Laju mobil berplat B itu tersendat-sendat. Tiga kali batuk, mobil itu kehilangan daya starter, hingga benar-benar mogok. Pengemudi berseragam safari hitam itu keluar dan membuka kap mesin. Cukup lama, dia mengotak-atik selang bensin ke mesin. Melepas lalu meniupinya. Kepalanya nampak menggeleng-geleng. Sejurus itu, dia kembali ke depan stir untuk menyalakan kontak.
“Huff, sepertinya kita kehabisan bahan bakar Non.”
Padahal, dusun Cilengsir hampir sampai. Sekitar tiga kilometer menuju rumah paling depan dekat gerbang masuk dusun. Tapi, di tempat kendaraan itu terhenti, tidak ada satu pun rumah warga terlihat. Kanan-kiri jalan, hanya rimbun pepohonan. Campuran akasia dan pohon karet.
“Biar saya jalan saja,” ujar Ismi sambil membuka pintu, “Sebentar lagi sampai kok. Mang Agus tunggu di mobil saja, nanti saya panggil ojek pangkalan untuk beli bensin eceran dan mengantarkannya ke sini.”
“Tapi, Non. Apa tidak apa-apa. Jalanan ini sepi loh. Lagian sebentar lagi zuhur. Apa Non tidak takut kena terik matahari?”
Ismi tersenyum. Kemudian mengibaskan tangannya. Waktu sepanjang perjalanan sedikit mengubah perilakunya. Kini, Ismi terlihat lebih tenang. Mungkin dewasa.
***
Gelombang radio tua itu digeser ke posisi SW. Awalnya hanya bunyi-bunyian menggerisik. Baru jelas, setelah tuning radio diputar ke arah paling kiri. Saluran berita nasional, RRI. Sejenak kemudian, suara penyiar radio melaporkan berita rencana konser band anak muda Jogjakarta yang sedang naik daun Sheila on Seven di Jakarta.
“Kabar kedatangan salah satu band pendatang baru yang sedang digandrungi semua orang, Sheila on Seven, disambut suka cita warga Jakarta. Musisi asal Jogjakarta ini rencananya akan tampil offair di Jakarta, awal Februari 2000 mendatang,” ujar sang reporter, “kemungkinan konser akbar itu akan dilangsungkan di ....” blink. Radio dengan hanya satu speaker itu kemudian dimatikan.
Ismiatul Solihah berdiri dan merapikan rok merah seragamnya. Ia berjalan keluar kamar yang langsung menghadap jendela kaca ruang tamu. Di luar terlihat Yuga, si bisu, sudah sedia di pagar bambu sambil terus sumringah. Bocah yatim piatu tersebut, kini sudah cukup akrab dengan Ismi. Hal itu terjadi setelah beberapa kali dirinya membawakan mangkuk makan siang berupa mie ayam dengan banyak daging cincang kepada Ismi. Gadis kota itu akhirnya luluh juga, setelah mengetahui betapa sulitnya menyediakan menu itu di desa. Yuga harus mengayuh sepeda sambil sebelah tangan memegang mangkuk mie yang panas. Jarak ke sekolah dari tempat tukang mie ayam biasa mangkal ditempuh sejauh dua kilometer. Pada akhirnya, Ismi pun tertawa dalam hati, ketika spaghetti atau mie ramen yang dulu diinginkan Ismi, ditafsirkan Mie Rame oleh Mak Ebet dan anak kampung itu. Mie yang ramai dengan daging cincang. Ternyata, rasanya enak juga.
“Kamu, nanti antar saya ke pasar Parungkuda ya?” Suruh Ismi pendek.
Yuga segera mengeluarkan kertas dan alat tulis. Tangannya lengket oleh minyak kelapa. Tapi, dia enggan mengelap tangannya ke baju barunya. Beberapa hari ini, Yuga tidak lagi terlihat kucel. Kini, dia tidak lagi pergi ke sekolah dengan bertelanjang dada. Pakaian seragamnya lengkap. Ismi membelikannya di pasar seminggu sekali di dekat kantor desa Kabandungan. Kulitnya agak bersih, tapi kering. Mungkin karena terlalu sering disikat dengan sabun OKA[1]. Hampir tiap subuh dia menghabiskan air di masjid untuk mandi. Rambutnya pun cukup klimis dengan minyak kelapa pemberian Mak Ebet. Anak kampung yang mencoba tampil gaya.
“Mau apa emang?” Tulis Yuga pada secarik kertas.
“Mau cari kaset Sheila on Seven. Aku suka sama band itu. Katanya, mereka mau konser di Jakarta. Kesel, sampai sekarang Mang Agus belum kirim kabar. Dasar sopir bloon, disuruh cepat ke sini, malah aku yang nunggu lama. Katanya mau jemput nonton konser di sana.” Terang Ismi kemudian.
Sudah hampir dua bulan Ismi tinggal di pedalaman Sukabumi. Namun begitu, anak manja ini masih belum sepenuhnya menerima keberadaannya sekarang. Sulis, sang bunda, masih berada di Tokyo menemani suaminya berobat. Kini, keperluan Ismi lebih banyak disediakan oleh Mang Agus dari Jakarta. Si pelayan setia bolak-balik Jakarta-Kabandungan dua minggu sekali. Malam minggu besok, rencananya Mang Agus akan menjemput Ismi untuk memenuhi keinginan sang anak majikan. Ismi merengek tidak ingin melewatkan konser band dengan vokalis bernama Duta itu.
Yuga melongo. Dia tidak paham dengan yang dibicarakan perempuan kecil itu. Yang dirasa Yuga saat ini adalah kebahagiaan tak bertepi. Saat dirinya bisa membawakan tas gadis cantik pujaannya. Begitu harum dan bersih.