Bel istirahat dibunyikan. Sebetulnya bukan berbentuk bel. Awal caturwulan lalu, ibu guru meminta velg bekas dari bengkel terminal untuk digantung di depan kelas. Permintaan itu diamini sang montir yang kebetulan anaknya bersekolah di sana. Ide Bu guru berhasil. Bunyi dentingan batu yang beradu dengan besi padat velg terdengar nyaring.
Ismi lebih cepat keluar kelas dibanding anak-anak lain. Rasa bosannya membuat waktu seakan berjalan dua kali lipat lebih lambat dari kehidupannya di kota. Gadis kecil itu duduk di bangku papan dekat pagar belakang sekolah.
“Mau apa kau?” Sergah Ismi kecil.
Yuga kaget. Bocah kampung yang sejak tadi mengikuti Ismi itu, terlihat kikuk. Kedua lengannya disembunyikan ke arah belakang. Dia mendekat hati-hati. Seolah ada benda panas di belakang punggungnya.
Sebuah mangkuk disodorkan pada si gadis cantik. Semangkuk mie dengan rupa-rupa garnis di atasnya. Ismi menerimanya, meski alisnya ditekuk tanda heran.
Kedua tangannya lalu bergerak meliuk-liuk. Yuga, si bisu, berusaha mengomunikasikan maksudnya.
“[Ini mie rame yang pernah kamu inginkan itu. Saya dengar dari nenekmu kemarin dulu. Saya bawakan semangkuk dari tempat kerja saya.]”
“Mau ngomong apa sih kamu?” Spontan Ismi.
“Kata Yuga. Dia teh pernah dengar kamu nyah mau mie rame. Jadi, Yuga bawain dari tukang mie ayam tempat dia kerja.” Ucap suara bocah perempuan lain. Dia jongkok di belakang Ismi memunguti kerikil-kerikil untuk pot kelas. Siti, namanya.
Ismi berdiri. Gerakannya cepat. Mangkuknya diserahkan kembali pada Yuga dengan kasar. Karena kaget terciprat kuah yang masih hangat dan tidak bisa menguasai langkahnya saat didorong paksa, Yuga terantuk jatuh.
“Prakkk!”
Ketiga bocah itu terkesima. Ismi tidak mau merasa bersalah. Anak kota itu mendekat kepada Yuga yang masih terduduk di tanah. Bukannya menolong, wajah Ismi dibuat sangar. Ismi meninggikan omongannya.
“Dasar anak idiot. Aku mana mau makan makanan kampung begini.”