Kaerumichi

Panji Pratama
Chapter #13

Bab 12 - Menjadi Tua Karena Merasa

Sukabumi, 2 September 2005

 

Teruntuk Dewi Ishtarku,

 

Shinjiru, sesungguhnya aku lerak. Saat perempuan lain mendapatkan hadiah terbaik di hari bahagianya. Mereka bangga, saat bibirnya terbakar oleh ciuman. Mereka senang, saat harapnya lahir kembali dengan kado emas dan berlian. Mereka semakin kuat cintanya, ketika hatinya disanjung dengan dunia.

Itsumi, hatiku terluka. Saat pria lain berhasil membawakan kain termahal yang diciptakan manusia. Mereka rela, mempersembahkan semua demi cinta. Mereka hiraukan, setiap rintangan saat mendapatkan senyuman wanita. Mereka sepaham, dan seolah sejiwa dengan para wanita.

Namun, Ismiku. Aku tak bisa memberikan cinta yang istimewa. Aku hanya bisa bersajak walau yang pertama. Tentang peribahasa cinta, antara aku dan belahan jiwa. Kalau pun ada sajak-sajakku yang lain, itu hanyalah engkau.

Ismi, bibir dari mulutku yang bisu. Aku hanyalah rimis syahdu yang sendiri. Jika tidak ada cinta yang sederhana, maka selebihnya untukmu. Maka, dalam kesendirian ini airmataku menjadi-jadi. Hanya air mata rindukulah yang bisa menjadi kado ulang tahunmu dariku.

                         “Rindu itu ibarat hati yang sedang gundah

Tak cukup kalimat dan intonasi untuk diucap

Dariku hanya sebuah gerakan jemari tak berkesudah

Untuk mengisyaratkan cinta yang penuh harap”

Semoga, duhai kekasihku. Kau bahagia di negeri sana, seperti sejuknya perduku dalam tiap perjalananmu. Ikrarku, aku tidak akan menjadi renungan pengakhiranmu. Doaku, untuk tangan sajakku; kau terus dalam ketabahan. Karena aku bukanlah cinta seumur usia; menjadi tua karena merasa.

 

 

Dariku yang sangat mencintaimu,

Yuga, Si Bisu.

 

***

 

Mang Agus membuka pintu belakang dengan cekatan. Ismi berjalan untuk memasukinya, tetapi urung dan berbalik badan. Perempuan itu menahan haru sambil terus melambai ke arah gedung. Siswa-siswa TK yang ceria meneriakan kata perpisahan. Siti, sang guru, berada di tengah-tengah mereka.

Ismi berlari, lalu menyerahkan sejumlah uang kepada Siti.

“Apa ini?”

“Aku ingin melanjutkan kebaikan-kebaikan ibuku. Tolong terimalah. Untuk anak-anak.” Mohon Ismi sambil memeluk Siti dengan erat.

Ismi melepas dekapan Siti dan kembali berjalan dengan sedikit lunglai. Namun dalam hatinya sangat lega.

“Langsung ke kota saja, Mang.” Ajak Ismi sambil melepas nafas dengan getar. Pria tua itu tersenyum.

Kota yang dimaksud adalah Sukabumi. Kota dengan kepadatan penduduk hanya 50 jiwa/Km2. Berbeda dengan Kecamatan Kabandungan, yang merupakan kecamatan ke-47 dari Kabupaten Sukabumi; Kotamadya Sukabumi lebih terjamin penduduknya. Indeks daya beli kotamadya Sukabumi 64.10 dengan IPM 75.33. Sedangkan, Kabupaten Sukabumi, meskipun terus membangun dengan banyaknya perusahaan asing yang menanamkan modal di sana, kondisi masyarakatnya masih jauh dari sejahtera. Salah satu alasan yang muncul di masyarakat adalah karena luasnya daerah kabupaten Sukabumi yang mencapai 419.970 ha.

“Oh iya, Mang Agus. Tadi beli bensin di mana?”

Mang Agus tenang menjelaskan. Padahal awan keringat masih berkumpul di sekitar dahinya. Tanpa dijelaskan Mang Agus, Ismi tahu bahwa Mang Agus penuh perjuangan untuk mendapatkan bensin. Ismi merenung: betapa jarang ia syukuri kebaikan-kebaikan orang-orang terdekatnya.

Lihat selengkapnya