“Boleh saya berpendapat Non?” Ujar Mang Agus.
Injakan gas sengaja tidak ditekan terlalu dalam. Mang Agus agak hati-hati dengan jalan tergenang air. Angka speedometer tidak lebih dari 40 km/jam. Jalan dari tebing PT Star Energy ke Desa Kabandungan cukup memakan waktu. Sekitar 15 menit lagi. Apalagi, jalurnya landai dan berkelok-kelok. Ditambah, lebar jalan yang sempit. Biasanya, kontainer PT Star Energy, pembawa material tambang, dibawa via jalur Bogor. Sehingga jalur Kabandungan ini tidak pernah tersentuh pembangunan.
“Menurut saya, perkara Non Ismi yang menjual kafe di Kemang itu bukan keputusan yang tepat.”
Ismi mendongak. Dia tidak mengira kalimat itu keluar dari Mang Agus, sopir pribadinya.
“Saya pikir Non Ismi bisa menggunakan dana cadangan perusahaan di bank. Sambil itu, Non Ismi juga mengumpulkan para pekerja. Kemudian, Non, buka diskusi dengan mereka. Katakan yang sebenarnya. Katakan kondisi perusahaan saat ini. Mereka pasti mengerti. Satu bulan saja, berikan pengertian bagi mereka. Lagi pula, mereka sudah sangat lama mengabdikan diri di perusahaan ayah Non, Pak Tanaka. Mereka pasti tidak akan menolak jika gajinya ditunda sebulan dulu. Bahkan, sebagian dari mereka sudah begitu cinta dengan restoran Jepang Shinjiru’s Ya. Contohnya Mamang, yang sudah mengabdi keluarga Non hampir tiga puluh lima tahun. Mereka pasti rela gajinya dipotong daripada tempat kerja mereka selama ini bangkrut.” Lanjut Mang Agus, sambil tetap fokus mengarahkan setir.
Apa yang diungkapkan Mang Agus membuat Ismi tercenung. Ismi meminta Mang Agus melanjutkan pembicaraannya.
“Mohon maaf ya Non. Saya juga berharap Non tidak menempatkan diri sebagai penguasa perusahaan. Karyawan sudah menganggap Ibu dan Bapak Tanaka sebagai keluarga mereka. Sikap tertutup Non terhadap karyawan dapat memunculkan gep di antara mereka. Hal itu pula yang harus Non Ismi lakukan untuk perusahaan. Membuka kesempatan bagi orang lain untuk menanamkan sahamnya di perusahaan Shinjiru’s Ya. Termasuk para karyawan sendiri. Sehingga saat perusahaan butuh dana segar, pemegang saham dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut.”
Ungkapan Mang Agus adalah apa yang para ahli teori manajemen sebut sebagai seni memimpin egalisasi. Konsep-konsep keterbukaan Mang Agus pun memang sudah layak diterapkan di perusahaan restoran. Menambahkan singkatan “tbk.” di belakang nama restoran Shinjiru’s Ya. Hal ini pula yang pernah Ismi dapatkan ketika jauh-jauh kuliah ke luar negeri. Teori Brand New Image ini justru terungkap oleh celoteh ringan sang sopir pribadi.
“Menu-menu restoran juga seharusnya sudah mulai dicari yang baru. Supaya....,” perkataan Mang Agus terpotong.
“Mang Agus itu hanya lulusan SMP, kan?” Bisik Ismi dalam hati.