Di saat kita bersama
Di waktu kita tertawa menangis merenung oleh cinta
Kucoba hapuskan rasa
Rasa dimana kau melayang jauh dari jiwaku juga mimpiku
Biarlah biarlah hariku dan harimu
Terbelenggu satu lewat ucapan manismu[1]
“Kata nenek, kemarin malam, kau menempuh jarak Parungkuda-Kabandungan dengan berjalan kaki? “ tanya Ismi. Gadis kecil itu serupa mimosa pudica[2]. Perdu liar yang berduri dan melata, namun lekas menguncup saat terkejut.
Ismi terkejut bukan karena merasa bersalah. Gadis yang baru akil baligh ini terkesan dengan perjuangan Yuga saat ditinggalkannya. Di usianya yang belum paham arti cinta, Ismi tidak bisa mengelak dari kesungguhan Yuga yang berkorban demi dirinya.
Sebatang pohon buraksa tumbuh di halaman rumah Mak Ebet. Pohon berakar tunggang itu meneduhi dangau Mak Ebet di petang hari. Dedaun yang rimbun, serupa payung di segala musim. Walau begitu, beringin ini tak menghasilkan. Buah keringnya tak bisa dimakan. Tapi, pohon ini tetap dirindukan. Oleh orang-orang yang berteduh dari sihir senja. Orang-orang yang kebetulan melihat awan merah di langit barat, ditelan senyap.
Seperti Ismi dan Yuga, yang menyimpan kenangan saat matahari terbenam.