Kaerumichi

Panji Pratama
Chapter #11

BAB 10 - [INDAH]

Jauh berbeda ketika dua puluh tahun lalu, sekarang sepanjang jalan menuju Desa Kabandungan sudah banyak rumah-rumah. Terlihat beberapa rumah menggunakan parabola langganan sekadar menandakan warga yang sudah terpengaruh kemajuan zaman. Beberapa anak berkumpul di teras rumah, tetapi lebih fokus melihat ponsel masing-masing.

Meski begitu, udara begitu segar. Berbeda dengan Jakarta, di sini pepohonan masih rimbun di kedua sisi jalan. Keringat Ismi yang menetes karena terik tadi ketika berjalan, seolah aus terbelai angin yang gemerisik. Ismi benar-benar kangen suasana itu. Beberapa kali tarikan nafasnya dihirup panjang-panjang. Perempuan cantik itu seperti terbang.

Sheila On 7 dijadwalkan akan menggelar konser tunggal pada 5 Desember 2019 di Gandaria City Hall dengan mengusung tema "A Night with Sheila On 7". Konser yang dipersembahkan oleh Anomalive Indonesia ini akan lebih intim mendekatkan Sheila On 7 dengan penggemar mereka, Sheilagank. Terkait konser ini, Direktur Utama Anomali Lintas Cakrawala, Ika Arsianti Dewi mengatakan, pihaknya merasa lagu-lagu Eross Candra, Duta dan kawan-kawan ini telah menjadi soundtrack masa remajanya. "Kami merasa tumbuh besar dengan lagu dan lirik milik Sheila On 7, sehingga band ini memiliki tempat tersendiri di hati kami. Kehangatan inilah yang ingin kami bagikan kepada para penonton konser ‘A Night with Sheila On 7,." ujar Ika seperti dilansir Antara, Rabu, 6 November 2019.

Ismi menghentikan langkahnya tiba-tiba, ketika siaran pod cast mengenai Sheila on 7, meluncur dari ponsel melalui kedua lubang headset-nya.

“Yuga?” Ujarnya.

***

 

Sebulan setelah Ismi mempelajari simbol rock, Yuda tidak pernah lagi ditolak saat membawa semangkuk mie spesial buatannya untuk Ismi. Yuda juga semakin sering lagi berkunjung ke rumah Mak Ebet, orang yang sedari kecil merawatnya. Mak Ebet bahagia melihat hubungan baik keduanya. Meski begitu, Mak Ebet masih khawatir dengan kenyataan di balik masa lalu Ismi dan Yuga.

“Kemarin Emak dapat kabar dari ibu guru. Katanya seminggu ini kalian libur sekolah. Besok tanyakan lagi sama Bu guru ya?” Mak Ebet berpesan dengan wajah sendu. Seolah-olah, nenek renta itu merasa harus mengikhlaskan segalanya.

***

 

Senin, 6 Desember 1999

 

Para murid kelas VI SD Impres Cilengsir berkerumun di sudut kelas. Kelas yang dibagi tiga itu penuh sesak oleh bocah-bocah yang penasaran. Mereka membicarakan tentang keberadaan pasar malam di lapangan kantor Kecamatan Kalapanunggal untuk mengisi liburan mereka seminggu ini. Seorang di antara anak lugu itu menjelaskan betapa menyenangkannya hiburan rakyat di sana.

Aya korsel. Seueur lampu. Tukang dagang ge meuni loba. Trus saya teh naek kincir raksasa. Pas di luhur, Kabandungan ge katingali. Uh, hebat![1] jelas anak kampung itu berbusa-busa. Teman-temannya yang juga masih polos seolah terhipnotis dengan cerita itu. Dalam bayangan mereka, kincir itu sebesar gunung Salak. Padahal tinggi komidi putar itu tidak lebih 15 meter dari pangkal tanah.

Lihat selengkapnya