menyalakan tungku saja, Mak Ebet harus menunggu api menyala selama setengah jam. Kayu bakar basah terkadang tidak mempan oleh guyuran minyak tanah. Agar bisa menyalakan tungku, harus pula pintar meniup bara. Dan soal ini, muka Mak Ebet sampai panas terkena kepulan asap dari tungku.
Malam Senin di musim rerintik, seolah malam terbaik bagi hidup Mak Ebet. Gadis jelang baligh itu menyapa dirinya pertama kali. Mak Ebet serasa dihargai sepanjang hayat. Apalagi, dia mau duduk di meja makan bersama. Sungguh, hati kecil Mak Ebet sedang tersenyum bahagia.